Kenapa kita sering tonton ulang Instagram Story kita sendiri?
Apakah kita melakukannya untuk memastikan konten kita on brand dengan persona digital yang kita bangun? Atau kita coba menilai diri sendiri lewat 'mata' orang lain? Atau jangan-jangan, kita memang jatuh cinta pada diri sendiri?
Kalau kamu dengar istilah Instagram stalking, hal apa yang langsung terlintas di pikiran?
Mungkin kamu membayangkan diri sendiri sedang ngecek profil gebetan yang baru kamu kenal, atau kamu ingin cari tahu alasan sepasang kekasih baru aja putus. Atau bahkan kamu cuma lagi iseng menelusuri gaya hidup dan fashion musuh bebuyutan semasa SMA yang tiba-tiba jadi influencer.
Tapi menariknya, aktivitas digital sleuthing alias detektif medsos ini sering kita kaitkan dengan orang lain. Padahal kalau dilihat lebih dalam, bisa jadi diri kita sendiri lah penonton paling setia dari konten yang kita unggah.
Ini sudah jadi fenomena umum: kita unggah Instagram Story, yang hanya akan muncul selama 24 jam, lalu kita terus-terusan tonton ulang dan cek siapa saja yang nonton.
Oke, fitur daftar penonton memang punya fungsi: memastikan si dia yang kamu harapkan nonton, memang nonton.
Tapi kenapa kita juga suka nonton ulang konten kita sendiri? Kan kita tahu isinya, kita sendiri yang bikin!
Dan kebiasaan ini nggak cuma berlaku untuk Story saja. Akun TikTok @xoxotatianaa, secara terang-terangan bilang kalau dia nonton ulang kontennya sendiri. Dan ternyata 667 ribu orang setuju dengannya.
Jadi, sebenarnya kenapa, sih, kita melakukan ini? Apa karena kita perfeksionis dan ingin konten kita on brand dengan persona digital yang kita bangun?
Apa kita terlalu sadar akan pandangan orang lain sampai kita coba menilai diri sendiri lewat 'mata' orang lain? Atau jangan-jangan, kita memang jatuh cinta pada diri sendiri?
ALASAN TONTON ULANG IG STORY SENDIRI
Menurut psikoterapis sekaligus penulis spesialis identitas eksistensial, Eloise Skinner, ada beberapa alasan kenapa kita 'stalking' diri sendiri. Salah satunya adalah keinginan untuk melihat diri dari sudut pandang eksternal, ya mungkin mirip degan lagu POV milik Ariana Grande.
"Keinginan untuk tahu bagaimana orang lain memandang kita itu adalah naluri manusia yang udah ada sejak lama," jelasnya.
"Saat kita mencoba mengenali diri, menjawab pertanyaan klasik 'siapa aku?, kita sering mengandalkan opini dan cerminan dari orang lain sebagai panduan," ungkap Skinner, dikutip dari Mashable.
Dan saat informasi itu tidak tersedia, kita pun berusaha menebak-nebak pandangan orang dengan membayangkan apa yang mungkin mereka lihat di profil kita.
Media sosial, dalam hal ini, jadi panggung digital untuk menampilkan versi diri yang ingin kita tonjolkan.
Psikolog Zoe Mallett juga sependapat. Menurutnya, secara evolusioner kita memang butuh diterima secara sosial dan punya status.
"Kecenderungan untuk menampilkan diri secara positif, baik online maupun offline, adalah hasil langsung dari kebutuhan itu," katanya.
"Ini bentuk usaha bawah sadar untuk memperbaiki posisi sosial kita, meningkatkan rasa diterima, dan membangun citra diri yang positif. Ini bagian dari mekanisme bertahan hidup manusia."
Skinner dan Mallett menambahkan bahwa upaya mengontrol persepsi orang terhadap kita sudah ada jauh sebelum Instagram muncul. Misalnya saja, saat kita pilih outfit untuk datang ke acara penting, atau memikirkan kalimat yang pas buat ngobrol dengan kenalan baru.
Media sosial, dalam hal ini, jadi panggung digital untuk menampilkan versi diri yang ingin kita tonjolkan.
Meskipun kita merasa 'mengintip diri sendiri' bisa jadi cara untuk menjaga persona digital itu tetap konsisten, Skinner mengingatkan bahwa dalam beberapa kasus, ini bisa jadi bentuk perfeksionisme.
Jurnalis dan kreator konten Mared Perry mengaku sering nonton ulang Story-nya karena dua alasan: pertama, untuk memastikan kontennya terlihat profesional demi peluang kerja, dan kedua, karena takut dianggap cringe atau terlalu banyak curhat.
"Self-stalking bisa muncul dari rasa tidak aman tentang jati diri, bagaimana orang melihat kita, atau kritik terhadap konten yang kita unggah," lanjut Skinner.
"Kita juga makin sadar dengan perbandingan sosial di dunia maya, mudah banget membandingkan hidup digital kita dengan orang lain, dan itu memengaruhi apa yang kita suka atau tidak suka dari diri sendiri."
BRANDING DIGITAL
Bagi sebagian orang, media sosial adalah perpanjangan dari diri mereka. Setidaknya, itu yang dirasakan jurnalis David Chipakupaku, yang mengaku sering mengulang-ulang cek kontennya karena kombinasi antara kecemasan dan keinginan mengatur kesan.
"Saat seseorang nonton Story-ku, apakah mereka akan dapat gambaran lengkap tentang siapa aku? Kalau iya, berarti aku berhasil. Kalau belum, aku bakal tambahin atau kurangi sesuatu. Kedengarannya aneh dan agak menyeramkan, tapi memang begitu adanya."
Menurut Mallett, ini adalah gejala khas dunia digital. "Kalau di dunia nyata, kita terbatas dalam menunjukkan sisi diri di situasi tertentu. Kita tidak bisa ulang atau kurasi. Tapi online? Bisa banget. Dan itu menambah tekanan untuk tampil sempurna."
Skinner juga menyebut tekanan ini bisa datang dari dalam diri maupun faktor eksternal, seperti tuntutan untuk punya image tertentu, jumlah followers, atau tingkat popularitas di medsos.
APAKAH ITU NORMAL?
Setiap pengguna media sosial punya berbagai alasan mengapa mereka sering tonton ulang konten sendiri, dan bukan semata-mata karena kita narsis.
Namun, apakah ada batas antara normal dan berlebihan?
Bagi sebagian orang, media sosial adalah perpanjangan dari diri mereka.
Per September 2024, Instagram punya 2 miliar pengguna aktif di seluruh dunia, yang pastinya menghasilkan konten dalam jumlah besar. Skinner berpendapat bahwa menengok konten lama sesekali itu wajar, seperti melihat album foto atau buku harian.
"Media sosial bisa jadi tempat penyimpanan versi-versi lama dari diri kita. Jadi refleksi dengan rasa syukur atau nostalgia bisa jadi hal yang menyehatkan dan positif."
Tanda-tanda kamu mungkin sudah terlalu jauh? Selain kalau ini mulai mengganggu fokus ke aspek penting lain dalam hidup, Skinner menyarankan kita untuk peka terhadap perasaan yang muncul saat dan setelah ‘stalking’ diri sendiri.
Kalau bikin semangat atau bikin nyaman, bagus. Namun, kalau itu malah bikin kita terlalu kritis, jadi terlalu fokus ke masa lalu, atau makin tidak pede, sebaiknya pikirkan ulang kebiasaan itu.
"Kalau kita jadi terlalu sadar diri, terlalu asyik dengan diri sendiri, atau kehilangan arah dari tujuan awal pakai media sosial, mungkin saatnya ubah kebiasaan," ujarnya.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.