Skip to main content
Iklan

Lifestyle

Jeli sebelum jajan, ini bahaya kukus kue putu pakai pipa paralon PVC

Pakar teknologi pangan menyebut penggunaan PVC dalam suhu tinggi bisa membuat makanan menjadi bersifat karsinogenik. 

Jeli sebelum jajan, ini bahaya kukus kue putu pakai pipa paralon PVC

Ilustrasi kue putu, kue tradisional yang dimasak dengan cara dikukus. (Foto: iStock/Rozita Turut)

JAKARTA: Di balik suara melengking khas gerobak kue putu yang membangkitkan nostalgia, ada satu hal yang perlu diwaspadai, yakni cara pembuatannya. Pasalnya, penggunaan pipa polyvinyl chloride (PVC) atau paralon sebagai cetakan sekaligus alat pengukus dapat menimbulkan risiko bagi kesehatan.

Guru Besar di bidang Ilmu Karakteristik Fisik Pangan di Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan IPB University, Prof. Eko Hari Purnomo menyoroti bahwa penggunaan pipa PVC untuk membuat kue putu dapat menganggu fungsi ginjal dan membuat makanan menjadi bersifat karsinogenik (atau dapat memicu kanker). 

Prof. Eko menjelaskan, pipa paralon pada dasarnya dikembangkan untuk mengalirkan bahan dalam kondisi dingin, terutama jenis unplasticized PVC yang hanya dapat digunakan pada suhu di bawah 50 derajat Celsius. Material tersebut tidak dirancang untuk digunakan pada proses memasak dengan suhu tinggi.

Sementara itu, proses pembuatan kue putu membutuhkan uap air bersuhu sekitar 100 derajat Celsius agar pati beras sebagai bahan utama mengalami gelatinisasi pada suhu sekitar 80 derajat Celsius.

"Proses pengukusan kue putu menggunakan uap air bersuhu 100 derajat Celsius agar terjadi gelatinisasi pati beras pada suhu sekitar 80 derajat Celsius. Suhu tinggi inilah yang memicu migrasi atau perpindahan komponen plastik dari pipa ke dalam kue," jelasnya, dikutip dari laman resmi IPB.

"Suhu ini dapat mengakibatkan migrasi/perpindahan komponen plastik dari pipa paralon ke dalam kue putu. Pipa paralon umumnya dibuat dari plastik PVC terutama jenis unplasticized PVC yang hanya bisa digunakan pada suhu di bawah 50 derajat celcius," tuturnya. 

Ia menjelaskan bahwa paparan suhu tinggi pada material PVC dapat memicu pelepasan berbagai zat tambahan, termasuk stabiliser yang mengandung timbal (Pb). Jika terus-menerus masuk ke dalam tubuh, zat tersebut berpotensi mengganggu fungsi ginjal. Selain itu, terdapat kemungkinan migrasi monomer pembentuk PVC yang bersifat karsinogenik atau dapat memicu kanker.

Ilustrasi kue putu, kue tradisional yang dimasak dengan dikukus, biasanya menggunakan bambu sebagai alat pengukus. (Foto: iStock/lisatop)

KEMBALI GUNAKAN BAMBU

Sebagai solusi, Prof. Eko menyarankan pedagang kembali menggunakan cetakan bambu yang dinilai lebih aman sekaligus lebih ramah lingkungan. Menurutnya, penggunaan bambu juga membantu mempertahankan nilai kultural kuliner tradisional, selama kebersihannya tetap dijaga.

"Kalaupun harus menggunakan cetakan plastik, pastikan memilih jenis yang memang dikhususkan untuk pangan (food grade) dan tahan terhadap suhu tinggi," tambahnya.

Prof. Eko turut menekankan bahwa keamanan pangan bukan hanya menjadi tanggung jawab pedagang, tetapi memerlukan peran berbagai pihak, mulai dari pemerintah hingga masyarakat sebagai konsumen.

"Terkait keamanan pangan, maka otoritas keamanan pangan (BPOM), pemerintah daerah, dan perguruan tinggi dapat mengambil peran aktif untuk mengedukasi masyarakat," tutupnya.

Ia juga berharap masyarakat lebih cermat dalam memilih jajanan yang dikonsumsi. Dengan mengutamakan aspek keamanan pangan, kue putu tidak hanya tetap menghadirkan nostalgia, tetapi juga lebih aman untuk dinikmati.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ps(ar)

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan