Skip to main content
Iklan

Lifestyle

Aurelie Moeremans minta pembaca jangan bully karakter di Broken Strings

Ia menegaskan buku memoarnya itu bukan ajang menghakimi atau menyerang siapa pun.

Aurelie Moeremans minta pembaca jangan bully karakter di Broken Strings

Aktris dan penyanyi Indonesia, Aurelie Moeremans, dalam salah satu unggahannya di media sosial. (Foto: Instagram/@aurelie)

JAKARTA: Ramainya perbincangan tentang memoar Broken Strings membuat Aurelie Moeremans angkat bicara dan mengingatkan publik agar kembali pada esensi ceritanya. Ia menegaskan buku tersebut merupakan ruang berbagi pengalaman dan proses penyembuhan, bukan ajang menghakimi atau menyerang siapa pun.

Dalam buku memoar Broken Strings Aurelie secara terbuka membagikan pengalaman traumatisnya sebagai korban child grooming yang ia alami saat berusia 15 tahun. Cerita itu memicu diskusi luas terkait manipulasi seksual terhadap anak, serta spekulasi soal siapa sebenarnya sosok-sosok yang digambarkan dalam cerita.

Warganet ramai menebak-nebak identitas asli karakter Bobby, Jo, Mama Jo, Kelly, Milo, Zane, hingga Tom. Nama Roby Tremonti bahkan ikut terseret setelah ia merasa tersindir dengan karakter Bobby.

Menanggapi situasi tersebut, Aurelie Moeremans meminta pembaca buku memoarnya itu agar tidak berasumsi berlebihan, apalagi sampai melakukan perundungan terhadap karakter yang ada di dalam buku.

"Please.... Aku mau minta satu hal notes penting soal Broken Strings. Tolong jangan membully atau menyerang karakter-karakter yang ada di dalam buku, apalagi kalau itu masih sebatas tebakan-tebakan," tulis Aurelie Moeremans di media sosial Threds, Minggu (18/1).

Artis Aurelie Moeremans (kanan) dan musisi Roby Tremonti (kiri) ketika menjalin hubungan. (Foto: Tangkapan layar media sosial)

BELUM TENTU BENAR

Ia mengaku tidak nyaman membaca berbagai asumsi yang beredar di luar sana, terlebih karena kebenarannya belum tentu dapat dipastikan.

"Banyak asumsi di luar sana yang belum tentu benar, dan jujur aku nggak enak bacanya," sambungnya.

Aurelie menegaskan bahwa tujuan utama penulisan Broken Strings bukanlah untuk mengungkap atau mencari sosok nyata di balik karakter-karakter yang ia tuliskan.

"Fokus dari cerita ini bukan untuk mencari siapa-siapa di dunia nyata, bukan untuk menghakimi, apalagi mengeroyok. Fokusnya adalah pengalaman, luka, dan proses penyembuhan yang aku bagikan dengan sangat jujur," ungkapnya.

"Kalau ada orang yang mengaku sendiri sebagai karakter tertentu, itu urusan masing-masing ya, kalian bebas berpendapat soal itu. Tapi kalau hanya menebak-nebak dan lalu menyerang, plis jangan," tegas Aurelie.

Aurelie menutup pesannya dengan harapan agar ruang diskusi seputar Broken Strings tetap aman dan penuh empati, serta tidak berubah menjadi ajang perundungan baru.

"Aku nulis buku ini bukan untuk menciptakan target baru buat di-bully. Aku menulis karena ingin membuka mata, memberi awareness, dan semoga bisa membantu orang lain yang pernah berada di posisi yang sama. Let's keep this space kind, aman, dan penuh empati," pungkasnya.

CHILD GROOMING SERING TERSEMBUNYI

Di tengah perbincangan publik tersebut, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) menilai publikasi Broken Strings menjadi pengingat penting bahwa kekerasan terhadap anak adalah nyata dan dapat menimpa siapa saja. 

Menteri PPPA, Arifah Fauzi, menegaskan bahwa praktik child grooming merupakan ancaman nyata yang masih kerap terjadi di masyarakat dan sering berlangsung secara tersembunyi.

"Child grooming dan kekerasan seksual terhadap anak adalah ancaman yang serius dan kerap terjadi secara tersembunyi di sekitar kita. Pelaku biasanya membangun kedekatan dan kepercayaan anak secara bertahap sebelum melakukan eksploitasi dan kekerasan," ujar Arifah dalam keterangan resmi pekan lalu.

Ia menjelaskan bahwa praktik grooming dapat terjadi di berbagai lingkungan, mulai dari keluarga, komunitas, hingga satuan pendidikan. Pola pendekatan pelaku kerap terlihat wajar, sehingga luput dari pengawasan orang dewasa.

"Pemahaman masyarakat terhadap tanda-tanda awal grooming menjadi sangat penting sebagai langkah pencegahan kekerasan seksual terhadap anak. Kami berharap masyarakat dapat meningkatkan kewaspadaan dan melindungi anak-anak agar tidak terjebak dalam bujuk rayu pelaku," tambahnya.

Arifah juga menyoroti meningkatnya kasus child grooming di ruang digital seiring perkembangan teknologi. Media sosial, gim daring, dan berbagai platform komunikasi kerap dimanfaatkan pelaku untuk menjalin relasi dengan anak dan memanipulasi korban secara psikologis.

"Kondisi ini menuntut pengawasan yang lebih kuat dari orang tua, guru di sekolah, lingkungan keluarga dan masyarakat serta peningkatan literasi digital bagi anak," ujar Arifah.

"Kami mengajak orang tua, pendidik, dan masyarakat untuk lebih peka, membangun komunikasi terbuka dengan anak, serta berani bertindak jika menemukan tanda-tanda kekerasan atau grooming," katanya.

Apabila masyarakat menemukan indikasi child grooming atau kekerasan terhadap anak, laporan dapat disampaikan melalui Unit Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak terdekat atau layanan Sahabat Perempuan dan Anak di call center 129 dan WhatsApp 08111-129-129.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ps(da)

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan