Skip to main content
Iklan

Lifestyle

Kontroversi band punk Sukatani: Lagu kritik sosial berujung minta maaf kepada polisi

Band yang kerap membagikan hasil tani kepada penonton di tiap konsernya ini meminta masyarakat yang telah mengunggah lagu Bayar Bayar Bayar di media sosial untuk menghapusnya guna menghindari potensi risiko hukum. 

Kontroversi band punk Sukatani: Lagu kritik sosial berujung minta maaf kepada polisi

Album perdana Sukatani, Gelap Gempita, dirilis pada 24 Juli 2023 dan berisi delapan lagu, termasuk lagu Bayar Bayar Bayar. (Foto: Tangkapan layar Instagram @sukatani.band)

21 Feb 2025 10:30AM (Diperbarui: 21 Feb 2025 10:46AM)

Band punk asal Purbalingga, Sukatani, memutuskan untuk menarik lagu mereka berjudul Bayar Bayar Bayar dari berbagai platform streaming setelah liriknya menuai kontroversi. 

Lagu yang berisi kritik sosial menyinggung praktik pungutan liar oleh oknum kepolisian itu sempat viral di media sosial, memicu perdebatan di kalangan publik.

Keputusan ini disertai dengan permintaan maaf terbuka dari Sukatani kepada Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo serta institusi Polri.

MINTA MAAF KEPADA POLISI

Dalam pernyataannya, Sukatani mengungkapkan alasan di balik lagu yang memuat lirik "bayar polisi" tersebut. 

Dalam sebuah unggahan di Instagram pada Kamis (20/2/2025), gitaris sekaligus produser band, Alectroguy, menjelaskan bahwa lagu tersebut sebenarnya ditujukan kepada oknum polisi yang melanggar aturan, bukan kepada institusi Polri secara keseluruhan.

Namun, demi menghindari polemik lebih lanjut, mereka akhirnya memilih untuk menarik lagu tersebut dari seluruh platform digital.

"Mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada Bapak Kapolri dan institusi Polri atas lagu ciptaan kami yang berjudul Bayar Bayar Bayar," ujar Alectroguy dalam unggahannya.

Selain itu, Sukatani juga meminta masyarakat yang telah mengunggah lagu tersebut di media sosial untuk menghapusnya guna menghindari potensi risiko hukum di kemudian hari, menurut laporan Kompas.

Band punk asal Purbalingga, Sukatani. (Foto: Tangkapan layar Instagram @sukatani.band)

PROFIL BAND SUKATANI

Sukatani merupakan band punk new wave asal Purbalingga yang dibentuk pada Oktober 2022. 

Band ini digawangi oleh Alectroguy (Muhammad Syifa Al Ufti) sebagai gitaris dan produser serta Twister Angel (Novi Chitra Indriyaki) sebagai vokalis. 

Sejak awal, mereka dikenal dengan lirik-lirik yang menyoroti isu sosial, agraria, hingga ketidakadilan.

Album perdana mereka, Gelap Gempita, dirilis pada 24 Juli 2023 dan berisi delapan lagu, termasuk lagu Bayar Bayar Bayar yang belakangan viral. Album ini bahkan sempat dipilih oleh Tempo sebagai salah satu karya musik terbaik tahun 2023. 

Musik Sukatani mengusung semangat punk dengan sentuhan anarcho-punk dan new wave, yang sering dikaitkan dengan kritik terhadap sistem dan otoritas.

Selain dikenal lewat karya-karyanya, Sukatani juga tampil nyentrik di atas panggung. Mereka kerap mengenakan balaclava dan membagikan sayuran kepada penonton sebagai bentuk solidaritas terhadap perjuangan petani, menurut laporan CNN Indonesia. 

LIRIK LAGU BAYAR, BAYAR, BAYAR

Berikut lirik lagu Bayar, Bayar, Bayar dari Sukatani yang viral belakangan ini: 

Oy, Oy, Oy, Oy

Mau bikin SIM bayar polisi

Ketilang di jalan bayar polisi

Touring motor gede bayar polisi

Angkot mau ngetem bayar polisi

Aduh aduh ku tak punya uang

Untuk bisa bayar polisi

Mau bikin gigs bayar polisi

Lapor barang hilang bayar polisi

Masuk ke penjara bayar polisi

Keluar penjara bayar polisi

Aduh aduh ku tak punya uang

Untuk bisa bayar polisi

Oy, Oy, Oy, Oy

Mau korupsi bayar polisi

Mau gusur rumah bayar polisi

Mau babat hutan bayar polisi

Mau jadi polisi bayar polisi

Aduh aduh ku tak punya uang

Untuk bisa bayar polisi

Oy, Oy, Oy, Oy

DUKUNGAN PUBLIK

Keputusan band ini untuk menarik lagu Bayar Bayar Bayar memicu berbagai reaksi. 

Sejumlah penggemar serta pegiat kebebasan berekspresi menyayangkan langkah tersebut, menganggapnya sebagai bentuk pembungkaman terhadap kritik sosial dalam musik dan berkesenian

Namun, ada pula yang mendukung keputusan ini dengan alasan bahwa kritik sebaiknya disampaikan secara lebih konstruktif agar tidak menimbulkan polemik lebih besar.

Polda Jawa Tengah sendiri membantah adanya tekanan atau larangan terkait peredaran lagu tersebut. 

"Tidak ada, masing-masing warga masyarakat punya kebebasan hak berpendapat, pelarangan setahu saya tidak ada," kata Dirreskrimum Polda Jawa Tengah, Kombes Dwi Subagio, dikutip dari Tempo.

Sementara itu, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigadir Jenderal Trunoyudo Wisnu Andiko, menegaskan bahwa Polri tetap terbuka terhadap kritik. 

"Polri terus berupaya menjadi organisasi yang modern, yaitu Polri tidak anti kritik," ujarnya.

MASA DEPAN DI INDUSTRI MUSIK

Meski tersandung kontroversi, Sukatani menegaskan bahwa mereka akan terus berkarya dan menyuarakan kritik sosial melalui musik. 

Keikutsertaan mereka dalam berbagai festival besar seperti Pestapora 2024 dan Synchronize Festival 2024 menunjukkan bahwa eksistensi mereka di kancah musik independen masih kuat.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ps

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan