Skip to main content
Iklan

Lifestyle

Aurelie Moeremans ungkap trauma grooming melalui buku Broken Strings, akun IG-nya mendadak diretas

Pengakuan Aurelie membuka diskusi soal bagaimana pengalaman manipulasi di usia remaja itu terasa dampaknya ketika ia beranjak dewasa.

Aurelie Moeremans ungkap trauma grooming melalui buku Broken Strings, akun IG-nya mendadak diretas

Aktris dan penyanyi Indonesia, Aurelie Moeremans, dalam salah satu unggahannya di media sosial. (Foto: Instagram/@aurelie)

JAKARTA: Aktris dan penyanyi Aurelie Moeremans mengungkap pengalaman traumatis yang ia alami sejak remaja melalui buku memoar berjudul Broken Strings. Dalam buku tersebut, Aurelie menceritakan bagaimana dirinya menjadi korban grooming saat berusia 15 tahun, sebuah pengalaman yang dampak emosionalnya baru benar-benar ia pahami ketika sudah dewasa.

Pengakuan itu pertama kali ia sampaikan secara terbuka lewat akun Instagram miliknya. "Buku ini adalah kisah nyata tentang aku. Tentang bagaimana aku di-grooming waktu umur 15 tahun oleh seseorang yang usianya hampir dua kali umur aku," tulis Aurelie, Minggu (11/1).

Grooming sendiri merupakan bentuk manipulasi yang dilakukan oleh orang dewasa terhadap anak di bawah umur melalui relasi kuasa yang timpang.

Dalam kasus Aurelie, proses tersebut tidak terjadi secara instan. Ia bermula dari pertemuan di lokasi syuting dengan seorang laki-laki bernama Bobby, nama samaran yang digunakan dalam buku.

Dari titik itu, relasi yang tampak biasa perlahan berubah menjadi jerat manipulasi yang kompleks.

Dalam Broken Strings, Aurelie menggambarkan bagaimana dirinya mengalami kontrol dan tekanan psikologis yang berlapis. "Tentang manipulasi, kontrol, dan proses pelan-pelan belajar menyelamatkan diri sendiri," tulis Aurelie.

Ia menegaskan bahwa kisah tersebut dituturkan sepenuhnya dari sudut pandang korban, tanpa kisah pemanis. "Ditulis tanpa romantisasi, dari sudut pandang korban," tulisnya. 

Aktris dan penyanyi Indonesia, Aurelie Moeremans, dalam salah satu unggahannya di media sosial. (Foto: Instagram/@aurelie)

GROOMING DAN JANJI PERNIKAHAN

Buku tersebut mengikuti perjalanan hidup Aurelie sejak masa kecilnya di Belgia, di mana ia tumbuh dengan berbagai keterbatasan dan dikenal sebagai anak yang pemalu.

Sejak usia dini, Aurelie telah berhadapan dengan pengalaman tidak menyenangkan seperti perundungan dan lingkungan yang keras. Namun, ia terus berusaha menjadi anak yang patuh dan baik.

Memasuki masa remaja, Aurelie mendapat kesempatan masuk ke industri hiburan Indonesia melalui ajang pencarian bakat yang membuka jalan ke dunia sinetron dan iklan.

Di fase inilah ia bertemu Bobby, sosok yang usianya hampir dua kali lipat darinya dan dengan cepat masuk ke kehidupan Aurelie serta keluarganya.

Hubungan tersebut berkembang menjadi semakin intens, meski sejak awal sudah memunculkan tanda-tanda berbahaya. Bobby digambarkan sebagai sosok yang menuntut perhatian, manipulatif, dan posesif. Perlahan, Aurelie dijauhkan dari lingkaran sosialnya dan terperangkap dalam hubungan yang toksik.

Dalam situasi tersebut, Aurelie bahkan dipaksa melakukan hubungan badan melalui manipulasi emosional. Ia tidak menyadari bahwa yang dialaminya merupakan bentuk kekerasan seksual karena tindakan itu dibungkus dengan janji pernikahan.

Seiring waktu, kondisi mentalnya semakin memburuk hingga akhirnya ia berusaha melepaskan diri dan menjalani proses pemulihan dari trauma yang tertanam lama.

Aktris dan penyanyi Indonesia, Aurelie Moeremans, dalam salah satu unggahannya di media sosial. (Foto: Instagram/@aurelie)

PENGARUH PADA KESEHATAN MENTAL

Fenomena trauma yang baru terasa saat dewasa dijelaskan oleh para ahli sebagai hal yang umum terjadi pada korban grooming. Psikolog klinis Arnold Lukito menjelaskan bahwa grooming merujuk pada hubungan romantik antara orang dewasa dan anak di bawah 18 tahun yang dibangun melalui tahapan sistematis.

"Jadi berarti usia dewasa yang punya hubungan romantik dengan usia anak. Jadi proses grooming ini kita spesifik mengacu kalau ada sebuah periode waktu di mana ada interaksi, ini bisa orang yang dikenal, bisa orang yang tidak dikenal," kata Arnold, dikutip dari Detik.

Ia menjelaskan bahwa proses tersebut sering dimulai dari tindakan yang terlihat manis dan tidak mencurigakan. "Lalu ada proses manipulasi misalnya dengan memberikan hadiah atau ajak jalan-jalan seperti itu, lama-lama kan mulai ada kontrol. Mulai pegang-pegang bagian tertentu, mulai ada kontak fisik yang tidak senonoh," paparnya.

Psikolog klinis Anastasia Sari Dewi menambahkan bahwa pada saat kejadian, anak belum memiliki kapasitas kognitif untuk memahami sepenuhnya apa yang sedang dialami.

"Anak dapat mengalami kebingungan, hingga trauma yang mungkin baru mulai muncul ketika sudah dewasa. Dia menyadari memorinya masih ada, tapi karena dia masih anak-anak, dia masih abstrak sensasi emosi yang dirasakan," ungkap Sari, kepada Detik.

Seiring bertambahnya usia, pemahaman terhadap batasan diri dan nilai sosial ikut berkembang. Memori yang sebelumnya terasa kabur kemudian ditafsirkan ulang dengan sudut pandang orang dewasa.

"Tapi begitu semakin dewasa, muncul pemahaman baru terhadap berbagai memori di masa lalunya, dikhawatirkan reaksi emosi yang sangat luar biasa besar, yang berpengaruh pada kesehatan mental dia berikutnya," pungkas Sari.

AKUN IG DIRETAS

Sejak dirilis secara gratis melalui media sosial dalam versi bahasa Indonesia dan Inggris, Broken Strings mendapat sambutan positif dari publik. "Sudah dibaca puluhan ribu orang. Dan cerita yang sudah menyentuh banyak hati, enggak bisa dihapus," tutup Aurelie.

Namun, keterbukaan tersebut juga diiringi tekanan lain. Aurelie mengungkap bahwa akun Instagram khusus untuk promosi buku Broken Strings diretas dan akhirnya menghilang. "Tahun 2025 ditutup dengan cukup absurd, akun aku berhasil dihack," ungkapnya.

Ia menyebut percobaan pembobolan terus terjadi sejak buku itu dirilis. "Aku sempat bikin akun khusus untuk buku aku, jadi semenjak aku rilis buku aku yang Broken Strings itu setiap hari ada yang coba masuk ke akun aku, email palsu, link link ngaco," paparnya.

Akun tersebut akhirnya dihapus setelah muncul notifikasi login mencurigakan. "Aku kan sempet bikin akun khusus untuk buku aku. Jadi kalo mau bahas soal buku bisa ada tempatnya sendiri. Nah, tiba-tiba akun aku di-suspend dan tiba-tiba ada notif login dari Bogor. Setelahnya akunnya di-delete lalu hilang dan postingan soal buku aku hilang semua," ucapnya.
 

Meskipun merasa kesal, Aurelie menegaskan bahwa akses pembaca terhadap bukunya tidak terhambat. "Sebel sih, cuma bukunya udah terlanjur banyak yang baca dan linknya masih ada di bio akun aku," akunya.

Ia juga menegaskan bahwa upaya digital tersebut tidak akan menghapus kisah yang telah ia bagikan. "Buat kamu yang suka ngehack, kamu bisa ngilangin akun buku aku, tapi enggak bisa ngilangin cerita aku," pungkasnya.

Broken Strings menjadi ruang bagi Aurelie untuk memulihkan diri sekaligus membuka diskusi tentang trauma sebagai korban grooming.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ps(da)

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan