Benarkah minum air dingin bisa picu gangguan jantung?
Gangguan jantung yang disebut fibrilasi atrium atau Afib ternyata bisa dipicu dengan hanya meminum seteguk air dingin.
Pada bulan Februari lalu, kabar mengejutkan datang dari binaragawan dan pelatih kebugaran berusia 30-an yang berbasis di Texas, Amerika Serikat, bernama Franklin Aribeana. Ia pingsan setelah meminum air dingin, dan setelah diperiksakan ke dokter, ia didiagnosis memiliki salah satu jenis penyakit jantung.
Menurut dokter, salah satu penyebab kambuhnya penyakit jantung yang dideritanya adalah meminum air dingin.
Aribeana memang memiliki riwayat panjang pingsan. Dalam 15 tahun terakhir, ia telah 20 kali pingsan. Namun, tidak pernah terbangkan sebelumnya bahwa air dingin dapat memengaruhi jantungnya.
Ia menyadari hal ini ketika ia meminum seteguk air dingin dan merasakan rasa nyeri di dadanya. "Saat saya sedang menenangkan diri, saya merasakan dua denyutan," kata Aribeana.
Tes kesehatan menunjukkan bahwa binaragawan ini memiliki gangguan jantung yang disebut fibrilasi atrium atau Afib, kondisi yang menyebabkan jantungnya berdetak tidak beraturan.
Tetapi mengapa air dingin memicu Afib? Dan apakah kita bisa memiliki kondisi yang sama tanpa mengetahuinya?
APA ITU AFIB?
Afib atau fibrilasi atrium adalah gangguan irama jantung yang paling umum dan signifikan, kata Lim Toon Wei, asisten profesor dan konsultan senior di Departemen Kardiologi di National University Heart Centre, Singapura (NUHCS).
"Hal ini ditandai oleh aktivitas elektrik yang cepat dan kacau di atrium atau bilik atas jantung. Hal ini mengakibatkan detak jantung yang tidak teratur yang juga mempengaruhi efisiensi tindakan pemompaan jantung. Gejala paling umum adalah detak jantung tidak teratur, sesak napas, kelelahan, atau merasa pusing," ujar Lim.
Dia menambahkan bahwa sekitar 0,5 persen hingga 1 persen orang dewasa di Singapura memiliki kondisi Afib.
Kondisi ketika jantung memompa di luar siklusnya harus diwaspadai. "Yang memprihatinkan, pasien Afib memiliki risiko stroke yang meningkat 500 persen dan setidaknya risiko gagal jantung yang meningkat 300 persen," kata dr. Pipin Kojodjojo, kardiolog Rumah Sakit Mount Elizabeth.
"Hal yang mngejutkan adalah bahwa hanya 50 persen pasien Afib yang mengalami gejala, sementara setengah lainnya tanpa gejala namun tetap memiliki risiko yang sama terhadap stroke dan gagal jantung," ujarnya.
Risiko stroke dan gagal jantung bahkan lebih tinggi jika memiliki katup jantung yang abnormal, kata Lim.
"Hal ini disebabkan oleh pembentukan bekuan darah di dalam jantung akibat tindakan pemompaan yang terganggu dari atrium. Jika bekuan darah ini terlepas dan bergerak ke otak, itu dapat menyumbat arteri di sana dan menyebabkan stroke," ujarnya.
APA YANG MENYEBABKAN AFIB?
Biasanya, risiko Afib "meningkat pada individu yang kelebihan berat badan, memiliki diabetes, tekanan darah tinggi, mendengkur keras saat tidur, merokok secara kronis, atau telah menjalani operasi jantung sebelumnya," kata dr. Kojodjojo.
Usia menjadi faktor lainnya. "Afib menjadi lebih umum seiring bertambahnya usia, risikonya meningkat dua kali lipat dengan setiap dekade usia kehidupan," katanya.
Sementara menurut Lim: "Pada orang dewasa tengah, sekitar satu dari 1.000 orang memiliki kondisi Afib. Ini meningkat menjadi sekitar satu dari 10 untuk mereka yang berusia di atas 80 tahun,"
Bagaimana dengan kasus Aribeana? Para dokter menemukan bahwa saraf vagusnya dipicu oleh suhu ekstrim seperti air dingin yang melewati tenggorokannya.
Sepasang saraf vagus merupakan saraf terpanjang yang berjalan dari otak ke usus besar. Begitu panjangnya, saraf ini melewati atau terhubung dengan leher, dada, jantung, dan paru-paru.
"Beberapa pasien saya telah menggambarkan bahwa mereka dapat merasakan kondisi Afib setelah makan es krim atau es kacang," kata dr. Kojodjojo.
Ia juga menambahkan bahwa asupan alkohol atau kafein yang berlebihan juga menjadi pemicu di beberapa pasien. "Namun, tidak selalu seperti itu," ujarnya.
Namun, ternyata bukan hanya minuman dingin yang dapat menjadi pemicu. "Setiap stimulus yang mengiritasi saraf vagus dapat menyebabkan gangguan irama jantung," kata Lim.
"Pemicu yang paling umum yang saya temui pada pasien kami adalah terlalu banyak makan hidangan berat dan banyak," katanya.
Menurut dr. Kojodjojo, "hingga 50 persen individu dengan Afib tidak atau jarang mengalami gejala."
Oleh karena itu, selalu periksakan diri secara rutin ke dokter, terutama jika kita termasuk yang memiliki risiko tinggi seperti lansia, perokok, sering mendengkur, dan penderita diabetes, tekanan darah tinggi, atau kelebihan berat badan, menurut dr. Kojodjojo.
"Belajar merasakan denyut nadi sendiri dan mengenali ketidakaturannya, juga dapat membantu menemukan tanda kondisi Afib," katanya.