AI kini bisa menjadi aktris, namanya Tilly Norwood
Studio film dan televisi diam-diam mulai beradaptasi dengan kemajuan teknologi untuk melahirkan bintang AI yang bisa bersaing dengan aktor manusia.
Ilustrasi AI yang menyerupai manusia. (Foto: iStock/Thinkhubstudio)
Industri hiburan bergerak cepat untuk beradaptasi dengan kemajuan teknologi dengan menghadirkan aktris berbasis kecerdasan buatan atau AI, yang diberi nama Tilly Norwood. Studio yang membuatnya, Xicoia, kini tengah bernegosiasi dengan sejumlah agensi bakat untuk mengontrak sang aktris AI dalam beberapa proyek film.
Studio Xicoia merupakan anak perusahaan Particle6 yang dimiliki oleh aktris, komedian, sekaligus teknolog Eline Van der Velden. Ia mengungkapkan kehadiran terobosan aktris AI ini pada panel diskusi Zurich Summit yang berlangsung Sabtu (27/9).
Velden mempresentasikan kemajuan ini melalui diskusi tentang perkembangan AI di industri hiburan, bersama dengan Verena Puhm, kepala Studio Dream Lab LA milik Luma AI.
Baik Van der Velden maupun Puhm sama-sama menekankan bahwa studio dan perusahaan media hiburan lain sebenarnya sudah diam-diam merangkul teknologi AI, meskipun tidak banyak bicara di depan publik.
Mereka juga meminta publik menantikan pengumuman proyek besar yang menggunakan teknologi ini dalam beberapa bulan mendatang.
"Kami menghadiri banyak ruang rapat sekitar Februari lalu, dan semua orang bilang, 'Tidak, ini tidak ada apa-apanya. Ini tidak akan terjadi.' Lalu pada Mei, mereka mulai bilang, 'Kita perlu melakukan sesuatu dengan **kalian,'" ungkap Van der Velden.
"Saat pertama kali kami meluncurkan Tilly, orang-orang bertanya, 'Apa itu?', dan sekarang kami akan segera mengumumkan agensi mana yang akan mewakili dia dalam beberapa bulan ke depan," tambahnya.
Studio Xicoia sendiri baru beberapa hari diluncurkan sebagai anak perusahaan Particle6 yang berfokus menciptakan, mengelola, dan memonetisasi bintang digital berbasis AI.
Jika Tilly Norwood akhirnya mendapat agensi, ia akan menjadi aktris AI pertama dalam sejarah yang berhasil melakukannya.
Sementara Verena Puhm, yang merupakan mantan seniman AI, pada Juli lalu resmi menjabat sebagai kepala Studio Dream Lab LA milik startup Luma AI.
Ia mengaku sependapat dengan Van der Velden soal bagaimana sikap studio produksi kini mulai berubah dan beradaptasi dengan kemajuan AI.
"Aku ingat pernah mengadakan pertemuan dengan studio sebagai seniman AI sebelum bergabung dengan Luma. Beberapa dari mereka berkata, 'Oh tidak, kami tidak menggunakan AI.' Aku tahu sebagian berbohong, mereka sebenarnya sudah diam-diam mengerjakan sesuatu, tapi sebagian memang belum terbuka sama sekali. Lalu jelas sekali, tahun ini sekitar Maret atau April, orang-orang mulai menghubungiku dan ingin berbicara denganku," ungkapnya.
"Mereka membicarakan tentang aku menjadi penghubung antara sutradara dan seniman AI. Saat itu aku banyak bepergian dan memberikan edukasi soal alur kerja, pipeline, dan bagaimana cara mengintegrasikannya. Tiba-tiba semua itu jadi sangat menarik buat mereka. Itu seperti bahasa baru bagi mereka, dan mereka bilang, 'Kita benar-benar harus mencari orang dari luar yang sudah bekerja di industri AI.'"
"Secara historis, studio memang sangat lambat beradaptasi, setidaknya yang terlihat di publik. Mereka butuh kreator baru dan teknolog kreatif yang bisa langsung menunjukkan caranya. Bisa diasumsikan banyak dari mereka sudah mengerjakan hal ini," tambahnya.
Puhm menegaskan bahwa semua perusahaan besar dan studio saat ini sedang mengerjakan proyek dengan bantuan AI. Namun, karena terikat non-disclosure aggreement (perjanjian kerahasiaan/NDA), ia tidak bisa mengungkapkan detail apa pun.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.