Matcha dan kopi susu minggir dulu, party jamu sedang tren di Gen Z, nongkrong jadi hemat dan sehat
Gen Z menemukan cara baru untuk healing tanpa boncos: minum jamu tradisional. Mereka memanfaatkan rempah alami untuk relaksasi sekaligus detoks, sementara para penjual jamu keliling pun kebanjiran pesanan.
Anak muda kini tidak enggan membeli jamu dari penjual jamu tradisional keliling mudah ditemukan di Indonesia. (Foto: iStock/Lutfi Hanafi)
Di tengah derasnya budaya kopi, matcha, dan boba belakangan ini, Generasi Z kini justru memilih menyeruput jamu bareng teman. Mereka bangga menenggak beras kencur, kunyit asem, hingga brotowali dari penjual keliling demi menemukan keseimbangan antara healing, hemat, dan sehat.
Fenomena ini dikenal dengan sebutan party jamu atau open table jamu, sebuah cara baru untuk melepas penat, yang kini viral di berbagai platform media sosial. Sensasi pedas hangat, asam segar, sampai pahit menjadi pengalaman tersendiri bagi Gen Z yang terasa kekinian.
"Ketika hidup lagi kusyut, tapi lu gak bisa minum alkohol, cukup antri barista vintage, dan pesen beras kencur," bunyi tulisan di video yang diunggah seorang netizen di platform X.
"One shot brotowali, two shots kunyit, two shots kencur, please," balas seorang netizen lainnya di kolom komentar, seolah-olah sedang memesan minuman berakohol di bar.
DETOKS TANPA BONCOS
Riris, perantau asal Medan, termasuk bagian dari Gen Z yang ikut meramaikan tren ini. Ia mengaku sudah terbiasa minum jamu sejak kecil dan menyambut positif tren party jamu karena ikut menghidupkan usaha para penjual jamu tradisional.
"Kalau viral dan banyak yang cari, ibu-ibu jamu juga bisa tetap eksis ya dagangnya, otomatis jadi lebih mudah nyari bakul jamu," kata perempuan berusia 25 tahun itu, dikutip dari RRI.
Menurutnya, jamu bukan hanya bermanfaat untuk kesehatan, tapi juga jadi solusi detoks alami tanpa boncos.
"Terus manfaat buat anak-anak muda juga jadi detoks alami tanpa boncos. Secara jamu minuman enak, sehat dari bahan alami dan tentu harganya terjangkau," ujarnya.
Riris mengaku lebih memilih jamu karena tubuhnya tidak cocok dengan minuman kekinian. "Aku tuh Gen Z yang enggak bisa minum kopi, kalau kena kopi perutku nggak enak, dadanya juga deg-degan terus. Enggak tahu karena cafein atau laktosa ya," katanya.
"Sama juga kalau minuman keras, walaupun cuman bir yang 0, berapa persen doang mesti badanku gatal-gatal merah gitu. Emang sangat tidak Gen Z gaul," lanjutnya.
Ia juga membagikan minuman jamu favoritnya. "Favoritku kunir asem sama beras kencur, terbaik itu dua, ditambah sensasi jahe anget di akhir, the best pokoknya," ujar Riris.
Sama seperti Riris, Syifa juga mendukung party jamu karena melihat manfaat ganda: menyehatkan tubuh sekaligus membantu UMKM.
"Bagus ya kalau dengan adanya tren ini jadi banyak anak muda yang beli jamu, rempah-rempahan asli, aku percaya khasiatnya sih, dan bisa ngebantu hidupin UMKM juga, buat para penjual jamu keliling. Kalau bukan kita yang beli kan siapa lagi," ujar perempuan berusia 27 tahun itu.
Syifa sudah terbiasa membeli jamu sejak kuliah, terutama kunyit asem saat menstruasi dan daun sirih untuk detoks.
"Aku biasanya beli jamu yang kunyit asem waktu lagi haid sih, kalau lagi enggak lancar, pasti selalu beli itu. Terus kalau lagi ngerasa badan nggak enak kayak rasa banyak racun gitu aku beli yang daun sirih," katanya, dikutip dari Detik.
KEBANJIRAN PELANGGAN
Sementara, para penjual jamu tradisional merasakan berkah dari tren ini. Sumiati, penjual jamu keliling di Pancoran, Jakarta Selatan, mengatakan pembelinya kini banyak dari kalangan muda.
"Alhamdulilah senang banget, malah tak ledekin, sini jamu biar sehat, semangat, banyak anak-anak muda lah. Tadinya enggak doyan jadi doyan jamu. Enggak doyan dikira pahit. Padahal enggak semua jamu pahit, pahit kan dipisah," kata perempuan berusia 65 tahun itu. .
Ia menuturkan, jamu beras kencur dan kunir asem jadi favorit anak muda karena ampuh menghilangkan pegal dan membuat badan segar.
"Yang beras kencur kan ilangin pegel-pegel, yang kunir itu buat lambung, buat seger badan. Kalau lagi haid kurang lancar, jadi lancar gitu," ujarnya.
Bukan hanya tren sesaat, party jamu juga menjadi bentuk apresiasi terhadap budaya lokal dan gaya hidup sehat.
Ketua Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI), dr. Inggrid Tania, menilai tren ini sebagai sinyal positif meningkatnya kesadaran hidup sehat di kalangan muda.
Menurutnya, jamu bisa menjadi alternatif minuman manis yang lebih menyehatkan karena berbahan alami.
Namun, ada beberapa kelompok orang sebaiknya menghindari konsumsi jamu atau berhati-hati saat mengonsumsinya, terutama penderita diabetes. "Mau jamu apa aja boleh. Tapi jangan yang ada gulanya," ungkap dr. Inggrid, dikutip dari Tribun News.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.