Alasan penggemar Taylor Swift di ASEAN rela rogoh puluhan juta demi menonton konsernya di Singapura
Ketika sang diva memutuskan Singapura sebagai satu-satunya negara ASEAN yang menjadi lokasi konser The Eras Tour, penggemarnya di kawasan rela merogoh kocek untuk mengunjungi Negeri Singa. Mengapa demikian?
Ketika diva pop Amerika Serikat Taylor Swift dan timnya memutuskan hanya akan menggelar konser The Eras Tour di Singapura dan tidak di negara-negara ASEAN lainnya, para penggemarnya di luar Negeri Singa tentunya terkejut dan sedih. Akan tetapi, para Swiftie (sebutan untuk penggemar Swift) tidak ingin berlama-lama tenggelam dalam kesedihan, karena mereka harus bersaing memperebutkan tiket konser dan menyiapkan kocek yang cukup dalam demi bertemu sang idola.
Swiftie asal Indonesia, Thailand, Filipina dan berbagai negara ASEAN lainnya mengaku mereka rela mengeluarkan uang antara S$88 (Rp1 juta) hingga S$1.288 (Rp15 juta) untuk membeli tiket konser. Angka tersebut tentu saja belum termasuk sederet biaya lainnya, seperti tiket penerbangan, kamar hotel, dan biaya selama berpelesir di Negeri Singa. Asumsi perhitungan ini tentu saja bisa meningkat tajam jika tiket konser dibeli melalui calo.
Sebenarnya, apa yang membuat para Swiftie rela merogoh kocek begitu dalam demi bernyanyi bersama Taytay (sebutan penggemar untuk Taylor Swift) di National Stadium Singapura?
Bagi Clarisse Rivera, mahasiswa berusia 20 tahun asal Filipina, mengetahui bahwa Singapura menjadi satu-satunya lokasi di Asia Tenggara untuk konser the Eras Tour sungguh mengejutkan. "Astaga, rasanya seperti dipukul palu godam... Warga Filipina penggemar berat Swift, jadi ini sangat mengejutkan kami," ujarnya.
Rivera mengakui bahwa ini adalah pertama kalinya ia pergi ke luar negeri hanyab untuk mendatangi konser karena sebagian besar artis favoritnya "biasanya singgah di Filipina".
"Aku mungkin sedikit boros, mungkin menghabiskan sekitar 80.000 peso (Rp22 juta) untuk seluruh perjalanan, termasuk penerbangan, perlengkapan konser, menginap di hotel, semuanya," akunya.
"(Taylor Swift) telah menjadi soundtrack dalam hidupku. Ia selalu bermusik dalam suka dan duka, menginspirasi saya dan banyak orang lainnya. Ditambah lagi, dia adalah seorang yang hebat: Seorang penulis lirik, penulis lagu, dan vokalis, semuanya menjadi satu. Terbang untuk melihatnya secara langsung? Sangat layak untuk dilakukan."
Dengan nada yang sama, Swiftie lainnya, Jeanette Juntilla juga mengaku uang yang dihabiskan sebanding dengan pengalaman yang akan didapatkannya melalui konser ini. "Taylor Swift sangat berarti bagiku. Dia menyelamatkanku melalui lagu-lagunya," ujar perempuan berusia 27 tahun ini.
Sebagai penggemar Swift sejak usia 13 tahun, Juntilla tidak berkesempatan untuk menyaksikan konser Speak Now dan Red sebelumnya di Filipina karena ia "tidak memiliki uang untuk menonton konser saat itu". Ia mengaku sempat menangis ketika mengetahui bahwa the Eras Tour tidak akan digelar di negaranya. Namun, kesedihannya tidak berlangsung lama.
"Setelah menangis, aku dan teman-teman mulai menyusun rencana (untuk menonton konser). Pada titik ini, kami tidak peduli jika kami harus terbang ke tempat yang berbeda hanya untuk melihat Taylor Swift, karena kami memiliki uang untuk menonton konsernya. Kami sudah bekerja sekarang."
"Taylor tidak ada bandingannya dengan artis lain, bagiku. Dia begitu apa adanya dan tulus, bahkan di saat-saat yang paling buruk sekalipun. Liriknya begitu nyata, seakan dia bisa membangun istana dari batu yang dilemparkan kepadanya. Dan itu menunjukkan kekuatannya. Menonton dan menikmati musik yang menemani saya bertumbuh menjadi alasan kuat untuk terbang ke luar negeri," ujar Swiftie lainnya bernama Danica Daluz.
Selain untuk menikmati konser Taytay, para Swiftie juga mengaku akan menikmati pengalaman berpelesir di Negeri Singa. Kreator konten asal Malaysia, Hannysa Yusaa, misalnya. Ia berencana menyaksikan berbagai acara bertema Taylor Swift di Singapura, termasuk pertunjukan cahaya dan air di Marina Bay Sands serta pesta kolam renang di Adventure Cove.
"Aku tidak mengeluarkan biaya untuk akomodasi karena akan tinggal di apartemenku di Larkin. Perjalanannya hanya berlangsung satu hari bagiku, dari Johor ke Singapura. Aku ingin membeli lebih banyak merchandise resmi yang akan dijual di stadion," ujar perempuan berusia 27 tahun ini.
Sementara Swiftie dari Indonesia, Jessica Adams, berencana mengunjungi sejumlah tempat di Singapura selain mengunjungi konser Swift. Ia ingin makan di kedai jajanan terkenal seperti Hawker di Haji Lane dan Ann Siang Hill, serta klub-klub malam.
Sisley Wang asal Taiwan mengaku akan mengunjungi Clarke Quay dan Singapore Zoo.
Rasanya, kita tidak perlu menjadi penggemar Taylor Swift untuk mengetahui bahwa Taytay telah memiliki tempat istimewa di hati para penggemarnya, sehingga mereka rela terbang ke negara lain untuk menonton konsernya.
Dalam sebuah artikel yang diterbitkan oleh Sekolah Musik dan Tari Universitas Oregon, profesor Toby Koenigsberg mengatakan, "Penting untuk menyadari bahwa sangat sulit menulis lagu seperti yang dilakukan (Swift). Menulis lagu seperti itu satu kali saja sulit, apalagi dia telah menulis untuk seluruh albumnya. Dan dia telah berkarier di dunia musik selama hampir dua dekade."