Skip to main content
Iklan

Lifestyle

Avatar: Fire and Ash banjir review buruk dari kritikus, durasi terlalu lama dengan cerita kedodoran

Visual Pandora memang tetap yang megah, namun ceritanya dinilai kehilangan arah. Gaya penyutradaraan James Cameron terasa ketinggalan zaman dan membosankan.

Avatar: Fire and Ash banjir review buruk dari kritikus, durasi terlalu lama dengan cerita kedodoran

Salah satu potongan adegan dalam film Avatar: Fire and Ash. (Foto: Dok. 20th Century Studios)

Film terbaru semesta planet Pandora, Avatar: Fire and Ash, akhirnya tayang pada hari Kamis (18/12), namun langsung diserbu oleh review pedas sejumlah kritikus internasional. Dengan durasi nyaris tiga jam, karya sutradara James Cameron ini dinilai terasa kehilangan daya magisnya, dengan konflik cerita yang melebar ke mana-mana namun tak mampu menciptakan emosi yang benar-benar mengikat penonton.

Avatar: Fire and Ash merupakan itirasi ketiga dari Avatar The Way of Water (2022) dan Avatar (2009). Berselang tiga tahun dari film kedua, film yang mengangkat kisah para Na'vi masih dibintangi oleh Sam Worthington, Zoe Saldaña, dan Stephen Lang.

Pasangan Jake Sully (Sam Worthington) dan Neytiri (Zoe Saldaña) masih berjuang menghadapi kehilangan putra mereka, Neteyam (Jamie Flatters). Keluarga Sully berusaha membangun kembali kehidupan mereka bersama klan Metkayina. Namun, ketenangan itu terguncang ketika muncul kelompok Na'vi baru yang jauh lebih agresif, klan Mangkwan,

Dikenal sebagai Ash People, klan Mangkwan merupakan para penghuni wilayah vulkanik yang keras. Klan ini dipimpin oleh seorang prajurit tangguh bernama Varang (Oona Chaplin).

Konflik pun berkembang, Pandora kini menghadapi perpecahan dari dalam bangsanya sendiri. Jake dan Neytiri kembali dipaksa berhadapan dengan musuh lama ketika Kolonel Miles Quaritch (Stephen Lang) muncul lagi dan terlibat dengan Varang serta klannya.

Keluarga Sully harus menavigasi rasa kehilangan, kesetiaan, dan eskalasi kekerasan yang mengancam rumah serta semua yang mereka perjuangkan.

Jarak 13 tahun antara film pertama Avatar (2009) dan sekuelnya The Way of Water (2022) memberi ruang bagi penonton untuk kembali merasakan rasa takjub terhadap dunia Pandora yang megah secara visual. Kehadiran klan baru, makhluk baru, serta lingkungan yang berbeda membuat dunia ciptaan Cameron terasa segar kembali.

Namun, Avatar: Fire and Ash (2025) hadir hanya tiga tahun setelah The Way of Water, bahkan secara naratif hanya berselang beberapa minggu dari peristiwa film sebelumnya. Alhasil, rasa kebaruan itu dinilai mulai memudar.

Salah satu potongan adegan dalam film Avatar: Fire and Ash. (Foto: Dok. 20th Century Studios)

BANJIR REVIEW BURUK

Dua film awal, Avatar (2009) dan Avatar: The Way of Water (2022) merupakan magnet box office dan langganan penghargaan. Keduanya masing-masing menempati posisi film terlaris pertama dan ketiga sepanjang masa secara global, dengan pendapatan gabungan lebih dari US$5,2 miliar dolar AS, menurut laporan The Hollywood Reporter.

Kedua film itu juga masuk nominasi Film Terbaik di Academy Awards. Film pertama membawa pulang tiga piala tambahan untuk Arahan Artistik Terbaik, Sinematografi Terbaik, dan Efek Visual Terbaik, sementara The Way of Water memenangkan Efek Visual Terbaik.

Namun, respons kritikus terhadap Avatar: Fire and Ash sangat pedas. Kritikus BBC, Nicholas Barber, bahkan hanya memberi rating satu dari lima bintang, dan menyebut film ini sebagai yang "terpanjang dan terburuk" dalam seri Avatar.

Bradshaw juga menyinggung soal penggunaan teknologi 3D yang masih dipertahankan Cameron. "Saat sebagian besar industri film diam-diam meninggalkan 3D, bioskop yang menayangkan film James Cameron selama tiga jam ini terpaksa masih membagikan kacamata 3D kepada para penonton," tulisnya.

Menurut Barber, 16 tahun setelah film pertama, daya tarik planet fiktif Pandora sudah memudar. Ia menyebut gaya penyutradaraan Cameron terasa "ketinggalan zaman" dan "eksperimen yang waktunya telah berlalu", bahkan menilai film ini tampak "seaneh dan tidak imersif, seperti gim arcade lawas".

Salah satu potongan adegan dalam film Avatar: Fire and Ash. (Foto: Dok. 20th Century Studios)

Pendapat senada juga diungkapkan kritikus film dari The Guardian, Peter Bradshaw, tang menyebut film ini sebagai "film yang lama, absurd, dan membosankan." Menurutnya, di luar beberapa momen dramatis, film ini terasa "tidak menarik".

Kritikus IndieWire David Ehrlich juga menilai Cameron "akhirnya kehilangan pijakan". Ia menyebut film ini menandakan kali pertama "tidak ada yang baru" dari karya seorang James Cameron, dengan cerita yang "berputar-putar selama tiga jam".

Meskipun demikian, Ehrlich memuji skala produksi dan kualitas visual film ini yang "bersih, masif, dan ditata di level jauh di atas standar CGI Hollywood kebanyakan".

Sementara itu, kritikus USA Today Brian Truitt menyoroti banyaknya subplot yang tak berujung, pengembangan karakter yang terasa acak, serta pola cerita yang terasa dipinjam dari film-film sebelumnya. Ia juga mengkritik durasi tiga jam yang dinilai memperlihatkan hasil yang makin menurun dari waralaba Avatar.

Ia melanjutkan, "Seperti biasa, visual film ini mengesankan tapi sekaligus terasa aneh. Miliaran piksel diproses untuk menciptakan dunia digital raksasa dengan detail nyaris tak terbatas. Alhasil, ketika ada wajah manusia muncul, mereka jadi tampak janggal dan justru seolah hasil Photoshop."

Salah satu potongan adegan dalam film Avatar: Fire and Ash. (Foto: Dok. 20th Century Studios)

Namun tidak semua kritik bernada negatif. Kritikus Variety, Owen Gleiberman, menilai Fire and Ash lebih baik dibanding film kedua, The Way of Water.

Ia menyebut film ini "lebih berani dan lebih rapat", dengan cerita yang lebih fokus secara dramatis serta tetap menyajikan sejumlah momen yang memukau.

Penulis Polygon, Matt Patches, menyebut film ini sebagai "tamparan terbesar" bagi konten AI yang asal jadi, dengan menyebut Cameron dan tim efek visualnya menempuh "upaya yang nyaris tak terbayangkan" demi menghadirkan visual megah tersebut.

Poster film Avatar: Fire and Ash. (Foto: Instagram/@marvels.wolverine)

CAMERON INGIN MOVE ON

Meski demikian, untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, James Cameron mengisyaratkan kesiapannya untuk tak lagi terlibat langsung dalam saga Avatar.

"Aku masih punya cerita lain untuk diceritakan, termasuk di dalam Avatar," ujar Cameron dalam laporan The Hollywood Reporter.

"Aku tak mau terjebak hanya membuat Avatar selama bertahun-tahun. Aku akan mencari cara lain agar ada lebih banyak kolaborasi. Bukan aku berhenti menyutradarai saga ini, tapi aku akan mengurangi keterlibatan langsung di setiap detail prosesnya."

James Cameron sendiri kini masuk jajaran sutradara miliarder. Forbes melaporkan pada Minggu (14/12) bahwa kekayaan Cameron diperkirakan mencapai US$1,1 miliar dolar.

Selain waralaba Avatar yang menjadi mesin uang raksasa, Cameron juga menyutradarai Titanic (1997), yang sempat menjadi film terlaris sepanjang masa sebelum rekornya ia pecahkan sendiri lewat Avatar pada 2009.

Ia juga berada di balik dua film Terminator, serta Aliens dan True Lies, memperkuat statusnya sebagai salah satu nama paling berpengaruh dalam sejarah perfilman modern.

Masih ada dua sekuel Avatar lagi yang sudah direncanakan. Saat ini, Avatar 4 dijadwalkan rilis pada 21 Desember 2029, dan Avatar 5 akan menutup saga lima bagian ini pada 19 Desember 2031.

Film Avatar: Fire and Ash tayang di bioskop Indonesia mulai Kamis, 18 Desember 2025. 

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ps(da)

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan