Skip to main content
Iklan

Lifestyle

Ketika AI sudah jadi 'bestie' anak dan remaja, waspadai bahayanya!

Makin banyak anak dan remaja lebih memilih curhat ke chatbot AI ketimbang teman atau keluarga. Apa dampaknya bagi perkembangan sosial mereka?

Ketika AI sudah jadi 'bestie' anak dan remaja, waspadai bahayanya!

Ilustrasi seorang anak menggunakan ponsel sejak usia dini. (Foto: iStock/ROHE Creative Studio)

23 Jul 2025 04:07PM (Diperbarui: 23 Jul 2025 04:22PM)

Hari ini, Kamis (23/7), kita merayakan Hari Anak Nasional, sebuah momentum untuk kembali mengingat betapa pentingnya menjaga tumbuh kembang generasi muda, termasuk dalam teknologi digital yang kini tak bisa lepas dari kehidupan mereka.

Anak-anak dan remaja kini kian akrab dengan chatbot kecerdasan buatan, atau chatbot AIyang selalu siap mendengarkan dan mengiyakan. Namun, di balik kemudahan ini, para pakar mengingatkan ada bahaya besar yang mengintai.

Chatbot AI, atau kerap juga disebut AI companion, adalah karakter digital yang dapat mengirim pesan dan berbicara dengan pengguna. Fitur semacam ini membuat AI terasa seperti teman yang bisa dicurhati dan dimintakan pendapat mengenai masalah yang ditemukan anak dan remaja sehari-hari. 

Contohnya saja James Johnson-Byrne, remaja berusia 16 tahun di Philadelphia, Amerika Serikat, yang kebingungan ketika melihat dua teman terdekatnya bertengkar. Ia pun meminta saran dari AI, yang kemudian memintanya untuk melerai kedua temannya. 

Ia mengikuti saran AI itu dan masalah pun terselesaikan untuk sementara, ujarnya. Tapi, "sekarang mereka jarang ngobrol," katanya, dikutip dari CNN. 

Pengalaman itu membuatnya sadar bahwa pendamping AI "tidak bisa menemukan akar masalah yang lebih dalam." 

"Aku akan takut untuk bertanya soal hal yang lebih serius dan mendasar," ujar James. 

Ia juga mengamati bahwa AI selalu setuju dengannya dan mengatakan hal-hal yang ingin ia dengar. Selain itu, dia juga menyadari AI berbicara dengan cara yang sangat mirip dengan teman-teman sebayanya. 

Pada satu titik, saat berbincang dengan chatbot AI, "aku sampai lupa kalau itu bukan temanku yang sebenarnya," kata James.

Ilustrasi anak menggunakan ponsel untuk mengakses teknologi kecerdasan buatan atau AI. (Foto: iStock/fadfebrian)

SELALU MEMAHAMIMU

The Atlantic melaporkan bahwa AI companion, seperti chatbot buatan Character.AI dan PolyBuzz, memang dirancang agar terasa akrab, menawarkan sesuatu yang menggoda: hubungan tanpa drama, tanpa ketidakpastian, dan tanpa risiko sakit hati seperti dalam interaksi manusia. 

PolyBuzz mendorong penggunanya untuk "ngobrol dengan teman AI", sementara Character.AI mengklaim chatbot mereka dapat "mendengar kamu, memahami kamu, dan mengingat kamu." 

Beberapa chatbot AI ini memiliki kebijakan terkait batasan usia minimum untuk dapat menggunakannya, namun PolyBuzz dapat digunakan oleh pengguna berusia 14 tahun ke atas, sementara Character.AI untuk 13 tahun ke atas. 

Namun, orang tua dapat memberi izin agar anak yang lebih muda dapat menggunakan kedua layanan ini. 

Daya tarik chatbot bagi anak-anak, khususnya remaja, jelas terlihat. Tidak seperti teman manusia, pendamping AI akan selalu menganggap leluconmu lucu. 

Mereka diprogram untuk sabar tanpa batas dan memvalidasi hampir semua yang kamu katakan. 

Bagi generasi muda masa kini yang rentan dengan kecemasan dan isolasi sosial, "hubungan" digital ini bisa terasa seperti tempat perlindungan.

Anak-anak tidak bisa belajar membaca bahasa tubuh dari chatbot AI."

Studi dari Common Sense Media, organisasi nirlaba di San Francisco, mengungkapkan 72 persen 1.000 responden remaja berusia 13–17 tahun di AS mengaku sudah menggunakan AI companion

Lebih dari setengah remaja menggunakan chatbot AI ini secara rutin, dan sepertiga mengandalkan mereka untuk hubungan dan interaksi sosial.

Lebih jauh lagi, 31 persen remaja mengatakan percakapan mereka dengan pendamping AI sama memuaskannya atau bahkan lebih memuaskan daripada percakapan dengan orang lain. 

Sementara, 33 persen responden pernah membicarakan isu serius dan penting dengan AI ketimbang dengan manusia.

AI BUKAN TEMAN

Hasil studi ini menimbulkan kekhawatiran karena masa remaja adalah "waktu sensitif dalam perkembangan sosial," kata Michael Robb, penulis utama studi dan kepala riset di Common Sense Media, dikutip dari CNN. 

"Kita tidak ingin anak-anak merasa mereka seharusnya curhat atau mengandalkan pendamping AI alih-alih teman, orang tua, atau profesional yang berkompeten," terutama ketika mereka butuh bantuan dalam isu serius.

Lebih dari itu, pendamping AI tidak dapat mencontohkan hubungan manusia yang sehat. "Di dunia nyata, ada berbagai isyarat sosial yang harus dipahami anak, agar ia terbiasa, dan belajar cara merespons," ujar Robb. 

Namun, anak-anak tidak bisa belajar membaca bahasa tubuh dari chatbot AI. 

Hubungan persahabatan yang nyata tidak seperti itu, karena teman terkadang tidak setuju dengan kita."

Namun, anak-anak tidak bisa belajar membaca bahasa tubuh dari chatbot AI. 

Chatbot AI juga selalu memuji penggunanya, kata Robb. "Mereka ingin menyenangkan kamu, dan mereka tidak akan menantang pikiranmu seperti teman di dunia nyata." 

Jika pengguna terbiasa dengan AI yang selalu mengatakan apa yang ingin mereka dengar, "ketika menghadapi konflik atau kesulitan dalam interaksi dunia nyata, mereka akan kurang siap," ujarnya.

Ilustrasi remaja berkumpul dengan teman sebaya. (Foto: iStock/nazar_ab)

ORANG TUA HARUS APA?

Orang tua sebaiknya memulai dengan mengajak bicara remaja soal pendamping AI "tanpa menghakimi," kata Robb. 

Ada baiknya menjelaskan bahwa "pendamping AI diprogram untuk selalu setuju dan memvalidasi" serta mendiskusikan mengapa hal itu menjadi masalah.  

Remaja harus tahu bahwa "hubungan persahabatan yang nyata tidak seperti itu, karena teman terkadang tidak setuju dengan kita. Begitu juga hubungan dengan orang tua," tuturnya. 

Selain itu, hal terbaik yang bisa orang tua lakukan adalah mendorong anak untuk berkumpul dengan teman-teman sebaya secara tatap muka.

Saat ini, anak-anak lebih jarang bertemu langsung dengan teman dan sering menganggap berkomentar di sosial media dapat menjaga hubungan pertemanan. Akibatnya, anak-anak kurang terlatih dalam interaksi manusia secara tatap muka.

"Begitu banyak kebahagiaan dalam persahabatan dunia nyata berasal dari koneksi ketika kita bisa saling memandang dan memahami tanpa kata," kata Justine Carino, psikoterapis di New York, AS, yang menangani remaja dan tidak terlibat dalam studi ini.

"Misalnya, ketika gebetan kita masuk kelas, kita saling bertukar pandang dengan sahabat," jelasnya.

"Atau ketika guru mengatakan sesuatu yang konyol. Kamu saling bertatapan dengan sahabatmu. Ada nuansa ketika kita belajar berkomunikasi yang hanya diketahui oleh orang-orang dekat yang membawa kesenangan luar biasa yang tidak akan pernah kita dapatkan dari chatbot AI."

Semua bahaya ini bukan berarti kita harus menentang penggunaan AI, karena AI bisa bermanfaat bagi anak-anak, misalnya membantu mereka memahami soal matematika yang rumit atau memberikan feedback saat belajar bahasa baru. 

Namun, kita harus mengakui bahwa AI semakin canggih dan meresap dalam kehidupan anak-anak. Agar anak-anak tumbuh menjadi orang dewasa yang mampu mencintai, bersahabat, dan bekerja sama, mereka harus berlatih keterampilan ini dengan manusia lain. 

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ps

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan