Skip to main content
Iklan

Lifestyle

Ramai tren performative male: Ketika cowok minum matcha, pakai tote bag, dan baca buku sastra

Di Jakarta, kawasan Blok M kerap disebut sebagai "habitat" para performative male yang suka membahas film indie atau kesetaraan gender. Namun, tren ini memantik pertanyaan: apakah mereka pria green flag atau hanya mencari validasi dengan tampil estetik?

Ramai tren performative male: Ketika cowok minum matcha, pakai tote bag, dan baca buku sastra
Performative male merujuk pada pria yang menampilkan citra seolah memiliki kesadaran sosial dan emosional tinggi. (Foto: iStock/ATHVisions)
05 Aug 2025 10:57AM (Diperbarui: 15 Oct 2025 04:14PM)

JAKARTA: Fenomena performative male sedang menjadi topik hangat di kalangan Gen Z, khususnya di media sosial. Istilah ini awalnya muncul dari bahasa Inggris dan kini ramai digunakan netizen, bahkan memicu diskusi di berbagai platform. 

Banyak yang penasaran, apa sebenarnya arti performative male dan mengapa konsep ini begitu populer?

APA SIH PERFORMATIVE MALE?

Secara sederhana, performative male merujuk pada pria yang menampilkan citra seolah memiliki kesadaran sosial dan emosional tinggi, sering kali demi validasi, terutama dari perempuan

Ciri khasnya? Bayangkan seorang pria duduk di coffee shop sendirian, membaca buku sastra feminis seperti The Bell Jar, menyeruput oat matcha latte, mengenakan kemeja oversized dengan kaos putih di dalam, membawa tote bag dengan warna netral, memakai sneaker vintage, dan mendengarkan lagu Clairo atau Laufey lewat wired earphone.

"Being emotionally available is the new sexy." Kalimat ini dianggap cocok mewakili persona para performative male yang tampil estetik demi memenuhi female gaze.

Performative male sering dikaitkan dengan istilah nice guy. (Foto: iStock/LightFieldStudios)

Namun, istilah ini tidak hanya soal penampilan. Ada dimensi perilaku dan identitas yang lebih dalam.

Menurut laman Urban Dictionary, performative male sering dikaitkan dengan istilah nice guy, atau pria yang berpura-pura menyukai hal-hal yang dianggap disukai perempuan, mulai dari K-pop, tote bag, sampai buku sastra. 

Semua ini dilakukan agar terlihat menarik dan membentuk citra tertentu, meskipun terkadang tidak mencerminkan kepribadian asli.

"Pria yang berusaha menyukai hal tersebut kemudian menampilkannya di publik bisa disebut dengan istilah performative male," tulis Urban Dictionary. Tujuannya jelas: menarik perhatian perempuan.

BERAKAR DARI GENDER

Fenomena ini memiliki dasar teori dalam kajian gender. Konsep doing gender dari Candace West & Don Zimmerman (1987) dan gagasan Judith Butler menekankan bahwa gender adalah performatif sosial, bukan bawaan lahir. 

Artinya, maskulinitas dibentuk melalui serangkaian tindakan yang sesuai ekspektasi masyarakat.

Penelitian Hsing-Yuan Liu di International Journal of Environmental Research and Public Health (2022) menjelaskan konsep performative masculinity sebagai "pura-pura jagoan supaya terlihat maskulin di muka umum."

Tren performative male menampilkan citra pria yang "penuh kesadaran sosial" atau "woke" yang dianggap menarik oleh perempuan. (Foto: iStock/Young777)

Liu menambahkan bahwa perilaku maskulin sering kali merupakan hasil pengulangan tindakan yang dianggap wajar, sehingga tampak alami, padahal itu konstruksi sosial.

Dalam studi Liu, bahkan pria di dunia keperawatan, yang kerap dilabeli feminin, merasa perlu menonjolkan sikap tangguh, kuat, dan emosional stabil untuk mempertahankan citra maskulin. 

Ini menunjukkan bahwa performative masculinity hadir bukan hanya di dunia fashion atau gaya hidup, tetapi juga memengaruhi perilaku profesional.

Di Jakarta, kawasan Blok M kerap disebut sebagai "habitat" para performative male yang suka membahas film indie atau kesetaraan gender.

Sementara, tren performative male yang viral di media sosial belakangan ini justru menampilkan citra "penuh kesadaran sosial" atau "woke" yang dianggap menarik oleh perempuan atau oleh komunitas progresif. 

Mereka menunjukkan minat pada feminisme, seni, dan kepekaan emosional, meski terkadang ini hanya strategi branding, bukan refleksi autentik.

FENOMENA LAMA, WAJAH BARU

Meskipun viral belakangan ini, konsep performative male bukan hal baru. Di era second-wave feminism (1970-an), banyak pria mengaku mendukung gerakan perempuan, tetapi hanya untuk mendekati perempuan atau menghindari kritik. 

Mereka tampak pro-feminis, namun tetap melakukan mansplaining atau menghindari tanggung jawab emosional.

Tahun 90-an hingga awal 2000-an, muncul sosok "pria bohemian" atau sad boys dalam budaya pop, seperti karakter film Reality Bites dan High Fidelity. 

Mereka tampil emosional dan mendalam, tetapi sering kali manipulatif. 

Kini, estetikanya berevolusi mengikuti zaman, dari puisi dan musik eksperimental ke matcha, tote bag, dan diskusi kesetaraan gender di kafe.

MENGAPA MUNCUL LAGI?

Pandemi mengubah ruang sosial dan gaya komunikasi, mendorong banyak pria untuk melakukan rebranding: tampil lebih peka, mendalami seni, dan seolah mendukung isu gender. 

Di Jakarta, fenomena ini bahkan merambah ke ruang offline. Kawasan seperti Blok M disebut sebagai "habitat" para performative male yang suka membahas film indie atau kesetaraan gender.

Lucunya, tren ini sampai melahirkan kompetisi "siapa paling performative male" yang digelar di Taman Langsat pada 2 Agustus 2025 lalu. 

Salah satu akun Twitter, @Ica_didindin9, menulis, "Pemenang acara ini sejatinya menggambarkan sosok kepura-puraan atau hanya perform belaka dalam mendukung kesetaraan," yang semakin memperkuat kontroversi istilah ini.

Namun, meski sering dianggap gimmick, apakah fenomena ini selalu negatif? 

Dari sisi sosial, performative male bisa menjadi bentuk false allyship: dukungan semu yang hanya bersifat visual, sehingga memperkuat status quo tanpa perubahan mendasar. 

Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa sebagian pria ini memang benar-benar membaca buku sastra maupun buku feminis yang mereka bawa dan berkomitmen mendukung kesetaraan gender.

Jadi, apakah ini hanya strategi branding cowok-cowok Gen Z untuk menarik perhatian perempuan? Atau ini merupakan langkah awal menuju kesetaraan? 

Pada akhirnya, penilaian ada di tangan kita: apakah mau melihat tren ini sebagai gimmick belaka, atau memberi para pria kesempatan membuktikan kesungguhan mereka di balik estetika.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ps

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan