Skip to main content
Iklan

Lifestyle

Animasi 'AI slop' merendahkan perempuan, tampilkan kartun hewan dengan candaan seksis

Sekilas tampak seperti hiburan ringan, kartun buatan AI yang tengah viral justru memengaruhi cara pandang terhadap perempuan, terutama pada anak-anak.

Animasi 'AI slop' merendahkan perempuan, tampilkan kartun hewan dengan candaan seksis

Video animasi buatan AI, atau AI slop, yang viral ini meniru kartun anak-anak, namun mengandung stereotip seksis yang merendahkan perempuan. (Foto: TikTok/@Happytoon_kids, TikTok/@ojoenlafama)

Jika kita scroll platform media sosial berbasis video, seperti TikTok dan YouTube, mudah sekali menemukan berbagai animasi buatan AI, atau AI slop, yang menampilkan cerita ringan dalam durasi pendek. Dibungkus dengan karakter lucu, biasanya berbentuk hewan, video animasi seperti ini sering kali menyelipkan alur cerita yang merendahkan perempuan.

Misalnya saja, ada animasi tentang seekor rubah perempuan yang berselingkuh dari pasangannya, seekor beruang, dengan ular kobra, lalu melahirkan bayi kobra. Ada juga kisah seekor kucing yang lebih mengejar harta dan meninggalkan suami serta anaknya. Di video lain, sebuah pisang menghamili dua anggur seksi lalu meninggalkan anak-anaknya demi pepaya yang pemalu.

Empat video ini saja sudah mengumpulkan lebih dari 2 juta likes di TikTok.

Di berbagai platform media sosial, konten animasi AI seperti ini mulai menyisipkan candaan bernuansa seksual dalam format kartun anak-anak, dan banyak di antaranya menjadi viral.

Karakter seperti anggur, kucing, dan rubah sering digambarkan dengan payudara untuk menandakan bahwa mereka perempuan, biasanya sebagai tokoh antagonis.

Meski tampil seperti tontonan anak, tema yang diangkat justru berkisar pada perselingkuhan, penghinaan, dan kekerasan, dengan karakter perempuan yang digambarkan sebagai pemburu harta, pembohong, atau berpikiran dangkal.

Kombinasi karakter kartun yang kekanak-kanakan dengan drama ala sinetron yang absurd ini membuat banyak netizen menonton sampai habis. Ini mendorong algoritma untuk terus menyajikan video serupa.

Mungkin terasa tidak berbahaya, tampak seperti aktivitas sekadar scrolling tanpa perlu berpikir. Tapi ini bukan cuma "brain rot". Para pakar memperingatkan bahwa video semacam ini bisa membentuk dinamika gender dan norma sosial dalam jangka panjang.

 

Video animasi pendek yang dulunya mungkin membutuhkan waktu berhari-hari untuk diproduksi, kini dapat dibuat oleh satu orang dalam hitungan menit dengan menggunakan AI tools. (Foto: iStock/Dragos Condrea)

VIDEO KONTROVERSIAL LARIS MANIS

Konten yang memicu perdebatan di media sosial bukan hal baru. Algoritma mendorong konten seperti ini karena memicu reaksi emosional yang lebih kuat dan membuat orang bertahan lebih lama. Namun, kemudahan membuat konten menggunakan AI membuat fenomena ini makin marak.

Sebelum era AI generatif, pembuatan video animasi pendek membutuhkan waktu berhari-hari, mulai dari penulisan naskah, storyboard, ilustrasi, animasi, rekaman suara, hingga editing, dan biasanya melibatkan banyak kreator. Sekarang, satu orang saja bisa membuatnya dalam hitungan menit dengan beberapa tools AI dengan total biaya berlangganan yang terbilang murah.

Akibatnya, banyak kreator membanjiri media sosial dengan konten AI yang kemudian diamplifikasi oleh algoritma. Bahkan, data menunjukkan lebih dari 20 persen video yang ditampilkan ke pengguna baru YouTube adalah AI slop.

"Sebagian besar platform media sosial mendorong konten yang ramai ditonton, bukan yang berkualitas," kata Natalie Pang, kepala sekaligus profesor di Departemen Komunikasi dan Media Baru, National University of Singapore.

"Ide atau pola yang merendahkan perempuan bisa memicu reaksi emosional yang meningkatkan visibilitas. Algoritma biasanya dilatih untuk mengenali konten yang sedang tren, jadi konten yang memicu banyak reaksi dan kemudian dibagikan serta dibahas akan semakin disukai algoritma," jelasnya.

Perhatian kamu sedang dimonetisasi oleh "pabrik konten" AI. Menurut studi tahun 2025 terhadap 15.000 channel YouTube paling populer di dunia, 278 di antaranya sepenuhnya berisi AI slop. Secara total, berbagai channel ini mengumpulkan 63 miliar views dan menghasilkan lebih dari US$117 juta (setara sekitar Rp1,8 triliun) per tahun.

Aplikasi media sosial di sebuah ponsel, 16 April 2026. (Foto: EPA/ANDY RAIN)

CANDAAN YANG MERENDAHKAN PEREMPUAN

Kebanyakan dari kita mungkin tidak akan menonton video tentang perempuan yang berselingkuh, lalu dipermalukan. Jadi kenapa kita mau menonton versi yang sama tapi dalam bentuk animasi, dengan karakter buah yang lucu?

Humor dan absurditas dari karakter berlebihan, alur cerita aneh, dan narasi yang canggung bisa menjadi semacam "kamuflase sosial", kata dr. Annabelle Chow, psikolog klinis di Annabelle Psychology.

"Membungkus konten yang merendahkan [perempuan] dalam format yang absurd atau kekanak-kanakan membuatnya lebih mudah diterima. Terasa playful, tidak berbahaya, dan gampang dianggap sebagai 'cuma bercanda'," ujarnya.

"Orang akan tertawa dulu sebelum sempat berpikir tentang apa yang sebenarnya disampaikan," lanjutnya.

Penelitian juga menemukan bahwa candaan seksis bisa membuat konten semacam ini terasa tidak terlalu ofensif atau berbahaya, sehingga perempuan cenderung tidak menegurnya.

Bahkan kalau ada yang ingin mengkritik, mereka bisa dianggap terlalu serius, terlalu sensitif, atau "tidak paham bercanda".

"Tapi humor tidak mengurangi dampaknya. Kalau ide yang merendahkan [perempuan] terus dikemas sebagai sesuatu yang lucu, orang bisa jadi lebih toleran dan mulai menganggapnya sebagai hal yang wajar," katanya.

Konten animasi AI slop sering kali menyertakan tagar seperti #storyforkids, #kidscartoons, dan #aifoodstories, meskipun konten tersebut tidak sesuai untuk anak-anak. (Foto: TikTok/@ojoenlafama, TikTok/@ai_devil1; Ilustrasi: CNA/Jasper Loh)

Pang menambahkan, "Selain itu, sangat mudah membuat akun anonim, jadi hampir tidak ada tanggung jawab bagi kreator yang menyebarkan konten seperti ini."

Video seperti ini bisa memperkuat seksisme, apalagi ketika pandangan soal gender antara laki-laki dan perempuan muda saat ini makin terpolarisasi.

"Ketika kita terus-menerus dicekoki pandangan yang sama, lama-lama ia terasa familiar, dan rasa familiar itu bisa disalahartikan sebagai kebenaran," jelas dr. Chow.

"Dalam jangka panjang, kalau pesan seperti 'perempuan tidak setia' atau 'perempuan hanya tertarik pada uang dan status' terus diulang, hal itu bisa terasa tidak lagi aneh, bahkan mulai terlihat masuk akal, meskipun awalnya orang tidak benar-benar percaya," katanya.

"Video AI mempercepat efek ini. Jumlahnya yang sangat banyak membuat ide-ide tersebut terlihat lebih umum dari yang sebenarnya," ujar dr. Chow.

Anak-anak mulai memahami label gender seperti “laki-laki” dan “perempuan” saat berusia 18–24 bulan dan mulai membentuk pola pikir mereka sendiri terkait gender saat memasuki usia taman kanak-kanak. (Foto: iStock/Userba011d64_201; Ilustrasi: CNA/Jasper Loh)

MEMPENGARUHI PANDANGAN ANAK

Yang lebih mengkhawatirkan, beberapa video ini diberi tag seperti #kidscartoon, #storyforkids, #kidshorts, dan #fruitstory. Terkadang, algoritma tanpa sengaja mendorong konten ini ke anak-anak.

"Algoritma biasanya tidak secara khusus menargetkan audiens muda untuk mendorong konten berbahaya, termasuk yang merendahkan perempuan," jelas Pang.

Namun, meskipun platform punya kebijakan untuk melindungi audiens muda, desain konten seperti ini bisa membuatnya tetap muncul di feed anak-anak.

Jumlah konten AI saat ini jauh lebih besar, dan pesan merendahkan perempuan bisa disisipkan dalam audio atau rangkaian gambar. Selain itu, sering kali tidak terlihat secara eksplisit, melainkan dalam bentuk pola halus yang sulit dideteksi algoritma.

Kadang, anak-anak juga bisa melihat konten ini karena akun yang mereka ikuti ikut menyukai atau membagikannya.

Anak-anak mungkin tertarik menonton karena "visual dan emosinya mirip dengan acara anak-anak", kata dr. Chow.

Di usia ketika identitas gender dan kemampuan berpikir kritis belum terbentuk, hal ini bisa berdampak besar.

"Paparan konten membantu membentuk cara anak memahami gender dengan memberi petunjuk berulang tentang seperti apa laki-laki dan perempuan, bagaimana mereka seharusnya bersikap, dan peran apa yang diharapkan dari mereka."

"Kalau anak terus melihat konten yang menggambarkan watak perempuan adalah manipulatif, egois, dramatis, atau selalu disalahkan, itu bisa memperkuat stereotip dan mempengaruhi cara mereka melihat apa yang normal," jelasnya.

Dampaknya bahkan bisa muncul lebih cepat dari yang dibayangkan banyak orang dewasa.

Penelitian menunjukkan bahwa banyak anak mulai memahami label gender seperti "laki-laki" dan "perempuan" sejak usia 18 hingga 24 bulan, dan menggunakannya untuk memahami dunia.

Ilustrasi anak bermain ponsel ditemani orang tua. (Foto: iStock)

"Meskipun anak prasekolah mungkin belum memahami konsep misogini secara abstrak, mereka sudah mulai membentuk bias dan pola pikir sendiri tentang gender," tambahnya.

"Jadi masalahnya bukan apakah anak usia empat tahun memahami tema seperti perselingkuhan atau pengkhianatan. Kemungkinan besar tidak."

"Masalahnya adalah mereka tetap menyerap pola dasarnya: siapa yang dianggap jahat, siapa yang disalahkan, siapa yang ditertawakan, siapa yang dihukum, dan siapa yang dipercaya atau tidak."

Oleh karena itu, dr. Chow menyarankan agar anak dan remaja dibantu untuk membangun literasi media dengan pertanyaan seperti "Ini baik atau jahat?", "Menurutmu perasaan orang itu bagaimana?", "Video ini sedang menertawakan siapa?", atau "Asumsi apa yang dibuat video ini?".

Platform media sosial juga mulai mencoba mengatur konten semacam ini. TikTok sedang mengembangkan pelabelan yang lebih akurat untuk konten AI. Pada November 2025, mereka mengumumkan uji coba fitur yang memungkinkan pengguna mengatur jumlah konten AI di feed For You.

Media sosial juga memiliki kebijakan yang melarang pelecehan, ujaran kebencian, eksploitasi seksual, atau gambar tanpa persetujuan. Namun, sebagian besar konten yang merendahkan perempuan tidak melanggar batas ini, sehingga lolos dari pengawasan.

"Moderasi platform dan pelabelan konten AI itu penting, dan kita perlu terus mendorong standar yang lebih tinggi," kata Pang.

"Yang paling mengkhawatirkan, meskipun video AI ini terlihat konyol, penuh warna, absurd, dan kekanak-kanakan, ide di baliknya bukan hal baru. Ini bisa mengulang pesan yang sama dengan konten yang lebih serius seperti podcast pseudo-intelektual, debat, atau konten influencer," kata Dr Chow.

"Ketika ide-ide itu muncul di berbagai format, lama-lama terasa sebagai bagian dari realitas sehari-hari."

Jadi, jangan anggap remeh AI slop sebagai sekadar hiburan atau dikonsumsi tanpa berpikir. Pesan yang merendahkan perempuan tidak seharusnya menjadi humor, bahkan ketika dibungkus dengan animasi tentang buah stroberi.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: CNA/ps(da)

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan