Skip to main content
Iklan

Lifestyle

Lelah hidup hemat terus? Ini alasan kita sering boros kecil-kecilan

Mengapa di tengah kondisi ekonomi yang memprihatinkan, kita justru gampang tergoda checkout skincare diskon yang tidak kita butuhkan, ingin mencicipi kopi susu viral, atau mencoba kafe baru yang nongol di TikTok?

Lelah hidup hemat terus? Ini alasan kita sering boros kecil-kecilan

Hangout bersama sahabat setelah bekerja di kafe yang menyediakan kopi susu viral di media sosial. (Foto: iStock/Chong Kee Siong)

17 Apr 2025 11:22AM (Diperbarui: 17 Apr 2025 11:26AM)

JAKARTA: Setiap kali kita bilang, "Enggak jajan dulu deh, lagi ngirit," eh tahu-tahu kita malah checkout skincare diskon yang tidak kita butuhkan, ingin mencicipi kopi susu viral, atau mencoba kafe baru yang nongol di TikTok. 

Rasanya absurd: di tengah kondisi ekonomi yang katanya lagi gonjang-ganjing dan penghasilan kita pas-pasan, tapi kita tetap beli hal-hal kecil yang tidak penting-penting amat. 

Kenapa sih kita seperti 'lapar mata' terus, padahal jelas-jelas lagi mencoba bertahan secara finansial di tengah ketidakpastian ekonomi saat ini?

Ternyata, ini bukan cuma soal impulsif. Dalam ilmu psikologi perilaku, fenomena ini dikenal sebagai Lipstick Effect — sebuah bentuk pengalihan emosi ketika kondisi ekonomi bikin stres, dan kita butuh "hadiah kecil" untuk merasa waras.

Di tengah tekanan hidup yang makin kompleks, boros kecil-kecilan justru jadi bentuk bertahan hidup. Terdengar kontradiktif, tapi justru masuk akal ketika kita lihat fenomena ini lebih dekat.

Fenomena lipstick effect pertama kali dicetuskan oleh miliarder sekaligus pewaris Estée Lauder Companies, Leonard Lauder, setelah ia mencatat lonjakan penjualan lipstik perusahaannya usai peristiwa 9/11 pada tahun 2001.

Saat itu, istilah ini merujuk pada "kecenderungan penjualan produk makeup perempuan yang meningkat saat ekonomi menurun," kata Colleen Kirk, peneliti perilaku konsumen sekaligus profesor pemasaran di New York Institute of Technology School of Management. 

Dengan kata lain, ketika ekonomi melemah, pengeluaran perempuan untuk kosmetik justru meningkat.

Meski namanya mengacu pada produk kecantikan, lipstick effect tidak terbatas pada industri kosmetik semata. Fenomena ini bahkan digunakan sebagai indikator ekonomi yang lebih luas.

Menghabiskan waktu bersantai menikmati jajanan di kafe viral. (Foto: iStock/PeopleImages)

Itulah alasan di tengah kondisi ekonomi yang memprihatinkan, tiket konser justru cepat habis, antrean panjang terlihat demi boneka Labubu, dan produk Apple terbaru tetap laris manis.

Secara psikologis, fenomena lipstick effect hampir serupa dengan doom spending, ketika kita cemas soal uang akibat berita-berita buruk ekonomi belakangan ini, dan membuat kita justru ingin melupakan semua itu dan memanjakan diri dengan uang yang kita miliki.

Berbeda dengan doom spending, yang membuat kita menghabiskan uang untuk membeli barang-barang mewah macam tas mahal, lipstick effect justru adalah fenomena di mana kita menghabiskan uang untuk hal-hal kecil yang tampaknya menimbulkan kebahagiaan — lipstik, kopi kekinian, atau bahkan tumbler lucu edisi terbatas. 

"Kamu mungkin tidak beli Rolex atau Apple Watch, tapi meskipun sedang menghadapi krisis ekonomi, kamu tetap bisa beli kaus lucu atau lipstik karena itu memberi rasa bahagia dan ilusi bahwa kamu tetap pegang kendali di kondisi yang tidak pasti," jelas Ratih Ibrahim, pendiri dan direktur Personal Growth Counseling and Development Center di Jakarta, dikutip dari The Jakarta Post.

Ini bukan cuma gaya hidup. Tren ini kian umum terutama di kalangan Gen Z.

Survei Inventure tahun 2024 tentang Indonesia Market Outlook 2025 menunjukkan bahwa lipstick effect kemungkinan besar kini tengah memengaruhi Gen Z. 

Ironisnya, survei tersebut menemukan bahwa 34 persen responden Gen Z pernah menggunakan pinjaman online atau peer-to-peer lending (P2P) dalam enam bulan terakhir pada September 2024.

Managing Partner Inventure, Yuswohady menjelaskan fenomena pinjaman P2P di kalangan Gen Z ini melalui lensa lipstick effect. Ia mencatat bahwa ketidakpastian ekonomi justru memperkuat efek tersebut di generasi muda.

"Seiring tekanan finansial yang semakin besar, banyak anak muda dari Gen Z mencari pelarian lewat kemewahan kecil seperti produk kecantikan, pakaian bermerek, atau aksesori mungil," ujarnya, dikutip dari Tempo.

Hangout bersama sahabat setelah bekerja di kafe yang menyediakan jajanan viral di media sosial. (Foto: iStock/bernie_photo)

Meskipun fenomena lipstick effect ini manusiawi dan wajar terjadi, penting juga buat kita untuk tetap waspada. Boros kecil-kecilan memang terasa sepele, tapi kalau dibiarkan terus-menerus bisa jadi kebiasaan yang diam-diam menggerus kondisi keuangan.

Cara menghindarinya? Bukan dengan menekan diri habis-habisan, tapi dengan lebih sadar saat belanja. 

Tanyakan pada diri sendiri: "Ini benar-benar butuh, atau cuma keinginan sesaat?" 

Sesekali memanjakan diri itu sah, asal tetap dalam kendali. Karena di tengah dunia yang serba tidak pasti, justru keseimbangan antara 'self-care' dan 'self-control' yang akan bantu kita tetap waras, serta tetap aman secara finansial.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ps

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan