Ditinggal meninggal suami di usia 32, Naadira normalisasi bahas kematian dan berduka
Pekerja sosial Naadira Aziz mengaungkan upaya pentingnya merasa nyaman dalam membahas kematian, karena hal itu dapat membantu mereka yang tengah berduka, termasuk kedua putranya.
Naadira Aziz, seorang Programme Associate dan fasilitator di The Life Review, bersama dua putranya, Ibrahim (tengah) dan Idris. (Foto: Naadira Aziz)
Pada suatu hari di tahun 2023, Naadira Aziz terlambat 10 menit menjemput putra sulungnya dari pusat penitipan murid taman kanak-kanak seusai sekolah. Saat itu, ia lupa mengabari guru di sana tepat waktu.
Ketika ia tak kunjung tiba pada pukul 01:40 siang sesuai janji, Ibrahim, yang saat itu berusia enam tahun, berkata kepada gurunya, “Ibu saya bilang dia akan datang jam 01:40. Dia pasti datang. Ibu saya tidak pernah bohong.” Namun, menurut Ibrahim, gurunya menjawab, “Saya tidak percaya. Dia tidak kirim SMS apa pun. Jangan bohong.”
Ketika Naadira akhirnya sampai, ia dapati putranya menangis akibat dituduh "berbohong". Saat itulah guru tadi baru melihat pesan Naadira yang terlambat dikirim.
"Ketika saya dekati, anak saya bilang: 'Ibu Guru tidak percaya padaku. Kenapa Ibu sampai terlambat? Jangan begitu lagi ya.' Dia sangat ketakutan," kenang Naadira. Ia yakin ledakan emosi itu merupakan salah satu wujud duka putranya.
Suami Naadira, Hasyali Siregar Hasbullah, meninggal dunia pada Desember 2022 akibat melanoma stadium 4 – jenis kanker kulit yang dikenal paling berbahaya – setelah berjuang melawannya selama sekitar satu setengah tahun.
Saat itu, Naadira berusia 32 tahun, sementara kedua putranya, Ibrahim dan Idris, masing-masing baru berusia lima dan tiga tahun.
Naadira segera mengabari para guru di prasekolah anak-anaknya. Tujuannya, agar mereka bisa "sedikit lebih sadar akan duka," sebab anak-anak yang belum mampu mengungkapkan perasaan dengan kata-kata dapat menunjukkan duka melalui perubahan perilaku.
Namun, pada kejadian di awal tadi, ia merasa perlu menggarisbawahi sesuatu. "Saya berharap kita bisa lebih lembut ketika bicara dengan Ibrahim. Dia sedang melalui masa yang sangat sulit, dan perubahan apa pun dalam rutinitas terasa sangat menakutkan baginya," ujar Naadira kepada guru di penitipan anak tersebut.
Bagi Ibrahim, keterlambatan ibunya 10 menit saja sudah terasa sebagai perubahan besar dalam rutinitasnya.
"Putra saya sudah mengalami peristiwa paling mengguncang yang bisa dialami anak seusianya. Sekarang, tiap perubahan mengguncang (meski hanya terkesan demikian) langsung membuatnya bikin kesimpulan yang ekstrim. Jadi, saya harus selalu jelaskan ke dia apa saja kegiatan hari ini," jelas perempuan itu kepada CNA.
TAK HENDAK MENGURAI DUKA
Setelah suaminya meninggal dunia, Naadira memegang posisi Programme Associate dan fasilitator di lembaga sosial, The Life Review. Naadira melamar pekerjaan itu setelah menyaksikan dampak tak terduga dari kematian Hasyali terhadap kedua putranya yang masih kecil.
Organisasi ini bertujuan menormalisasi percakapan sehari-hari perihal kematian, menghadapi ajal, dan bersungkawa, yakni melalui pendidikan serta keterlibatan masyarakat. Naadira berharap, percakapan-percakapan semacam itu dapat dimulai sejak dini di ruang kelas.
Ketika Ibrahim mulai masuk sekolah dasar tahun lalu, Naadira lupa memberi tahu guru-guru barunya bahwa suaminya telah meninggal dunia.
"Putra saya terpaksa menjelaskan dengan pilu kepada gurunya bahwa ayahnya sudah tiada, dalam satu latihan percakapan di kelas tentang cara siswa berangkat sekolah.
"Gurunya dengan santai bertanya, 'Jadi Ibrahim, apakah ayahmu mengantarmu ke sekolah sebelum pergi bekerja?'" kenang Naadira.
"Dia cuma menjawab, 'Oh, Ayah sudah meninggal.' Waktu dia cerita ke saya, saya tanyakan perasaannya, dan dia bilang, 'Nggak apa-apa. Kayaknya Bu Guru memang belum tahu.'"
Meski para guru akhirnya tahu, "masih ada semacam rasa canggung saat membicarakan kematian," imbuh Naadira.
Ketika Ibrahim ditunjuk menjadi ketua kelas tahun lalu, Naadira mengungkapkan kekhawatirannya kepada wali kelas tentang tanggung jawab ekstra itu. Ia merasa beban putranya sudah cukup besar.
Namun, guru itu meyakinkan Naadira dengan berkata, "Meski ada kejadian itu, untuk anak usia tujuh tahun dia termasuk yang emosinya paling matang yang pernah saya temui sepanjang."
Penasaran, Naadira bertanya: "Apa maksud Ibu dengan 'meski ada kejadian itu'?"
Guru itu mengulang: "Maksud saya, meskipun sesuatu telah terjadi dalam hidupnya."
"Guru itu begitu tidak nyaman, sampai-sampai tidak mau mengucapkannya. Jadi saya wakili saja: 'Oh, maksud Ibu, meskipun ayahnya baru meninggal?'" kenang Naadira.
"Saya cuma mau bilang begitu, karena sampai saat itu tidak ada seorang pun yang menyebut nama suami saya selama berbulan-bulan. Seolah-olah dia tidak pernah ada."
Ia menambahkan, guru itu kemudian menyahut singkat "Ya, itu." Menurut Naadira, "Benar-benar bisa dirasakan bahwa dia tidak nyaman."
Namun, Naadira sudah tidak heran tipa kali orang-orang di sekitarnya menghindari percakapan tentang duka. Ketika suaminya masih hidup, ia pun enggan bicara tentang kematiannya yang kian dekat.
GAMANG AKAN KEMATIAN
Empat tahun lebih tua dari Naadira, mendiang Hasyali merupakan pria berprinsip yang jarang berkata-kata.
"Banyak aksi, sedikit bicara" jadi filosofinya. Pada pertemuan kelima, ia yakin Naadira adalah pasangan hidupnya.
Tanpa menunggu lama, ia meminta restu dari orang tua Naadira. Keduanya menikah pada Agustus 2015, 11 bulan setelah pertemuan pertama mereka.
Pada Juni 2021, Hasyali menerima diagnosis melanoma stadium 1. Karena kepribadian stoiknya, ia enggan membahas "hal-hal penting yang sebenarnya perlu dibicarakan," ungkap Naadira.
Sejak kelahiran anak pertama pada 2017, Naadira menjadi ibu rumah tangga penuh waktu, sementara Hasyali bekerja sebagai petugas imigrasi.
"Saya ingin membicarakan banyak hal terkait keuangan. Tapi saya takut topik itu malah ia tangkap sebagai tanda saya sudah kehilangan harapan – dan harapan itu kan hal yang sangat rumit ketika kita berhadapan dengan pengidap kanker – jadi kami hindari."
Saat Hasyali menolak menjalani pengobatan, Naadira merasa kian putus asa.
"Saya tersinggung, rasanya seperti 'apa kamu tidak mau lihat anak-anakmu tumbuh? Tidak mau berjuang untuk tetap bersama kami? Tapi saya kira pandangannya tentang dunia begitu terguncang, dia tidak tahu harus bereaksi apa; dia bergeming," ujarnya.
Akhirnya, pada Agustus 2021, Hasyali setuju menjalani operasi besar untuk mengangkat tumor di sisi kepalanya. Namun, kurang dari setahun kemudian, hasil pemindaian menunjukkan kanker telah berkembang hingga stadium 4.
Pada September 2022, kanker telah menyebar ke otaknya. Dokternya memberikan dua pilihan: menjalani operasi darurat atau menerima kenyataan bahwa kematian sudah dekat.
Dua bulan setelah operasi, tumor itu kembali.
Pada akhirnya, ketika pengobatan tidak lagi memberikan hasil, Hasyali pulang dari rumah sakit pada awal Desember 2022 untuk menghabiskan hari-hari terakhir di rumah.
Naadira pun tak bisa lagi menghindari percakapan penting dengan anak-anak. Mereka mulai melihat perubahan perilaku sang ayah akibat tumor tersebut.
Tadinya, Hasyali merupakan sosok yang "sangat konyol." Ia suka "bicara mengada-ada" dan menghabiskan waktu bersama putra-putranya menjelang tidur. Namun, setelah sakit, ia sering marah.
Menurut Naadira, "kami kehilangan dia sebelum dia benar-benar pergi."
Menurut dokter, Naadira dan kedua putranya masih punya dua hingga tiga bulan untuk dilewatkan bersama Hasyali. "Dan karena itu, saya jadi berpikir masih ada waktu untuk membicarakan hal-hal penting yang perlu disampaikan," ujar Naadira.
Kenyataannya, sisa hidup Hasyali hanya 12 hari.
INGIN BICARA DAN BERBAGI
Setelah suaminya meninggal dunia lebih cepat dari yang diperkirakan, Naadira terus memikirkan semua hal yang belum sempat ia sampaikan.
"Saya berdiam dalam ruang itu begitu lama," ujarnya. "Saya menulis surat-surat setelah dia meninggal, tanpa tahu harus diapakan surat-surat itu. Saya tulis saja, karena rasanya ada begitu banyak yang harus diungkapkan."
Kembali ke dunia kerja, Naadira memulai lagi profesinya sebagai pekerja sosial, tetapi akhirnya ia berhenti.
Ia pun menemukan pekerjaan baru sebagai penasihat keuangan, yang memungkinkannya mengatur waktu secara lebih fleksibel, sekaligus mendaftar untuk bekerja di The Life Review.
Keputusan itu kiranya dipicu oleh keterasingan yang ia rasakan selama Hasyali sakit. Kala itu, Hasyali tidak ingin siapa pun tahu selain keluarga terdekat.
Setelah suaminya meninggal, Naadira harus mengabari teman-teman Hasyali "satu per satu" tentang kanker yang dideritanya.
Dalam pencarian akan komunitas untuk dirinya dan anak-anak, Naadira menemukan Death Over Dinner, satu inisiatif dari The Life Review tempat berbagi pengalaman tentang rasa kehilangan sambil makan malam bersama.
Sebelumnya, Naadira sering menerima ucapan penyemangat seperti "kamu kuat." Meski maksudnya baik, kata-kata itu justru kerap membuatnya marah.
Rasanya seperti "menciptakan jarak," seolah-olah "mereka tidak ingin memasuki ruang itu bersama saya."
"Saya ingin sekali cerita tentang suami saya. Saya ingin berbagi cerita tentang sang ayah (dari anak-anak saya). Hanya karena dia sudah tidak ada bukan berarti dia tidak pernah ada."
"Dia bagian besar dari narasi mereka, tentang siapa diri mereka. Saya cuma ingin ada yang menyebut namanya," ungkapnya.
Di Death Over Dinner, Naadira akhirnya bertemu dengan orang-orang yang paham. "Di akhir malam itu, saya merasa, wow, ternyata bisa ya. Bisa kok berbincang-bincang semacam itu, bahkan untuk anak-anak," ujarnya.
"Bayangkan Ibrahim kembali ke sekolah (setelah liburan bulan Desember), lalu gurunya duduk dengan dia dan bertanya, 'Apakah kamu nyaman kalau teman-teman sekelas tahu apa yang sudah kamu lalui?' Kalau dia nyaman, teman-temannya bisa mulai membicarakan itu dengannya, alih-alih dia merasa harus menyembunyikan kenyataan dari mereka bahwa ayahnya sudah meninggal."
TERBUKA BICARA DUKA SEJAK DINI
Lewat keterbukaan Naadira untuk bicara tentang duka dengan anak-anaknya, mereka menjadi lebih berkesadaran emosional dibandingkan anak-anak lain yang seusia.
Idris, si bungsu yang berusia enam tahun, pernah bilang kepada sang ibu saat berselisih dengan abangnya: "Aku sadar keluarga kita sering bertengkar, tapi sebenarnya kita cuma sangat sedih."
Sementara itu, Ibrahim telah mengembangkan "empati yang mendalam" sehingga para guru dan orang tua murid lain mengakui kepeduliannya terhadap teman-teman sekelas, ujar Naadira.
Namun, di luar lingkup keluarga, Naadira sadar kematian di Singapura lebih sering dipandang sebagai "pengalaman sosial" ketimbang sekadar peristiwa biomedis.
Dukungan sosial jauh lebih penting daripada sekadar dukungan medis.
Dan ia percaya dukungan sosial bahkan bisa dimulai sejak prasekolah, melalui pemantauan dan komunikasi erat antara guru dan orang tua.
Dalam tiap angkatan, hampir selalu ada setidaknya satu anak yang pernah mengalami kehilangan, apa pun bentuknya.
"Kita bisa bicara tentang cara mendukung seseorang, atau sekadar belajar merasa nyaman membahas topik kematian, duka, dan kehilangan, juga soal meningkatkan kepekaan akan duka dalam percakapan sehari-hari," ujarnya.
"Sebab kalau gurunya tidak nyaman, maka murid-muridnya pun tidak nyaman. Saat itulah anak-anak seperti dua putra saya akan mengalami rasa 'dibedakan'," jelasnya.
Ibrahim, misalnya, pernah berkata ia merasa dirinya "tidak akan pernah normal lagi karena duka terus-menerus mengikutinya."
"Dari apa yang kami pelajari (di The Life Review) tentang duka pada anak-anak, mereka sebenarnya ingin memiliki jaringan teman sebaya - mereka yang juga pernah mengalami kehilangan, entah karena perceraian atau kematian," ungkap Naadira.
"Mereka ingin merasa normal. Mereka ingin ada yang paham ketakutan yang mereka rasakan tapi sulit mereka ungkapkan ke orang tua," ujarnya.
Hal yang sama, lanjutnya, juga dibutuhkan oleh orang dewasa yang berbela sungkawa. Ia mencatat, mendiang suaminya mungkin tidak akan mengenali dirinya yang sekarang, karena dulu ia sendiri gamang akan kematian.
"Ketakutan akan topik itu tidak membantu kami di masa lalu, dan justru menghalangi pengalaman yang lebih bermartabat untuknya. Tapi saya tidak takut lagi, karena yang terburuk sudah terjadi," ujarnya.
"Justru, yang saya kira lebih menakutkan adalah apa yang dilalui oleh suami saya: Merasa waktu hampir habis tetapi tidak bisa mengungkapkan hal-hal yang ingin dikatakan atau mengerjakan hal-hal yang ingin dilakukan."
"Saya tidak takut lagi, karena yang terburuk sudah terjadi."
Saat berinteraksi dengan para peserta The Life Review–baik di acara publik maupun lokakarya mendalam tentang literasi akhir kehidupan–Naadira selalu menyampaikan pesan sederhana: Kesadaran akan kematian membantu seseorang menjalani hidup "dengan lebih luas dan lebih mendalam," karena tidak ada lagi yang dianggap remeh.
"Penting menemukan keberanian untuk bicara tentang topik-topik yang sangat menakutkan bersama orang-orang terdekat. (Namun) saya menyadari para peserta sebenarnya siap untuk bicara; mereka hanya tidak punya kosakatanya," ujarnya.
Lantas apa kosakata yang tepat ketika kematian kian dekat? Naadira telah sampai pada keyakinan bahwa ada empat hal penting yang perlu diungkapkan.
Maafkan aku. Aku memaafkanmu. Terima kasih. Aku mencintaimu.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.