Seks saat menstruasi bukan cuma soal 'berantakan', ini manfaat dan risikonya menurut dokter
Risiko kehamilan dan infeksi menular seksual (IMS) perlu diwaspadai meski ada sederet manfaat bagi tubuh.
Berhubungan intim dengan pasangan mungkin menjadi hal terakhir yang terpikirkan oleh perempuan ketika sedang menstruasi. Banyak perempuan tidak merasa berada dalam kondisi terbaik ketika harus menghadapi kram, nyeri tubuh, payudara terasa sakit, perut kembung, atau diare.
Namun, perubahan hormon saat menstruasi justru bisa meningkatkan gairah seksual, membuat sebagian perempuan tetap ingin bermesraan atau berhubungan intim dengan pasangan meski situasinya berpotensi lebih berantakan.
Menurut dr.Cassandra Cheong, konsultan di Department of Obstetrics and Gynaecology (ObGyn), KK Women's and Children's Hospital (KKH) Singapura, perubahan kadar hormon, termasuk meningkatnya estrogen dan testosteron, selama menstruasi dapat menyebabkan peningkatan libido pada sebagian perempuan.
"Hal ini juga salah satu respons alami tubuh ketika mulai mempersiapkan diri untuk ovulasi dalam beberapa hari ke depan," tambah dokter spesialis obstetri dan ginekologi tersebut.
"Namun, hal ini tidak berlaku untuk semua perempuan, karena adanya kram, perut kembung, dan rasa tidak nyaman secara umum justru dapat memberikan efek sebaliknya."
Hal serupa juga dikemukakan dr. Angela Tan, direktur medis klinik kesehatan seksual Reiwa Health di Singapura, yang mengungkapkan bahwa seperti halnya gejala premenstrual syndrome (PMS) yang sangat bervariasi, respons terhadap perubahan hormon juga bisa berbeda-beda pada setiap perempuan.
Nafsu seksual seorang perempuan bisa meningkat atau justru tidak mengalami perubahan sama sekali selama menstruasi.
Selain itu, perempuan yang sedang menjalin hubungan mungkin lebih menginginkan keintiman selama menstruasi.
Kondisi tubuh yang sedikit tidak nyaman bisa membuat perempuan lebih mendambakan kasih sayang dan perhatian dari pasangan, menurut dr. Tan, yang merupakan dokter kesehatan seksual, yakni dokter medis dengan pelatihan khusus dalam mendiagnosis dan menangani kondisi yang memengaruhi fungsi seksual, keintiman, serta kesehatan reproduksi.
Manfaat dari keintiman seksual tetap bisa dirasakan jika seseorang berhubungan seks selama menstruasi. Bahkan, aktivitas ini berpotensi membantu meredakan beberapa gejala PMS.
Sementara itu, dr.Grace Huang, dokter umum di DTAP Clinic di Singapura, mengungkapkan bahwa keintiman seksual dapat memicu pelepasan oksitosin dan endorfin yang berpotensi membantu memperbaiki suasana hati sekaligus mengurangi stres.
Oksitosin dikenal sebagai "hormon cinta" karena dapat meningkatkan perasaan positif, sedangkan endorfin membantu meredakan rasa sakit dan memperbaiki suasana hati.
Kontraksi rahim yang terjadi akibat orgasme juga berpotensi mengurangi kram menstruasi, kata dr. Huang.
Jika kamu mengalami migrain saat menstruasi, endorfin yang dilepaskan melalui aktivitas seksual juga dapat membantu mengurangi sebagian rasa tidak nyaman dan nyeri, menurutnya.
RISIKO KEHAMILAN DAN INFEKSI MENULAR SEKSUAL
Perempuan yang memilih untuk berhubungan seks selama menstruasi tetap perlu menyadari adanya risiko kehamilan dan infeksi menular seksual (IMS).
Menurut dr. Cheong dari KKH Singapura, anggapan bahwa menstruasi dapat memberikan perlindungan dari kehamilan merupakan kesalahpahaman yang cukup umum.
Meskipun kemungkinan hamil selama menstruasi memang lebih rendah, risikonya tidak nol karena sperma dapat bertahan hidup di dalam tubuh hingga lima hari.
Jadi, jika kamu memiliki siklus menstruasi yang lebih pendek, ovulasi bisa terjadi lebih cepat daripada yang kamu perkirakan setelah menstruasi selesai.
"Untuk IMS, menstruasi juga tidak memberikan perlindungan apa pun. Bahkan, infeksi seperti HIV dan hepatitis mungkin lebih mudah menular karena adanya paparan darah yang lebih banyak. Jadi, menggunakan perlindungan tetap sama pentingnya seperti pada waktu-waktu lainnya dalam satu bulan," ujarnya.
Selain itu, dr. Cheong juga menyarankan perempuan untuk melepaskan semua produk menstruasi, seperti tampon dan menstrual cup, sebelum melakukan hubungan seksual.
Membiarkan tampon tetap terpasang saat berhubungan seks dapat mendorongnya masuk lebih jauh ke dalam saluran vagina sehingga menjadi lebih sulit dikeluarkan.
Tampon yang terlupakan dan dibiarkan terlalu lama juga dapat meningkatkan risiko infeksi vagina, atau toxic shock syndrome, kondisi langka tetapi dapat mengancam nyawa.
Sementara itu, dr. Tan dari Reiwa Health menjelaskan bahwa menstrual cup berada di dalam saluran vagina sehingga dapat menimbulkan rasa tidak nyaman atau bergeser ketika melakukan aktivitas seksual.
Berbeda dari menstrual cup, beberapa menstrual disc memang dirancang agar dapat tetap digunakan saat melakukan seks vaginal.
Produk ini berada lebih tinggi di dalam saluran vagina, tepatnya di sekitar leher rahim atau serviks. Meski demikian, penting untuk membaca petunjuk dari produsen mengenai cara pemasangan yang aman.
"Disc mungkin dapat mengurangi darah yang berantakan, tetapi produk ini bukan alat kontrasepsi dan tidak melindungi dari IMS," kata dr. Tan kepada CNA.
"Produk ini juga mungkin tidak sepenuhnya antibocor, terutama ketika aliran darah sedang lebih deras. Jika menyebabkan rasa sakit, tekanan, bergeser, atau kebocoran berulang, hentikan penggunaannya dan periksa kembali apakah ukurannya sudah pas."
BAGAIMANA AGAR SEKS SAAT MENSTRUASI LEBIH NYAMAN?
Menurut dr. Angela Tan, direktur medis Reiwa Health, meskipun darah menstruasi sendiri bukan sesuatu yang kotor, aktivitas seksual saat menstruasi memang bisa menjadi cukup berantakan.
"Bersiaplah menghadapi noda," katanya.
Untuk membuat pengalaman tersebut lebih nyaman, dr. Grace Huang, dokter umum di DTAP Clinic, mengatakan, pasangan sebaiknya membersihkan diri dan area sekitar setelah berhubungan intim.
Jika kamu duduk atau berbaring, kamu bisa meletakkan handuk berwarna gelap di bawah tubuh agar noda darah yang muncul tidak terlalu terlihat.
Membersihkan diri mungkin juga akan lebih mudah jika aktivitas seksual dilakukan di kamar mandi, saran dr. Tan.
"Mandi sebelum dan sesudahnya bagi kedua pasangan tentu sangat membantu, tetapi perempuan tidak perlu melakukan douching [membersihkan bagian dalam vagina]," katanya.
Pilihan lainnya adalah melakukan hubungan seksual pada hari-hari ketika aliran menstruasi lebih ringan sehingga kemungkinan situasinya menjadi berantakan juga lebih kecil.
STIGMA SEKS SAAT MENSTRUASI
Menurut dr. Huang, berhubungan seks saat menstruasi merupakan preferensi pribadi. Keputusan untuk tidak melakukannya bisa muncul karena rasa tidak nyaman secara psikologis terhadap darah secara khusus atau karena alasan agama.
Stigma terhadap menstruasi sendiri sudah merupakan persoalan mendasar, menurut dr. Tan. Ketika hubungan seksual ikut dikaitkan dengan menstruasi, stigma tersebut pun bisa menjadi semakin besar.
"Banyak dari kita tumbuh dengan ajaran untuk menyembunyikan menstruasi, menghindari pembicaraan tentang darah, dan bersikap seolah-olah menstruasi adalah sesuatu yang memalukan," katanya kepada CNA.
"Rasa malu itu kemudian dapat terbawa ke dalam kehidupan seksual, citra tubuh, dan hubungan."
"Kita seharusnya menormalisasi menstruasi sebagai fungsi tubuh yang normal. Namun, menormalisasinya bukan berarti menjadikan seks saat menstruasi sebagai sesuatu yang wajib dilakukan, tren yang harus diikuti, atau sesuatu yang harus dinikmati semua orang," tambahnya.
Menurut dr. Tan, pesan yang lebih sehat seharusnya adalah: Menstruasi bukan sesuatu yang kotor. Seks saat menstruasi merupakan pilihan pribadi dan kedua pasangan seharusnya dapat membicarakannya tanpa rasa jijik, tekanan, ataupun malu.
Meskipun seorang perempuan merasa nyaman berhubungan seks saat menstruasi, pasangannya mungkin tidak tertarik melakukannya, begitu pula sebaliknya. Jika pasanganmu yang tidak bersedia, kamu sebaiknya tidak memaksanya.
Sebaliknya, dr. Tan menyarankan untuk mengobrol dan memahami apa yang membuatnya merasa khawatir mengenai seks saat menstruasi.
Ia merekomendasikan untuk memulai percakapan dengan rasa ingin tahu, misalnya dengan bertanya, "Apakah yang membuatmu tidak nyaman adalah darah yang berantakan, baunya, kekhawatiran soal kebersihan, atau ada hal lain?
"Banyak rasa tidak nyaman berasal dari mitos, rasa malu, atau sekadar tidak mengetahui apa yang akan terjadi. Kamu bisa meyakinkannya, menjelaskan hal-hal yang membuatmu nyaman, dan menyarankan cara-cara praktis agar situasinya tidak terlalu berantakan."
Selain itu, dr. Tan menegaskan bahwa seseorang tidak perlu dibujuk agar mau melakukan hubungan seks saat menstruasi. Persetujuan atau consent tetap berlaku bagi kedua pihak.
"Tujuannya di sini adalah: Bisakah kita membicarakan keintiman tanpa rasa malu atau menghindarinya?" tuturnya.
"Dan perlu diingat bahwa ada banyak cara untuk tetap dekat tanpa melakukan seks penetratif atau tanpa harus membuktikan bahwa dia mencintaimu," katanya.
Jika justru kamu yang merasa ragu, kamu perlu tahu bahwa kamu tidak harus memaksakan diri untuk menghilangkan rasa tidak nyaman tersebut.
"'Aku tidak ingin berhubungan seks selama menstruasi' adalah jawaban yang lengkap dan valid," kata dr. Tan.
"Ada perbedaan antara mencoba melawan rasa malu dan memaksakan diri melewati batasan yang memang benar-benar kamu miliki," kata dr. Tan.
"Sebagian perempuan mungkin ingin mencari tahu dari mana rasa tidak nyaman itu berasal. Namun, tujuan akhirnya bukan agar setiap perempuan harus menikmati seks saat menstruasi. Tujuannya adalah agar mereka dapat memilih dengan bebas, tanpa tekanan ataupun rasa malu."
Ia menyarankan untuk mengatakan kepada pasangan, "Aku tetap senang bermesraan denganmu, tetapi aku tidak ingin melakukan seks penetratif ketika sedang menstruasi."
Atau, kamu cukup meminta bentuk keintiman lainnya.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.