Skip to main content
Iklan

Lifestyle

Anak terlalu sering main handphone? Buktikan pada mereka kalau hiburan tidak melulu dari gadget

Para ahli menyarankan untuk menetapkan area bebas gadget di rumah dan membuktikan kepada anak-anak bahwa hiburan tidak hanya dari gadget saja serta mendiskusikan konten apa saja yang dikonsumsi anak remaja Anda di internet.

Anak terlalu sering main handphone? Buktikan pada mereka kalau hiburan tidak melulu dari gadget

Khawatir anak Anda terlalu sering main handphone? Buktikan pada mereka kalau hiburan tidak melulu dari gadget. (Ilustrasi: CNA/Samuel Woo)

SINGAPURA: Kendati bekerja di industri teknologi, Alfred Siew, 50, tidak seperti orang tua kebanyakan. Ia kesulitan mengontrol waktu anak menatap layar.

Seorang editor blog teknologi ini tidak segan-segan mengakui bahwa kedua anaknya menghabiskan lebih banyak waktu bermain gadget ketimbang mengerjakan tugas dari sekolah. 

"Paling lama, mereka mengikuti kelas daring selama dua jam tapi mereka bisa nonton Netflix selama berjam-jam," kata dia. 

Ia juga kadang sulit membedakan kapan mereka sedang bermain dan kapan sedang belajar, karena keduanya terlihat sama ketika mengakses laman edukasi yang menggunakan game sebagai alat pembelajaran, seperti Singapore Student Learning Space dan KooBits.

"Jadi, apa saya harus bilang: "Kamu enggak boleh main itu"? Anak-anak saya juga cukup cerdik dan bilang ke saya kalau mereka sedang buka KooBits, tapi di dalamnya ada game, jadi saya tidak bisa blokir KooBits."

Mengelola waktu anak melihat layar selalu menjadi masalah yang rumit dan bertambah sulit ketika Kementerian Pendidikan Singapura menyediakan tablet dan laptop kepada semua siswa sekolah menengah untuk membantu pembelajaran pribadi mereka pada 2021. 

Hal ini membuat gadget semakin mudah diakses di rumah terlepas para orang tua suka atau tidak. Keadaan ini memungkinkan perhatian para siswa terganggu dengan aktivitas di luar pendidikan di perangkat tersebut, seperti menonton YouTube dan TikTok.

Aplikasi manajemen perangkat seperti Mobile Guardian dan Blocksi terinstal pada perangkat-perangkat tersebut, guna mencegah akses konten daring yang tidak diinginkan. Akan tetapi, beberapa siswa berhasil menemukan cara untuk mengakali aplikasi-aplikasi tersebut, dan pembobolan keamanan siber global pada Agustus lalu memaksa sekolah di Singapura untuk menghapus Mobile Guardian pada perangkatnya.

Jadi, ketika akses gadget ada di mana-mana, apa yang seharusnya orang tua lakukan guna memastikan anak-anak mereka menggunakan aplikasi daring dengan bijak? 

Stok gambar dua anak laki-laki menggunakan gadget di rumah. (Foto: iStock)

MENETAPKAN BATASAN FISIK DAN WAKTU

Pakar pola asuh anak menjelaskan bahwa idealnya, ponsel dan tablet tidak seharusnya diperkenalkan kepada anak, kecuali benar-benar perlu.

"Pikirkan berkali-kali sebelum memberikan gadget kepada anak Anda. Jika bukan karena tuntutan sekolah, lebih baik tunda sampai anak punya literasi digital yang kuat," terang Jumh Tantri, pelatih pola asuh anak dari Hesed Psychotherapy International.

Kendati mengakui bahwa orang tua sudah telat untuk melakukannya, para pakar menyarankan untuk membatasi penggunaan secara bertahap, sampai akhirnya membangun "rasa kepemilikan" atas perangkat tersebut. 

Dr Jiow Hee Jhee, lektor kepala Institut Teknologi Singapura (SIT) yang meneliti dampak media digital terhadap keluarga, menerangkan bahwa perlu ada perbedaan antara kepemilikan dan penggunaan.

"Biarkan anak-anak menggunakan perangkatnya dengan sengaja selama beberapa jam, lalu kembalikan perangkatnya kepada orang tuanya. Jadi, mulailah dari waktu penggunaannya, lalu pelan-pelan bangun dan tambahkan waktu penggunaannya, dan latih mereka untuk bertanggung jawab," terang Dr Jiow, yang sudah mulai memberikan ponsel cadangan kepada anak-anaknya bila mereka ingin mengabari kapan kegiatan di luar kelas selesai. 

Jika perangkat tersebut sudah melekat dalam hidup anak-anak, lama penggunaan ponsel tidak menjadi masalah jika digunakan dengan bijak dan beralasan.

Tantri menilai menatap layar selama kurang dari dua jam masih termasuk "durasi yang sehat" selama berhenti sesekali setiap 20 hingga 30 menit. Menurutnya, lebih dari tiga jam dapat menyebabkan masalah-masalah, di antaranya penyakit miopia, obesitas, dan isolasi sosial.
 
Secara keseluruhan, orang tua perlu memastikan bahwa anak-anak mereka tidak acuh dengan waktu tidur, kesehatan mulut, waktu makan, atau sengaja menahan kencing hanya untuk menggunakan perangkat mereka.

Selain menanamkan batasan waktu, disarankan juga untuk menetapkan area-area bebas gadget di dalam rumah untuk "membagi waktu yang seimbang antara kegiatan yang melibatkan atau tidak melibatkan penggunaan gadget di sekitar rumah," jelas Tantri.

Saran lainnya adalah dengan menggunakan gadget terpisah untuk belajar dan hiburan. Dengan cara ini, ada perbedaan yang jelas antara gadget sehingga bisa mengurangi distraksi. 

"Orang tua seharusnya memantau perangkat belajarnya untuk memastikan aplikasi media sosial, game dan bentuk hiburan lainnya tidak diinstal di dalamnya," imbuh Tantri. 

Pakar pola asuh anak menjelaskan bahwa tidak ada yang lebih efektif daripada memberikan contoh positif kepada anak-anak, agar mereka mengikutinya. Dengan demikian, orang dewasa juga harus turut mematuhi aturan zona bebas gadget tersebut.

Misalnya, Ksther Lim, 46, membuat aturan bahwa ponsel tidak boleh digunakan di meja makan selama waktu makan. 
 
Memberi contoh positif juga bisa dalam bentuk menunjukkan anak bagaimana cara mereka membatasi dunia daring dan luring mereka dengan sehat, terang para pakar. 

Artinya, kita perlu membuktikan bahwa hiburan tidak hanya dari gadget. Sehingga, setelah waktu anak bermain gadget berakhir, orang tua harus coba membawa mereka ke perpustakaan umum, museum, dan taman bermain atau membiarkan mereka melakukan pekerjaan rumah.

"Ini bisa menjadi kegiatan kelompok yang sangat bagus, yang melibatkan berbagai indra dan mengaktifkan sejumlah bagian dalam otak, sehingga bagus untuk kesehatan mental dan fisiologisnya," jelas Tantri.
 

Stok gambar seorang remaja menggunakan ponselnya saat makan. (Foto: iStock)

DISKUSI JUJUR MENGENAI PENGGUNAAN GADGET DENGAN BIJAK

Pakar pola asuh anak menekankan pentingnya komunikasi terbuka dengan anak mereka sedari kecil mengenai penggunaan gadget tersebut. 

Pertanyaan yang dapat para orang tua tanyakan pada dirinya, antara lain: mengapa anak-anak terlalu sering menggunakan gadget? Apakah mereka kurang berinteraksi sosial, sampai-sampai harus mencari teman dengan bermain game dan mengobrol dengan teman internetnya?

Dengan menggunakan informasi ini, Tantri menyarankan orang tua dan anak untuk membuat aturan bersama-sama perihal bagaimana menyeimbangkan waktu bermain di daring dan luring.

Untuk mencegah perselisihan di kemudian hari, orang tua juga harus bersikap transparan dalam membicarakan jenis-jenis konten yang boleh diakses dan berembuk dengan anak mereka secara aktif mengenai konsumsi medianya.

Pendidik kesehatan digital dan pendamping keluarga Carol Loi mengatakan: "Diskusikan secara terbuka siapa yang diikuti anak-anak Anda di media sosial - mengapa anak-anak Anda mengikuti influencer ini dan apa yang mereka dapat dari mereka.

"Dengarkan secara aktif dan terbuka untuk mendengar pandangan mereka. Membangun kebiasaan untuk terbuka dan transparan akan mengurangi perselisihan dalam keluarga karena fokus memikirkan bagaimana menjalani hidup bersama-sama."

Ia menambahkan bahwa ketika terjadi perselisihan, mereka dapat fokus pada nilai-nilai yang keluarga mereka pegang. Misalnya, mereka bisa membicarakan tentang mengapa influencer tersebut bisa atau tidak bisa menciptakan dampak positif di dalam masyarakat.

Lim, yang merupakan seorang ibu satu anak berusia 15 tahun, mengatakan bahwa ia berhasil menumbuhkan tingkat kepercayaan dengan putranya, yang mau menunjukkan isi konten media sosialnya supaya mereka dapat mendiskusikan apa yang sedang tren dan tontonan apa yang ia sukai di internet.

Kendati terkadang, ia tidak setuju dengan konten yang putranya konsumsi, anaknya masih terbuka untuk membahas masalah tersebut. 
 
Misalnya, ia ingin anaknya berhenti mengikuti kanal seorang YouTuber game karena influencer tersebut menggunakan banyak kata-kata kasar saat berbicara. 

Namun, putranya meyakinkan ibunya bahwa ia tidak akan ikut mengumpat seperti YouTuber itu. Ia terus mengawasi bahasa putranya dan karena anaknya sudah menepati janjinya, ia tidak memaksa anaknya untuk berhenti mengikuti influencer itu. 

Tantri menegaskan bahwa orang tua harus membuat anak-anak paham bahwa setiap percakapan dilakukan dengan tujuan yang baik, dan bahwa mereka tidak ingin anak-anaknya rugi akibat penggunaan gadget yang tidak bijak.

Orang tua juga harus menyesuaikan aturan di rumah saat anak-anak mereka tumbuh besar. Misalnya, anak 12 tahun biasanya butuh pemantauan secara dekat dan komunikasi yang peka dalam menjelaskan aturan-aturan yang ketat, sedangkan anak 16 tahun tidak lagi memerlukannya karena mereka seharusnya sudah paham akan pentingnya aturan tersebut berserta konsekuensinya. 

KIAT-KIAT MENGENDALIKAN AKTIVITAS DI DEPAN LAYAR

Selain berbincang dan menetapkan batasan, orang tua juga bisa mengandalkan beberapa aplikasi yang biasa dipakai untuk memonitor aktivitas anak di depan layar, seperti Microsoft Family Friendly dan Google Family Link.

Aplikasi-aplikasi ini membantu orang tua dalam mengatur batas penggunaan gadget dan memfilter konten-konten tidak pantas yang berbahaya bagi anak-anak dan kelompok usia tertentu.
 
Namun demikian, aplikasi kontrol anak cukup mudah diakali. Anak remaja bisa saja mencari cara untuk mengakali aplikasi kontrol anak tersebut dengan mencari celah di forum diskusi internet. Mereka yang familiar dan berpengalaman dengan peretasan (hacking) dalam game dan coding cenderung tahu bagaimana menyiasati sistem, jelas Tantri.

Alfred Siew, editor blog teknologi, menambahkan bahwa orang tua sebaiknya mengganti kata sandi mereka sesekali. Ia menjelaskan bahwa anak-anaknya mengetahui kata sandi ponsel anggota keluarganya yang dewasa karena ia mengetik kata sandinya di depan anak-anak.

"Mereka sudah melakukan ini berkali-kali. Ini persoalan yang serius karena mereka masuk akun sebagai orang dewasa dan tidak ada fitur kontrol anak di dalamnya," terangnya.

Dr Jiow, yang merupakan anggota dari Dewan Literasi Media (MLC) Singapura, menambahkan bahwa salah satu penelitiannya menemukan seorang anak memasang kamera di tempat-tempat yang strategis di dalam rumah dan dapat melihat orang tuanya mengetik kata sandinya.

Sungguh tidak mudah untuk mengikuti perkembangan taktik-taktik tersebut, namun Tantri menyarankan kepada para orang tua untuk mulai berpikir dari sudut pandang anak dan mencari tahu cara anak-anak mengakali fitur kontrol anak.

Perihal cara mencegah penyalahgunaan aplikasi edukasi sebagai bahan distraksi, orang tua seharusnya meluangkan waktunya untuk memeriksa kemajuan anak guna memastikan waktu penggunaan aplikasi pembelajaran ini memberikan hasil yang diharapkan, jelas Tantri.
 
Loi, pendidik keluarga digital, menyebutkan bahwa aplikasi kontrol anak yang paling efektif adalah "kasih sayang".

"Luangkan waktu dan tenaga untuk membangun ikatan yang kuat... Alat yang terbaik adalah alat filter dan monitor dalam diri yang dibangun oleh anak-anak kita untuk diri mereka sendiri, agar dapat membedakan mana yang baik dan buruk, sehat dan tidak sehat, dengan sendirinya," pungkasnya.

Source: CNA/da

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan