Keluar jam 6 sore, pulang sebelum tengah malam: Clubbing tanpa begadang jadi tren di Singapura
"Kalau ada yang bilang orang enggak bisa bersenang-senang tanpa alkohol, menurutku itu keliru," ujar salah satu penyelenggara clubbing tanpa begadang, yang kini jadi pilihan generasi urban Singapura untuk tetap seru tanpa kurang tidur.
Pesta sore hingga malam hari yang diselenggarakan secara kolektif oleh Ice Cream Sundays di Haw Par Villa (Foto: Dok. Ice Cream Sundays)
SINGAPURA: Tak perlu lagi bertahan sampai dini hari demi menikmati dentuman musik dan suasana pesta. Di Singapura, semakin banyak anak muda memilih "clubbing alternatif" yang dimulai sore hari dan selesai sebelum tengah malam.
Clubbing atau berpesta kini juga bukan cuma soal alunan house dan disko, tapi juga tentang menikmati kopi dari biji spesial, taman terbuka, dan bahkan rave yang ramah anak dan hewan peliharaan.
Berbagai pesta ini digelar di lokasi unik yang biasanya berakhir sebelum pukul 10 malam, memberikan pengalaman berbeda dari clubbing konvensional.
CNA menghadiri dua pesta alternatif semacam ini, dan berbincang dengan tiga penyelenggara tentang tren yang sedang naik daun ini. Simak berbagai macam pesta alternatif ini jika kamu tertarik berjoget di sore hari saat mengunjungi Singapura.
PESTA TANPA ALKOHOL
Pukul 2 siang, dan suasana groovy di pesta anniversary pertama Beans and Beats yang tiketnya sold out sejak bulan Mei lalu begitu terasa: Sinar matahari masuk dari jendela, tanaman gantung menghiasi area dansa, lampu hangat memancarkan cahaya lembut di seluruh ruangan, dan dentuman musik house mulai membentuk ritme sore hari.
Digelar di Behind the Green Door di Duxton, tempatnya penuh kursi nyaman, mulai dari sofa empuk hingga bangku bar dan meja gaya kafe. Tamu-tamu bisa bersantai dengan tenang, tanpa perlu berebut tempat berdiri seperti di klub biasa.
Namun yang paling mencolok adalah aroma biji kopi segar yang menenangkan dan akrab di hidung.
Saat aku mendekati bar, refleksku mengharapkan bartender dengan shaker di tangan. Tapi yang muncul justru barista yang berdiri di balik deretan alat kopi seduh manual, meracik kopi dari berbagai biji spesial pilihan.
Bukannya koktail, tamu disuguhi kopi spesial tanpa gula tambahan.
Mayoritas pengunjung datang bersama teman atau pasangan, tapi ada juga yang datang sendiri. Ada yang mengamati sekitar, ada yang asyik ngobrol, ada pula yang sekadar menikmati musik sambil memegang cangkir kopi.
Menjelang sore, lantai dansa mulai padat. Musik makin berat di bass, irama semakin menghentak. Orang-orang mulai berdiri, menari, meloncat, mengangkat tangan—tanpa butuh alkohol sebagai pemicu rasa percaya diri.
Tapi atmosfernya yang jadi bahan bakar utama: inklusif, ramah, otentik. Kamu bisa bebas menari pukul 4 sore, tanpa takut dihakimi, dan tentunya, tanpa alkohol.
Kalau ada yang bilang orang enggak bisa bersenang-senang tanpa alkohol, menurutku itu keliru."
Didirikan pada 2024 oleh tiga mahasiswa berusia 21 tahun Ethan Lee, Matteo Lie, dan Aden Low, Beans and Beats mempertemukan dua kegemaran mereka: kopi dan musik, khususnya genre yang jarang ditemukan di klub malam.
"Kami juga ingin menciptakan ruang bagi orang untuk bersosialisasi," kata Lee.
"Di zaman media sosial ini, semua orang sibuk dengan dunianya sendiri, jadi kami ingin memberi kesempatan untuk benar-benar berinteraksi tanpa tekanan," tambahnya.
"Tanpa alkohol, suasananya juga lebih otentik. Orang bisa datang sendiri dan tetap santai, tidak ada ekspektasi apa pun."
Lalu, apakah tidak adanya alkohol membuat suasana canggung?
"Tidak juga," jawab Lee. "Triknya ada di musik—semuanya tergantung keahlian DJ."
"DJ yang benar-benar paham membaca situasi bisa membangkitkan energi. Menurutku, keberhasilan pesta lebih bergantung pada DJ daripada pada minuman," ujarnya.
Untuk acara ini, Beans and Beats bahkan mengundang DJ internasional Yello Music.
Menurut Lee, mengganti alkohol dengan kopi tidak membuat pengalaman berpesta jadi kurang. "Alkohol itu depresan, sementara kafein justru sebaliknya. Kalau ada yang bilang orang enggak bisa bersenang-senang tanpa alkohol, menurutku itu keliru."
Pengunjung pun merasakan hal serupa.
"Lebih inklusif," kata Thet Thet Aung San, yang berusia 18 tahun. "Ada orang yang enggak minum alkohol, dan mereka tetap bisa datang, menikmati suasana, dan have fun tanpa tekanan."
Sementara pengunjung lainnya, Sushant Dwivedi, mengungkapkan, "Ini sesuatu yang berbeda. Akhir pekan itu berharga, biasanya kalau kita keluar Jumat atau Sabtu malam, Minggunya habis buat pemulihan tergantung seberapa banyak minum."
"Tapi kalau pestanya sore atau malam awal, kamu tetap punya waktu dan energi untuk hal lain di akhir pekan," ujar pria berusia 37 tahun itu.
Awalnya, pengunjung acara ini didominasi Gen Z usia awal 20-an. Tapi sejak mulai viral di media sosial, rentang usia pengunjung melebar hingga usia 30-an.
"Harga tiket juga jadi daya tarik," ujar Lee. "Kami berusaha menjaga harga tetap terjangkau, sekitar S$15–S$20, lebih murah dari tiket klub malam. Setiap tiket juga sudah termasuk satu kopi gratis."
"Jadi ini cara menikmati musik sekelas klub, tapi dengan harga lebih rendah dan waktu yang tidak mengganggu jadwal tidur," ujarnya.
Namun, Lee menegaskan Beans and Beats bukanlah bentuk perlawanan terhadap dunia hiburan malam di Singapura.
"Kami hanya ingin menawarkan alternatif sehat bagi mereka yang mencari sesuatu yang berbeda," katanya.
"Dan yang menarik, konsep ini juga menarik bagi orang-orang yang sebelumnya tidak pernah ke klub malam," pungkasnya.
MENARI DI SORE HARI
Di atas bukit Haw Par Villa, dentuman bass dari pesta Ice Cream Sundays bertajuk Haw Par Thrilla sudah terdengar bahkan sebelum sampai puncak.
Sejak pukul 3 sore, halaman terbuka di sana berubah jadi semacam festival siang hari: Ada stan makanan, meja-meja piknik yang dipenuhi orang bermain catur santai dan mengobrol seru.
Berbeda dengan crowd sober yang Gen Z banget di Beans and Beats, Ice Cream Sundays menarik massa yang mayoritasnya milenial dan menyediakan alkohol.
Tapi suasananya tetap tidak seperti pesta konvensional: ada balita, bayi di stroller, hingga anjing yang dibawa pemiliknya.
Lantai dansa tetap terasa lapang. Di bawah tenda terbuka, alunan house dan disko mengisi udara. Suasana begitu mengundang; para tamu bebas berjoget dengan nyaman tanpa kesan pretensius, justru terasa hangat dan penuh sukacita.
"Kami sebenarnya pro-klub malam juga, tapi rasanya ada satu lapisan dalam dunia event musik yang belum banyak dijelajahi," kata Daniel O’Connor, salah satu pendiri Ice Cream Sundays bersama Jake Camacho, Meltem Acik, dan Nick Bong.
Didirikan pada 2016, acara mereka awalnya hanya dihadiri 60 orang, kini tiket terjual habis hingga 1.200 untuk Haw Par Thrilla. Menurut Camacho, musik yang dimainkan biasanya perpaduan disko, house, dan soul.
"Kamu enggak perlu jadi 'tipe tertentu' untuk menikmati suasana atau bersenang-senang," kata Camacho.
"Bisa jadi kamu hanya orang biasa yang cari tempat santai dengan musik oke di akhir pekan. Tapi di saat yang sama, bisa juga kamu penggemar berat house atau techno yang datang demi DJ tertentu," tuturnya.
Menjelang malam, suasana mulai berubah seperti beach club: lampu neon menyala, orang-orang bermandi keringat, menari hingga pukul 10 malam.
"Kami ingin menyajikan cara alternatif untuk menikmati musik dance," ujar O’Connor.
"Misi kami adalah membawa kebahagiaan lewat musik dan pengalaman yang menyenangkan."
"Dan kami ingin orang merasa bahwa mereka bisa datang tanpa harus merasa 'keren' untuk bisa cocok di dalamnya," tambah Camacho.
"Ini inklusif dan cocok untuk banyak tipe orang.
Kamu enggak perlu jadi 'tipe tertentu' untuk menikmati suasana atau bersenang-senang."
Penyelenggara pesta lainnya, Fivetotenpm, juga berupaya menyuguhkan pengalaman unik dalam pesta yang mereka selenggarakan.
Didirikan oleh lima orang, mereka menggelar pesta dari sore hingga malam (biasanya pukul 5 sampai 10 malam) dengan DJ set dan kegiatan ala festival siang hari. Acara berikutnya, Sunday Mess, akan digelar pada 19 Juli 2025.
"Kami memberi opsi 'pilih petualanganmu sendiri': kalau kamu mau minum (alkohol) di acara kami, silakan. Tapi kalau kamu ingin bawa anak dan jadikan ini hari keluarga juga bisa," kata Aloysius, salah satu pendiri dan DJ tetap, yang enggan menyebutkan nama belakangnya.
"Ini membuka banyak kemungkinan baru tentang seperti apa ruang pesta seharusnya," ujar pria berusia 26 tahun itu.
"Di klub, ada batas usia dan suasananya selalu sama: gelap, sempit, dengan speaker menghentak. Satu jenis pengalaman saja," lanjutnya.
"Sedangkan di day party, opsinya banyak. Kami pernah adakan pesta di basement bar yang gelap dan penuh asap hingga DJ-nya nyaris tak kelihatan. Tapi yang terakhir, kami adakan di Dempsey, di alam terbuka dengan latar pepohonan."
Mereka mengkurasi musik dan konsep pesta berdasarkan lokasi acara. Salah satu co-founder, Belle, menambahkan bahwa salah satu kendala malam hari adalah transportasi mahal dan terbatas.
"Kalau pestanya siang atau sore, toko masih buka, kamu masih bisa nongkrong setelahnya dan tetap tidur cukup," ujar perempuan berusia 25 tahun ini.
Lebih dari sekadar waktu, yang menarik dari pesta kolektif ini adalah komunitas yang mereka bangun.
"Setiap kali kami mainkan musik berbeda, crowd-nya pun berbeda. Orang-orang benar-benar datang karena musiknya," kata Aloysius.
"Kalau kamu mengikuti musik yang kamu suka dan datang ke event-nya, kamu pasti akan menemukan komunitasmu sendiri. Ini unik sekaligus ajaib," pungkasnya.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.