Audit cinta: Para detektif India ini menguji kesetiaan dan mengungkap rahasia hubungan
Cinta membawa harapan – juga ketidakpastian. Semakin banyak warga India yang mencari kepastian sebelum dan setelah melangsungkan pernikahan, sehingga para detektif swasta pun turun tangan untuk menguji kepercayaan dan, terkadang, mencegah skandal secara diam-diam. Ikuti laporan Love Auditors dari CNA ini.
Meski pernikahan karena cinta hanya sebagian kecil dari keseluruhan pernikahan di India, jumlahnya terus meningkat – menjadikan “audit cinta” bisnis yang kian berkembang.
NEW DELHI: Ketika putri mereka mengumumkan bahwa dirinya telah bertunangan, Nitesh dan Vandana Sethi (bukan nama sebenarnya) tidak bersorak-sorai.
Pewaris utama kekayaan keluarga mereka jatuh cinta kepada seorang pria yang nyaris tidak mereka kenal, dan mereka telah mendengar berbagai rumor mengkhawatirkan tentangnya. Keberatan mereka tegas. Namun, sang putri bersikeras.
Di India, pernikahan jarang hanya dipandang sebagai penyatuan dua individu. Pernikahan juga merupakan aliansi strategis antarkeluarga, sehingga pernikahan lewat perjodohan tetap menjadi fondasi utama masyarakat India.
Pernikahan karena cinta memang terus meningkat, namun bentuk ini masih kerap dianggap suatu pembangkangan serta tidak aman karena tanpa pengecekan latar belakang oleh keluarga. Maka orang tua seperti Nitesh dan Vandana pun beralih ke detektif swasta untuk hal tersebut.
Salah satu perusahaan yang menawarkan jasa ini adalah Sleuths India, dijalankan oleh pasangan suami-istri Naman dan Nidhi Jain.
“Kami tidak bisa memprediksi hasil dari tiap kasus. Tapi, berdasarkan yang sudah saya (kumpulkan dari) mereka,” kata Naman, merujuk pada keluarga Sethi, “saya kira ... laki-laki itu agak mencurigakan.”
Pemeriksaan latar belakang sebelum pernikahan kini bagian terbesar dari pekerjaan agensi tersebut. Bermula dari segelintir kasus dua dekade lalu, mereka kini melakukan hampir 200 investigasi per bulan, ungkapnya.
Prosesnya sangat menyeluruh. Para detektif memeriksa riwayat keuangan, klaim pekerjaan, serta kebiasaan hidup, termasuk merokok atau penggunaan narkoba. “Apa pun yang dia lakukan, ke mana pun dia pergi,” kata Naman, “kami akan mengumpulkan ... video sebagai bukti.”
Para penyelidik ini mengatakan agensi tersebut mematuhi hukum. Namun, metode yang mereka gunakan sering kali berada di wilayah abu-abu secara etika.
Dalam kasus keluarga Sethi, penelusuran digital tim ini menemukan ketidaksesuaian dalam catatan tempat tinggal pria muda tersebut. Celah dalam riwayat pekerjaannya juga menunjukkan ia mungkin tidak sepenuhnya jujur.
Kecurigaan awal menguat ketika para detektif mengumpulkan informasi dari para tetangga. Satu warga menggambarkan pria itu sebagai “gelandangan” yang jarang bekerja. Namun, temuan yang disampaikan kepada orang tua calon pengantin perempuan itu gagal mengubah pendirian sang putri.
Sebagai “upaya terakhir”, agensi tersebut menguji kesetiaan pria itu. Satu agen perempuan menyamar sebagai pendatang baru di kota itu, mendekatinya dengan alasan sedang mencari apartemen. Percakapan mereka berlanjut menjadi undangan makan malam.
Kamera tersembunyi merekam pertemuan malam itu. Tak lama, arah percakapan pun berubah. Lelaki itu mengajak si perempuan ke klub malam, memuji bentuk tubuhnya, mengatakan ia bisa membayangkannya mengenakan bikini. Akhirnya, ia mengajak perempuan itu ke tempat tinggalnya.
Dihadapkan pada bukti tersebut, hati sang putri pun hancur, dan ia tak lagi menentang. Pertunangan itu lantas dibatalkan.
Semakin banyak anak muda mencari pasangan sendiri di lanskap modern India, di mana persetujuan keluarga masih berpengaruh besar, bisnis “audit cinta” tampaknya berkembang pesat. Dalam laporan Love Auditors, CNA mengikuti para detektif yang bekerja di garis batas antara cinta dan kepercayaan.
TONTON: Detektif cinta India — Pemeriksaan latar belakang sebelum menikah mengungkap perselingkuhan tersembunyi (44:55)
MEMBURU PELAKU PEMERASAN SEKSUAL
Pacar yang mencurigakan dan pemeriksaan pranikah hanyalah sebagian dari bisnis ini. Agensi tadi juga dipanggil ketika “cinta” digunakan sebagai alat tekanan.
Dalam satu kasus, seorang pebisnis berusia 65 tahun memutuskan untuk menjalani apa yang ia yakini sebagai perselingkuhan diam-diam ketika satu mantan karyawatinya tertangkap mencuri darinya, lantas menawarkan hubungan seksual sebagai ganti uang yang ia curi.
Namun perempuan itu justru membalikkan keadaan. Merekrut suaminya untuk membantu, ia merekam sang pebisnis dalam keadaan setengah telanjang, lalu pasangan tersebut mengancam akan menyebarkan video itu jika ia tidak membayar US$200.000 (Rp3,6 milyar). Ia diberi waktu 48 jam.
“(Mereka berpikir) pria ini adalah target yang rentan,” kata Naman. “Dia punya istri dan anak. Dan (para pemeras itu) tahu jika dia coba main-main, itu akan menjadi masalah besar (baginya).”
Si pebisnis berhasil menegosiasikan pengurangan jumlah uang yang diminta, sekaligus membeli waktu, sementara suami pelaku pemerasan menyetujui angka US$27.000.
Para detektif berhasil mengidentifikasi pasangan tersebut, tetapi kesulitan menemukan lokasi mereka. Pilihan terbaik adalah mencegat tersangka saat penyerahan uang. Bekerja sama dengan polisi setempat, agensi itu menyusun operasi penyergapan untuk mengambil rekaman tersebut.
Namun, ketika menangkap tersangka, mereka menyadari telepon genggam berisi rekaman itu berada di tangan istrinya, di lokasi lain di kota tersebut.
Saudara laki-laki si perempuan didatangkan untuk membujuknya menyerahkan diri, dan rekaman itu pun berhasil diamankan. Skandal itu tidak sampai menjadi konsumsi publik. Keluarga si pebisnis mungkin tidak akan pernah tahu betapa dekat mereka dengan guncangan.
“Jika ada krisis apa pun (bagi korban pemerasan), itu karena kami berurusan dengan para penjahat,” kata Naman. “Kami berurusan dengan rahasia-rahasia kelam manusia.”
MENGUNGKAP KENYATAAN PAHIT
Akan tetapi, tak semua kasus yang sulit bersifat kriminal. Ada beberapa yang melibatkan rahasia tertentu yang terlalu menyakitkan untuk terus dipendam.
Setelah 12 tahun menikah, seorang ibu rumah tangga mulai mencurigai suaminya gay. Sang suami menolak keintiman, meski dalam aspek lain ia perhatian – seorang ayah yang berdedikasi dan peduli keluarga. Selama bertahun-tahun, sang istri memilih untuk tidak menelusuri lebih jauh.
“Tapi sekarang saya sadar saya tidak bisa hidup dalam kebohongan ini,” katanya kepada seorang detektif. “Saya harus mengakhiri pernikahan ini.”
Untuk mendapatkan hak asuh atas putrinya, ia butuh lebih dari sekadar kecurigaan. Ia memerlukan bukti perselingkuhan.
Upaya pertama agensi tersebut, dengan persetujuannya, adalah memasang alat penyadap di mobil keluarga. Namun, selama dua minggu, perangkat itu tidak merekam apa pun.
Karena itu, seorang agen pria yang menyamar, dilengkapi kamera tersembunyi dalam jaket, ditempatkan di lingkaran pergaulan suaminya.
Dalam satu pertemuan, sang suami terdengar mengusulkan untuk menikmati pijat bersama dan terlihat memegang tangan agen tersebut saat duduk di meja. Para detektif menyimpulkan bahwa bukti rekaman yang diperoleh memenuhi ambang hukum pembuktian perselingkuhan.
Bukti di pengadilan itu pun menjadi sumber patah hati sekaligus ketenangan batin bagi sang istri. “Setelah 12 tahun menikah, sangat sulit baginya untuk tidak hanya tetap diam, tetapi juga tetap tenang,” kata Nidhi.
Dia perempuan yang sangat kuat. Dia belum mengungkapkan apa pun, secara tidak sengaja (pun tidak).
Dalam masyarakat yang terjebak di antara tradisi budaya dan keinginan-keinginan pribadi, “tiap orang menderita karena satu atau lain hal dalam hidup mereka”, ujar Naman. “Sebagaimana Anda butuh dokter (dan) pengacara dalam hidup, ternyata Anda juga butuh detektif.”
Dalam urusan hati, tambah Naman, cinta itu buta. Maka penyelidik seperti dirinya menawarkan “mata” ketika kepercayaan barangkali telah diletakkan pada orang yang salah.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.