Skip to main content
Iklan

praktis 101 Lifestyle

Bahaya abu vulkanik mengintai, bisa picu serangan jantung dan stroke

Tak hanya mengganggu pernapasan, paparan abu vulkanik juga bisa membahayakan mata, kulit, hingga pembuluh darah. Simak cara mencegah dan membersihkannya.  

Bahaya abu vulkanik mengintai, bisa picu serangan jantung dan stroke

Ilustrasi batuk dan nyeri dada atau sesak napas. (Foto: iStock/pocketlight)

Abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau telah menyebar ke sejumlah wilayah Jabodetabek sejak Minggu (6/9), membawa risiko kesehatan yang tak bisa disepelekan. Paparannya dapat memicu gangguan pernapasan, iritasi mata dan kulit, hingga peradangan pembuluh darah yang berkaitan dengan serangan jantung dan stroke.

Risikonya pun tak selalu muncul seketika karena gangguan saluran pernapasan dapat terjadi hingga satu atau dua minggu setelah terpapar.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin meminta masyarakat di daerah yang terdampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau untuk mewaspadai berbagai gangguan kesehatan yang mungkin muncul. Meski demikian, ia mengimbau masyarakat agar tidak panik dan sebisa mungkin tetap berada di rumah apabila tidak memiliki keperluan mendesak.

Udara yang tercemar dan masuk ke tubuh dapat mengganggu sistem pernapasan. Karena itu, masyarakat yang terpaksa beraktivitas di luar rumah disarankan memakai masker.

"Kalaupun harus keluar, jangan lupa pakai masker. Utamakan memakai masker dengan tipe KN95. Kalau tidak ada masker KN95 cari apapun masker yang ada atau setidaknya menutup hidung dan mulut," ungkap Menkes Budi dalam salah satu unggahannya di media sosial Instagram.

Tak hanya saluran pernapasan, paparan abu vulkanik juga berpotensi mengganggu kesehatan mata. Menurut Budi, partikel di dalam abu dapat berdampak pada penglihatan. Ia pun menyarankan masyarakat mengenakan kacamata ketika harus keluar ruangan.

Perempuan sedang menyapu lantai rumah yang tertutup abu vulkanik di Desa Pasauran, akibat erupsi Gunung Anak Krakatau, di Serang, Provinsi Banten, Indonesia, 6 September 2026. (Foto: REUTERS/Sammy)

JANGAN LANGSUNG DISAPU

Masyarakat juga diminta tidak sembarangan ketika membersihkan abu vulkanik yang sudah menempel di rumah. Budi tidak menganjurkan abu dalam kondisi kering langsung disapu karena partikelnya dapat kembali beterbangan.

"Kalau kita mau membersihkan abu, jangan disapu saat kering. Harus abunya disemprot dulu dengan air bersih agar basah supaya abunya tidak terbang kemana-mana saat dibersihkan," ujar Menkes.

"Baru sesudah basah dan lembap, kita bersihkan," tandasnya sambil kembali mengingatkan masyarakat untuk tidak panik.

Budi mengatakan, Kementerian Kesehatan akan terus berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) serta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk menangani kejadian tersebut.

PICU PENYAKIT

Kemenkes juga telah menerbitkan Surat Edaran (SE) No. KL.01.02/A/17765/2026 mengenai kesiapsiagaan dan perlindungan masyarakat terhadap dampak erupsi serta penyebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Dalam surat edaran itu, Kemenkes menjelaskan bahwa paparan abu vulkanik dapat menyebabkan gangguan saluran pernapasan berupa iritasi pada hidung dan tenggorokan, batuk, produksi dahak, mengi, rasa berat di dada, hingga sesak napas.

Paparan tersebut juga berpotensi memperburuk asma, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), bronkitis kronik, penyakit paru lainnya, serta penyakit jantung.

Pada mata, abu dapat menyebabkan kemerahan, rasa perih, berair, gatal, sensasi seperti ada benda asing, sampai abrasi kornea akibat gesekan partikel. Sementara pada kulit, paparan dapat memicu iritasi, kemerahan, gatal, maupun memperburuk penyakit kulit yang sudah ada.

Risiko lainnya adalah kontaminasi terhadap air dan pangan, khususnya pada sumber air terbuka, tempat penampungan air, serta bahan makanan yang tidak terlindungi. Abu vulkanik juga meningkatkan risiko cedera dan kecelakaan lalu lintas karena jarak pandang dapat berkurang dan permukaan jalan menjadi licin.

Melalui surat edaran yang sama, fasilitas kesehatan di kawasan berisiko turut diminta menjalankan berbagai langkah kesiapsiagaan, termasuk mengatur pelayanan selama 24 jam, menyediakan logistik kesehatan seperti masker, serta memastikan ketersediaan tenaga kesehatan.

Ilustrasi radang tenggorokan. (Foto: iStock/fadfebrian)

DAMPAK PADA PEMBULUH DARAH

Risiko paparan abu vulkanik ternyata tidak berhenti pada gangguan pernapasan. Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dr Vito A. Damay, SpJP (K), FIHA, FAsCC, FICA, mengingatkan bahwa abu vulkanik berbeda dari debu biasa sehingga masyarakat perlu lebih berhati-hati.

"Dia membuat kerusakan, injury, inflamasi atau peradangan pada pembuluh darah," ujar dr Vito dari unggahan akun Instagram-nya, Minggu (6/9).

Menurut Vito, kondisi tersebut penting diperhatikan mengingat serangan jantung dan stroke pada dasarnya berhubungan dengan gangguan pada pembuluh darah. "Dan ingat, kalau namanya serangan jantung atau stroke itu sebenarnya adalah masalah pembuluh darah," lanjutnya.

Karena itu, masyarakat yang berada di daerah terdampak atau berpotensi terkena abu vulkanik disarankan melakukan sejumlah langkah untuk meminimalkan paparan. Salah satunya dengan mempertimbangkan penggunaan filter udara untuk membantu menjaga kualitas udara di dalam rumah.

"Usahakan untuk aktivitas dalam rumah dengan filter udara, Kalau perlu keluar rumah, tentunya pakai masker, kalau perlu pakai masker N95," pesannya.
 

EFEK MUNCUL SATU MINGGU KE DEPAN

Guru Besar Departemen Ilmu Penyakit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Ari Fahrial Syam, turut mengingatkan bahwa dampak abu vulkanik terhadap kesehatan perlu diperhatikan, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

"Dampak abu vulkanik terhadap kesehatan masyarakat, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang harus menjadi perhatian masyarakat," kata Ari, Minggu, dikutip dari Kompas. 

Ari menegaskan, abu vulkanik bukan sekadar debu biasa. Partikelnya dapat masuk atau mengenai tubuh melalui berbagai jalur. "Partikel-partikel yang beterbangan dapat langsung mengenai mata, kulit, dan terhirup ke dalam saluran pernapasan," ucap dia.

Ketika mengenai mata, abu dapat menyebabkan rasa perih, kemerahan, dan mata berair. Kontak dengan kulit dapat memicu rasa gatal serta iritasi. Sementara jika terhirup, partikelnya berpotensi menyebabkan batuk, rasa tidak nyaman pada tenggorokan, sampai sesak napas.

Namun, gangguan pada saluran pernapasan tidak selalu hanya terjadi ketika seseorang sedang terpapar abu. "Hal yang perlu dipahami adalah dampak terhadap saluran pernapasan tidak selalu berhenti pada keluhan yang muncul saat paparan terjadi," ucap Ari.

Menurut Ari, partikel abu vulkanik yang terhirup dapat menetap di dalam sistem pernapasan dan kemudian menyebabkan iritasi serta peradangan.

"Gangguan saluran pernapasan bawah dapat muncul kemudian, termasuk dalam satu hingga dua minggu setelah paparan," kata dia.

Hal tersebut perlu diperhatikan karena erupsi Gunung Anak Krakatau masih berlangsung. Masyarakat pun diminta memperhatikan kondisi tubuh setelah mengalami paparan.

"Apabila setelah terpapar abu seseorang mengalami batuk yang semakin berat, demam, sesak napas, nyeri dada, atau kondisi fisiknya memburuk, pemeriksaan medis harus segera dilakukan. Karena bisa saja sudah terjadi infeksi paru," ucap dia.

Ilustrasi perempuan sesak napas dan memakai alat nebulizer. (Foto: iStock/Agung Putu Surya Purna Kristyawan)

Selain efek langsung dari paparan abu, Ari juga menyoroti paparan silika respirabel yang terkandung di dalam abu vulkanik. Paparan material ini secara signifikan dan berlangsung lama dapat menyebabkan silikosis, yaitu penyakit paru akibat penumpukan partikel silika yang menyebabkan peradangan dan jaringan parut pada paru.

Meski begitu, pemeriksaan laboratorium terhadap sampel abu yang turun dalam erupsi kali ini masih diperlukan untuk mengetahui kadar silika, terutama silika kristalin yang dapat terhirup. Dalam jangka panjang, paparan tersebut berpotensi menyebabkan penurunan fungsi paru.

Ari menekankan, tingkat risiko kesehatan tidak bisa dilepaskan dari berbagai faktor, mulai dari karakteristik abu hingga seberapa lama seseorang terpapar.

"Namun, risiko ini tentu bergantung pada komposisi abu, ukuran partikel, konsentrasi yang terhirup, serta intensitas dan lamanya paparan. Karena itu, analisis terhadap kandungan abu vulkanik menjadi penting untuk menilai risiko kesehatan secara lebih tepat," ucap dia.

Selain itu, tak hanya kesehatan fisik, Ari turut mengingatkan bahwa situasi bencana dapat menimbulkan dampak psikologis di masyarakat. "Kita bisa melihat di medsos begitu banyak pertanyaan akan dampak paparan debu pada tubuh manusia.Oleh karena itu, penanganan kesehatan pascabencana harus mencakup kesehatan fisik sekaligus psikologis," ujar dia.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ps(ar)

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan