Akhir perjalanan konser The Eras Tour, Taylor Swift raup rekor fantastis US$2,2 miliar
Rangkaian konser ini juga mencatat penjualan lebih dari 10 juta tiket, menjadikan TayTay sebagai musisi solo dengan rekor tertinggi sepanjang masa.
Taylor Swift tampil di The Eras Tour di Vancouver, British Columbia, Kanada, pada 6 Desember 2024. (Foto: REUTERS/Jennifer Gauthier)
Taylor Swift mencetak sejarah baru di dunia musik lewat The Eras Tour, tur fenomenal dengan pendapatan fantastis US$2,2 miliar (Rp34,7 triliun), menurut Pollstar.
Tur ini dimulai di Glendale, Arizona, pada 17 Maret 2023, dan berakhir dengan konser ke-149 di BC Place Stadium, Vancouver, Kanada, pada Minggu (8 Desember).
"Rasanya luar biasa malam ini (aku) berada di Vancouver," sapa TayTay, sapaan akrab Taylor kepada para penggemar di konser penutupnya, seperti dikutip dari Vancouver Sun.
CETAK SEJARAH
Pollstar, publikasi yang berfokus pada industri konser dan musik live, melaporkan bahwa Eras Tour menjadi tur dengan pendapatan tertinggi sepanjang masa untuk dua tahun berturut-turut.
Sebelumnya, rekor ini dipegang oleh Farewell Yellow Brick Road Tour Elton John yang menghasilkan US$939 juta (Rp13,85 triliun).
Namun, tur Elton John itu terdiri dari rangkaian 328 konser dan berlangsung selama lima tahun.
Namun, tur Elton John itu terdiri dari rangkaian 328 konser dan berlangsung selama lima tahun.
Pemimpin Redaksi Pollstar, Andy Gensler, menyebut tur ini sebagai momen bersejarah.
"Apa yang dicapai Taylor Swift dan The Eras Tour dalam 21 bulan di lima benua di hadapan 10 juta penggemar adalah sesuatu yang luar biasa dan belum pernah terjadi sebelumnya," tulisnya dalam situs resmi Pollstar.
Selain soal pendapatan, Eras Tour juga mencatat penjualan lebih dari 10 juta tiket, menjadikan Taylor Swift sebagai musisi solo dengan rekor tertinggi sepanjang masa.
DAMPAK EKONOMI
Konser-konser Taylor membawa dampak besar pada kota-kota yang menjadi lokasi tur.
Di Toronto, Kanada, misalnya, Taylor menggelar enam pertunjukan dalam dua akhir pekan, yang menurut Destination Toronto, menghasilkan dampak ekonomi sebesar C$282 juta (sekitar Rp2,1 triliun).
Bahkan, Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau sempat menghadiri salah satu konser tersebut bersama keluarganya.
Sebelumnya, Trudeau secara terbuka mengajak Taylor tampil di Kanada melalui unggahan di media sosial, mengutip lirik lagu "Cruel Summer."
LIKA-LIKU KONSER
Penampilan Taylor Swift menuai pujian kritis dari berbagai media.
The New York Times menyebut konser pembuka di Glendale sebagai "kelas master," sementara Vancouver Sun menggambarkan konser terakhirnya "spektakuler."
Namun, perjalanan tur ini juga diwarnai tantangan.
Di Wina, Austria, tiga konser harus dibatalkan karena ancaman terorisme.
Tragedi juga terjadi di Rio de Janeiro ketika seorang penggemar meninggal akibat kelelahan panas selama konser berlangsung.
Dari segi politik, Taylor mendapat sorotan setelah mendukung kandidat calon presiden AS dari Partai Demokrat, Kamala Harris.
Hal ini memicu reaksi keras dari Donald Trump, yang menulis di Truth Social, "I HATE TAYLOR SWIFT," dalam huruf kapital.
Dengan pendapatan luar biasa, pujian kritis, dan dampak global, Eras Tour tidak hanya menempatkan Taylor Swift sebagai musisi legendaris, tetapi juga sebagai ikon budaya yang melampaui batas-batas dunia hiburan.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.