Skip to main content
Iklan

praktis 101 Lifestyle

Jemuran kena abu vulkanik, masih aman dipakai? Ini cara membersihkannya

Partikel abu vulkanik bisa melekat pada serat kain dan memicu iritasi kulit hingga berisiko terhirup jika tidak dibersihkan dengan benar.

Jemuran kena abu vulkanik, masih aman dipakai? Ini cara membersihkannya

Ilustrasi menjemur baju di balkon apartemen. (Foto: iStock/rudi_suardi)

Erupsi Gunung Anak Krakatau membuat abu vulkanik menyebar ke sejumlah wilayah, termasuk Jabodetabek sejak Minggu (6/9). Abu vulkanik ini bukan cuma dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, tetapi juga berpotensi menempel pada pakaian, termasuk baju yang sedang dijemur di luar ruangan.

Partikel abu vulkanik yang sangat halus dan abrasif ternyata tidak cukup dibersihkan hanya dengan mengibaskan kain.

Menurut dokter paru dari RSUP Persahabatan, Prof Dr dr Agus Dwi Susanto, SpP(K), pakaian maupun benda lainnya yang sudah terkena abu vulkanik sebaiknya dibersihkan menggunakan air.

"Memang kalau sudah menempel di baju atau di bahan-bahan, misalnya di mobil, memang harus dicuci lagi, harus dikenai air. Kemudian dikeringkan di dalam ruangan, indoor, ya," kata dr Agus, Minggu (6/9), dikutip dari Detik.

Mencuci kembali pakaian menjadi penting karena partikel abu vulkanik berukuran sangat halus. Abu yang masih melekat pada pakaian berpotensi terhirup apabila tidak dibersihkan dengan benar.

"Jadi, dia harus dilarutkan dengan air. Jadi, memang termasuk kita kalau habis aktivitas di luar rumah ketika debu vulkanik ini lagi banyak," tambahnya.

Hal yang sama berlaku pada pakaian yang digunakan setelah beraktivitas di luar rumah ketika abu vulkanik sedang banyak. Debu yang menempel perlu dibersihkan menggunakan air dan tidak cukup hanya dengan mengibaskan pakaian.

"Dia tidak bisa hilang dengan hanya dengan dikibaskan," katanya.

Ilustrasi menjemur pakaian di luar ruangan. (Foto: iStock/Dwirant)

Selain pakaian, paparan abu vulkanik pada mata juga perlu diperhatikan. Masyarakat tidak disarankan langsung mengucek mata apabila terkena debu. Partikel abu yang sangat halus dapat melekat pada permukaan mata dan berpotensi menimbulkan iritasi.

"Dia harus dilarutkan dengan air," pungkasnya.

Saran serupa disampaikan dokter umum yang kerap dikenal sebagai dokter vitamin dan suplemen, Kevin Mak, yang menjelaskan bahwa abu vulkanik dapat melekat pada serat kain. Bentuk partikelnya yang tajam juga bisa memicu iritasi pada kulit.

"Baju yang tadinya bersih bisa terkontaminasi abu vulkanik lagi. Partikel abu mudah menempel di permukaan kain, terutama pada bahan berpori seperti katun, karena sifatnya yang halus dan abrasif," ujarnya lewat Instagram pribadinya, Senin (7/9).

Ilustrasi menjemur pakaian di dalam ruangan. (Foto: iStock/Iqbal Nuril Anwar)

Karena itu, selama abu vulkanik masih bertebaran, Kevin menyarankan masyarakat untuk sementara menjemur pakaian di dalam ruangan.

Pilih tempat dengan sirkulasi udara yang baik, misalnya di dekat jendela yang tertutup dari paparan abu. Kipas juga bisa dimanfaatkan untuk membantu mempercepat proses pengeringan pakaian.

"Hindari ruang terlalu lembap. jika kamu punya dehumidifier, kamu bisa gunakan agar pakaian lebih cepat kering," tuturnya.

Lantas, bagaimana jika pakaian sudah terlanjur dijemur di luar dan terkena abu vulkanik?

Kevin mengingatkan agar pakaian tersebut tidak langsung ditepuk atau dikibas-kibaskan ketika sudah dibawa masuk ke dalam rumah. Sebaliknya, baju yang terpapar abu sebaiknya kembali masuk ke cucian.

"Kamu bisa masukkan ke cucian dan cuci kembali sebelum dipakai," tuturnya.

Selama abu vulkanik masih bertebaran, pakaian sebaiknya dijemur di dalam ruangan dan baju yang sudah terpapar abu perlu dicuci kembali sebelum digunakan. Masyarakat juga disarankan memakai masker ketika harus bepergian ke luar rumah serta menggunakan kacamata untuk membantu melindungi mata dari debu.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ps(ar)

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan