Skip to main content
Iklan

Lifestyle

‘Menikmati hidup’: Alasan warga Singapura berhenti kerja untuk jadi petani di Johor

Terpikat dengan biaya yang rendah dan impian membangun usaha sendiri, beberapa warga Singapura beralih menjadi petani di Johor, Malaysia. Mereka membagikan pengalamannya dengan CNA.

‘Menikmati hidup’: Alasan warga Singapura berhenti kerja untuk jadi petani di Johor

Imran Aljunied, salah satu pendiri perkebunan A Little Wild, mengatakan bahwa ia memilih bercocok tanam di Malaysia karena keterbatasan lahan di Singapura. (Foto: CNA/Zamzahuri Abas)

JOHOR BAHRU: Di bawah terik matahari siang di Ulu Tiram, Johor, Imran Aljunied berdiri di tangga untuk memetik lada yang belum matang dari batangnya yang merambat.

Meski keringat membasahi wajahnya yang kemerahan oleh matahari, senyum tidak hilang dari wajahnya.

"Kita hari ini sedang memetik lada hitam," ucap warga Singapura berusia 40 tahun itu.

Imran membantu mengurus A Little Wild, perkebunan seluas 55 hektar yang ia dirikan pada tahun 2020 bersama dua warga Singapura lainnya dan satu orang Malaysia. Perkebunannya, yang sebelumnya perkebunan kelapa sawit, memiliki luas setara 77 lapangan bola dengan jarak 45 menit berkendara dari jalan lintas Johor-Singapura.

Setiap hari dia bisa bekerja di kebun hingga 12 jam, namun menurutnya, ini masih lumayan dibanding saat dia bekerja di firma hukum Singapura. Ayah dua anak ini juga menukar kehidupannya di apartemen pemerintah Singapura dengan rumah panggung di perkebunan, tempat dia tinggal bersama keluarganya.

"Saya suka dengan gagasan swasembada masyarakat. Saya tidak menggantungkan pangan dan minum pada institusi mana pun ... Saya merasa mandiri, bebas dan tidak terikat oleh (seseorang)," ujar Imran kepada CNA.

Perkebunannya memperoleh sumber mata air dari danau kecil sekitar, dan pekebun dapat mengonsumsi hasil panennya.

Sekali seminggu, timnya memanen nanas, pisang, biji kakao, lada dan serai. Mereka mengemas hasil panen, lalu dikirimkan ke 20 pelanggan di Singapura, termasuk beberapa restoran.

Hari-hari berikutnya dihabiskan untuk merawat tanah dengan memangkas, memberi pupuk, dan memantau pertumbuhan setiap tanaman dengan saksama.

Imran Aljunied, salah satu pendiri perkebunan A Little Wild di Kota Tinggi, sedang memanen lada hitam pada 13 April 2026. (Foto: CNA/Zamzahuri Abas)

Imran sempat berkebun di Singapura, namun terhenti karena satu kendala: Lahan.

"Saya ingin mengejar impian saya dan Singapura tidak punya lahan yang saya inginkan untuk melakukannya," ungkap Imran.

Pindah ke utara, dia dan pendiri lainnya bekerja sama dengan investor lain untuk membeli lahan di Ulu Tiram dan langsung menggarap kebun usai mengosongkannya.

Seperti halnya Imran, beberapa warga Singapura melintasi Causeway, jalan lintas Johor-Singapura, untuk mulai berladang di Malaysia, sebab harga tanah lebih murah sehingga mereka dapat membeli lahan yang lebih besar serta berkesempatan membangun usaha sendiri.

Kendati belum ada statistik resmi yang menunjukkan angka perkebunan yang dimiliki warga Singapura di selatan Malaysia, namun menurut pencarian CNA, ditemukan setidaknya enam perkebunan berada di wilayah pedesaan Johor, termasuk Gelang Patah, Kota Tinggi dan Kluang.

Menurut mereka yang diwawancarai CNA, daya tarik menjadi petani sangatlah jelas, yakni karena otonomi, tujuan, dan akses dekat ke pangan yang mereka konsumsi.

Di tengah harga minyak dan makanan yang melambung akibat konflik di Timur Tengah, para petani ini menekankan bahwa ketahanan pangan dan swasembada semakin penting.

Menurut Nabilah Bagarib, warga Singapura yang membuka peternakan domba di Desaru bersama dengan suaminya: "Apalagi dengan situasi geopolitik saat ini, negara-negara mulai menyadari kalau swasembada pangan itu sangat penting.

"Kalau kita tidak memprioritaskan ketahanan pangan dan hasil panen lokal, kita mungkin akan merugi."

Pasangan asal Singapura, Ashraf Bakar dan Nabilah Bagarib, adalah pemilik Aliyah Rizq Farm di Bandar Penawar, Desaru, Johor, Malaysia. (Foto: CNA/Zamzahuri Abas)

HASIL YANG TIDAK TERDUGA

Bagi sebagian warga Singapura, perpindahan mereka ke Johor membuka ruang untuk memaknai kembali arti kesuksesan.

Nabilah dan suaminya Ashraf Bakar memulai perjalanannya pada 2015 dengan membuka peternakan domba sederhana di Mersing.

Begitu bisnis mereka merebak, mereka memindahkan pusat operasionalnya ke tempat yang lebih luas di Desaru pada 2017.

Peternakan mereka, Aliyah Rizq - diambil dari nama ibu Nabilah yang juga merupakan investor pertama mereka, kini sudah memiliki lahan setara 150 lapangan bola dengan ratusan domba dan sejumlah kuda, unta, burung unta, serta ayam.

Mereka juga punya peternakan kecil lainnya di wilayah tersebut, termasuk di beberapa daerah di Malaysia, dan di Indonesia serta Kamboja.

Hari-hari pasangan tersebut disibukkan dengan mengembangbiakkan dan merawat domba serta kambing. Sebagian besar dijual di Singapura dan juga Malaysia untuk kegiatan keagamaan seperti kurban dan akikah.

Mereka juga menjadikan peternakan di Desaru sebagai tempat rekreasi, yang dikunjungi sekitar 500 orang setiap bulannya. Di akhir pekan, keluarga dan tamu-tamu lainnya datang untuk menunggang kuda, ATV, dan melihat hewan-hewan lebih dekat.

Bagi Ashraf, 38, yang sebelumnya sempat bekerja di bidang konstruksi dan perdagangan, keputusan besar yang diambilnya sangat memuaskan.

Sekarang, pendapatannya lebih besar dari sebelumnya. Dia menyebut peternakannya sebagai bisnis yang "selalu diminati tiap musim" dan "tiap generasi".

Dia juga merasa "kesempatan dan stabilitas di sini jauh lebih baik".

Nabilah Bagarib (kiri, di atas kuda) dan suaminya, Ashraf Bakar, menawarkan pengalaman agrowisata di Aliyah Rizq Farm. (Foto: CNA/Zamzahuri Abas)

Nabilah, mantan psikolog, melihat bisnisnya sebagai keputusan yang bersifat praktis sekaligus personal.

Dolar Singapura yang nilainya lebih tinggi dari pekerjaan sebelumnya memberikan mereka modal yang lebih besar di Malaysia untuk mengembangkan bisnisnya.

"Mata uang kami lebih kuat, sehingga memungkinkan pertumbuhan dan ekspansi yang lebih baik," jelas Nabilah.

Bagi Imran pemilik A Little Wild, kesuksesan saat ini diukur dari bagaimana mengelola dan memulihkan lahan.

Timnya yang terdiri dari belasan petani berusaha mengubah lahan bekas perkebunan kelapa sawit menjadi hutan tani yang edukatif dengan meninggalkan metode pertanian konvensional dan beralih ke model yang mereka berdua yakini lebih berkelanjutan.

Daripada bergantung pada pupuk atau bahan kimia, mereka menanam berbagai jenis tanaman di lahan yang sama. Cara ini memungkinkan tanaman tersebut dapat menyerap nutrisi dari tanah dan membantu satu sama lain dalam proses pertumbuhannya.

Para pekerja di perkebunan A Little Wild sedang membersihkan pisang yang baru dipanen. (Foto: CNA/Zamzahuri Abas)
Berbagai hasil pertanian di kebun A Little Wild, termasuk kakao, jeruk purut, sirsak, dan nanas. (Foto: CNA/Zamzahuri Abas)

"Saya melihat petani itu sebagai perawat tanah," kata Imran. "Agar dapat menikmati hidup, sekaligus mengabdikan diri pada alam."

Pendiri A Little Wild di Malaysia yang juga merupakan penduduk tetap di Singapura, Will Chua, rela melepaskan gaji tahunan enam digitnya sebagai pegawai negeri senior di Singapura untuk membuka pertanian sendiri.

Ia tengah mencari sesuatu yang lebih bermakna dalam hidupnya. "Saya mulai mengetahui apa yang menurut saya berarti dalam hidup ini," ujar Chua. "Dan ternyata, saya tidak perlu uang banyak untuk bisa hidup bahagia."

Menurutnya, kesadaran ini tidak hanya mengubah pandangannya, namun juga kesehatannya.

"Setahun bekerja di pertanian, kondisi kesehatan saya kembali sempurna," jelasnya, menambahkan bahwa kondisi seperti tekanan darah tinggi dan penumpukan lemak di hati sudah membaik secara signifikan.

Will Chua, seorang penduduk tetap Singapura dan salah satu pemilik perkebunan A Little Wild, mengatakan bahwa ia harus berkorban secara finansial untuk memulai usaha tersebut. (Foto: CNA/Zamzahuri Abas)

TIDAK SEMUDAH MEMBALIK TELAPAK TANGAN

Bukan berarti kehidupan bertani itu serba nikmat dan tanpa tantangan.

Menurut para petani tersebut, selain membutuhkan modal, pekerjaan ini menuntut fisik yang kuat dan rawan ketidakpastian.

Mengingat warga asing tidak dapat memiliki lahan pertanian dengan mudah di Malaysia, banyak dari mereka harus mencari mitra lokal yang terpercaya.

Chua mengatakan pemilik lahan pertanian dan investor di Johor harus bersabar dengan usaha bisnisnya agar dapat bertahan lama dalam jangka panjang.

"Kami perlu modal jangka panjang dan syukurnya, kami mendapatkannya di sini (di A Little Wild). Karena investasi kami pada lahan dan juga para pekerja membutuhkan kesabaran, kami tidak mengejar (imbal hasil investasi) dalam waktu dekat," ujarnya.

Namun kesuksesan belum terjamin.

Misalnya, Desaru Ostrich Farm, yang didirikan mantan pilot Pesawat Angkatan Udara Republik Singapura Collin Teh pada tahun 1995, tutup pada akhir 2024 usai berjalan selama hampir 30 tahun, menurut postingan media sosialnya.

Ketika CNA berbicara dengan Teh pada 2023, dia menceritakan bagaimana pandemi COVID-19 menghentikan sektor pariwisata dan dia terpaksa harus merogoh kocek jutaan dolar untuk mempertahankan bisnisnya.

Ia bahkan menyembelih beberapa burung untanya untuk menjaga usahanya tetap berjalan.

WAJIB MEMBANGUN KEPERCAYAAN

Mereka yang berpengalaman menjelaskan bahwa warga Singapura yang ingin membuka pertanian di Johor, atau daerah lain di Malaysia, perlu mengetahui rintangan masuk ke Malaysia.

Meski warga asing diperbolehkan membeli lahan tani, prosesnya diatur sangat ketat. Prosesnya memerlukan persetujuan dari pihak berwenang Malaysia dan dikenakan batas harga minimum yang tinggi, yaitu berkisar antara RM1 juta (Rp4,4 miliar) hingga RM2 juta.

Warga asing pada umumnya juga tidak diizinkan untuk memiliki Tanah Rizab Melayu (TRM) ataupun tanah Bumiputera.

Chua mengatakan mereka yang tertarik untuk bertani sebaiknya mulai kecil-kecilan dengan menyewa tanah sekaligus belajar cara berdagang, sebelum mengucurkan modal besar.

"Petani harus lebih dulu bangun kepercayaan dengan masyarakat setempat," saran Chua.

"Kalau kami, kami bekerja sama dengan tempat makan yang mendukung kegiatan kami. Dengan begitu kami dapat membangun kepercayaan dan juga hormat satu sama lain."

Bagi pendiri Aliyah Rizq, Nabilah, 39, semua kendala itu bisa dilalui dengan menggandeng mitra yang tepat dan rela mengorbankan finansial di awal perjalanan.

"Ada masa di mana kami tidak menerima gaji selama berbulan-bulan," ungkapnya.

"Kami ingin memastikan pekerja-pekerja kami dibayar lebih dulu. Apapun sisanya akan kami ambil, dan sisa lainnya masuk ke dalam bisnis."

Peternakan Aliyah Rizq memelihara ratusan ekor domba dan kambing serta memasok produk daging halal ke pasar. (Foto: CNA/Zamzahuri Abas)

Ia menambahkan bahwa membangun kepercayaan tidak cukup hanya dengan mitra, melainkan juga dengan karyawan dan komunitas sekitar, dan setiap kesalahan bisa berbuah mahal.

Pernah suatu ketika, pemasok dombanya mendadak tidak bisa dihubungi beberapa hari menjelang acara kurban yang diselenggarakan peternakan. Contoh lainnya, seorang staf menjual seekor kambing di pasar tanpa sepengetahuan pemiliknya.

"Tantangan dalam mengelola bisnis itu nyata adanya," ujarnya. "Kita perlu mitra dan staf yang tepercaya. Ada hal-hal yang selalu kita simpan sendiri."

Terlepas dari berbagai kesulitan, Nabilah mengatakan bertani adalah karier yang cukup bagus untuk dipertimbangkan anak muda Singapura.

Terlebih ketika ketahanan pangan masih menjadi perhatian, dan pemerintah kian mendorong produksi pangan lokal.

"Yang kami sadari adalah di industri pertanian, ada persepsi kalau ini pekerjaan kasar (dan sulit untuk ditingkatkan skalanya)," terangnya.

"Jadi yang kami lakukan sekarang adalah membuat bertani menarik lagi."

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: CNA/da

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan