Mereka yang menyediakan rumah bagi hewan lansia, buta, dan sakit parah
Ketika banyak orang mengadopsi anak anjing dan anak kucing, empat perempuan ini memilih sebaliknya, yaitu menyediakan rumah bagi anjing dan kucing buta, lansia dan giginya tanggal yang menderita kanker dan demensia, serta merawat mereka hingga akhir hayatnya tiba.
(Dari kiri) Asmawati Saimon, Tracillia Sia, Vanessa Lee dan Sharon Ong menemukan keluarga baru melalui kepedulian bersama terhadap kucing dan anjing lansia, sakit, dan telantar. (Foto: Asmawati Saimon, Tracillia Sia, Vanessa Lee dan Sharon Ong; Seni: CNA/Jasper Loh)
Bukanlah gambar anak anjing yang lucu yang membuat Sharon Ong ingin memelihara anjing, melainkan gambar memprihatinkan yang ia lihat di Facebook pada tahun 2015 yang mengejutkan dia.
Ong melihat anjing Shih Tzu yang wajahnya penuh tertutupi bulu. "Kedua matanya terinfeksi. Dia baru saja dioperasi dan ada selang di wajahnya," begitu Ong mengingatnya. Anjing itu tidak dirawat dengan baik oleh pemilik sebelumnya.
Meski ada saat itu pengasuh lansia dan anak berkebutuhan khusus berusia 58 tahun tersebut tidak ingin memelihara anjing, ia tetap memutuskan untuk menelepon kelompok penyelamat hewan, Purely Adoptions, untuk menawarkan bantuan.
Saat mereka membawa anjing tersebut ke rumahnya, Ong mengira itu hanya kunjungan rumah saja untuk melihat apakah dia bisa akrab dengan anjing tersebut. Namun, hal itu tidak lama berubah menjadi penitipan sementara.
Dia tidak menyangka dirinya bakal suka dengan betapa lucunya anjing tersebut. Seminggu kemudian, Ong mengadopsi anjing yang usianya tidak diketahui tersebut.
Pemilik sebelumnya memanggil anjing itu dengan nama Lazy. Ong kemudian menggantinya dengan nama yang tidak biasa, yaitu Hannibal Lecter, diambil dari nama seorang psikiater forensik jenius dan pembunuh berantai kanibal dalam seri TV Hannibal. Nama itu kemudian dikenal oleh banyak orang di klinik hewan langganannya.
Dua tahun berikutnya, Hannibal menjalani empat operasi mata lagi. Namun malang, kedua matanya harus diangkat karena tidak dapat diselamatkan lagi.
Meski buta total, Hannibal tetap tahu jalan di sekitar rumahnya dan suka jalan santai di luar untuk menutupi kekurangan penglihatan dan pendengarannya. Hannibal bahkan pernah menjadi model dalam acara peragaan busana di hari hewan pada 2015 dan disematkan sebagai Mr. December dalam kalender hewan komunitas peduli hewan Purely Adoptions. Pada tahun 2024, anjing tersebut menghembuskan nafas terakhir.
"Hannibal membuka banyak kesempatan berharga dalam hidup saya," kata Ong. "Meski tidak memiliki mata, dia masih kelihatan sangat lucu. Setiap kali saya keluar bersamanya, orang-orang selalu datang dan bertanya tentangnya – ibu-ibu, bapak-bapak, kakek-nenek, pengguna kursi roda.
"Dia benar-benar membuat saya hidup bertetangga," imbuh Ong yang hidup sendiri dan belum memiliki pasangan.
Hannibal juga ikut serta dalam kegiatan Therapy Dogs Singapore selama enam tahun untuk memberikan dukungan emosional pada pasien-pasien Institute of Mental Health dan warga di MINDSville@Napiri, atau rumah bagi orang dengan disabilitas intelektual.
Saat ini, Ong menjadi bagian dari sekelompok kecil orang yang mencari hewan-hewan yang tidak diadopsi, terutama yang sudah berumur, sakit, atau memiliki masalah perilaku yang serius.
ANJING YANG JARANG DIPILIH UNTUK DIADOPSI
Tracillia Sia baru saja kehilangan anjing terrier kesayangannya yang bulunya selembut sutra saat dia dan suaminya menghadiri program adopsi hewan yang diselenggarakan oleh Purely Adoptions pada 2019. Manajer kargo berusia 57 tahun tersebut diperlihatkan gambar dua anjing Jack Russell.
Walau tidak dapat memilih di antara keduanya, pasangan yang putrinya sudah dewasa tersebut meminta untuk dicarikan anjing yang paling jarang dipilih untuk diadopsi. Beberapa hari kemudian, mereka ditunjukkan foto Rex, anjing Jack Russell yang usianya sekitar 10 tahun.
"Kaki belakangnya tidak kokoh dan tidak bisa berjalan seimbang. Dari yang kami dengar, pemilik sebelumnya selalu merantainya dan tidak merawatnya dengan baik.
"Sebelah matanya buta karena hantaman benda dan lukanya tidak diobati. Dia takut dengan manusia. Jadi, kalau kita mencoba menyentuhnya, dia akan menghindar atau menggigit."
Karena kaki belakangnya lemah, Rex kadang-kadang jatuh ke samping dan kesulitan berdiri kembali.
Karena diliputi rasa iba, dia akhirnya membawa anjing itu ke rumahnya. Pada minggu pertama, Rex menggigit ibu Sia. Keluarganya pun terpaksa harus memasang penutup moncong saat memandikannya.
Akan tetapi, setelah dirawat dengan sabar dan kasih sayang selama tiga bulan, Rex akhirnya luluh pada keluarga tersebut. Perlahan-lahan, dia menjadi tenang bahkan di sekitar orang asing dan dia tidak harus memakai penutup moncong itu lagi.
Rex tinggal bersama keluarga mereka selama tiga tahun sampai akhirnya tutup usia. Selama hidup, dia dimanjakan dengan makanan nikmat, seperti durian, apel, daging babi, ayam, dan ikan yang matang.
Hewan yang sudah tua memang bisa menjadi peliharaan yang sangat cocok kalau saja orang tidak melihatnya secara kasat mata, kata seorang guru sekolah luar biasa (SLB) Asmawati Saimon.
Asmawati belum memiliki pasangan dan sebelumnya tinggal bersama ibunya. Pada 2020, setelah ibunya meninggal, kucingnya yang berumur 19 tahun ditinggal bekerja sendirian. Dia ingin mencari kucing tua untuk menemaninya, karena anak kucing yang penuh energi akan membuat kucingnya kewalahan.
Alhasil, pada Juni 2021, dia mengadopsi kucing 10 tahun, An An, dari Metta Cats and Dogs Sanctuary. Kucing tersebut terinfeksi Virus Imunodefisiensi Kucing (FIV) yang melemahkan pertahanan tubuhnya.
Ketika kucing 19 tahunnya meninggal beberapa bulan kemudian, Asmawati mengadopsi dua kucing lansia kembali untuk menemani An An. Namanya Garfield dan Bell dan keduanya berumur 16 tahun. Yang satu berstatus positif FIV dan yang lainnya mengidap artritis (radang sendi). Ketiga kucing itu menjadi sahabat akrab dan membuat Asmawati bahagia.
Meskipun sangat cocok untuk dijadikan hewan peliharaan, banyak hewan lansia dan sakit tidak diikutkan dalam proses adopsi, menurut pengamatan Vanessa Lee yang juga mengadopsi hewan.
Pengajar 30 tahun ini sebelumnya sudah punya dua anjing saat dia tidak sengaja berjumpa dengan seekor kucing jalanan bernama Dobbie pada 2023. Saat itu, dia masih berumur tujuh tahun dan kucing itu ditemukan dengan dua kaki belakang patah, dan sedang menjalani operasi di klinik hewan. Di sinilah, Lee melihat kucing tersebut.
Karena menderita virus leukimia kucing (FeLV), virus yang menyebar dan melemahkan sistem imun, kucing tersebut tidak boleh dikembalikan ke jalanan. Lee dan suaminya, yang belum memiliki anak, memutuskan untuk mengadopsinya.
Tidak lama kemudian, salah satu anjing Lee dioperasi karena penyumbatan lambung ringan dan hemangiosarcoma, atau kanker pembuluh darah, dan meninggal akibat komplikasi pasca-operasi.
Karena diliputi rasa duka yang mendalam dan berharap masih dapat memelihara kucing, mereka mengadopsi anjing Jack Russell yang berumur 15 tahun bernama Toothless dari Society for the Prevention of Cruelty to Animals (SPCA). Anjing ini mengidap osteosarcoma atau kanker tulang Stadium 4.
Dia merawatnya hingga akhir hayatnya dalam program yang dikenal penyelamat hewan sebagai "fospice care" atau program mengasuh hewan selama sisa hidupnya.
"Bahkan kami tidak mempertimbangkan anjing lainnya di penampungan. Kami memutuskan kalau anjing ini akan menerima semua makanan nikmat, jalan santai dan bersenang ria sebelum kepergiannya. Saya merasa kami melihat Jubi (anjing kesayangan kami yang sudah berpulang) di dalam dirinya," ucap Lee kepada CNA Women.
Toothless suka sekali makan, dan selama lima bulan sebelum tutup usia oleh kanker, anjing tersebut diberi segalanya, mulai dari nasi ayam hingga char siu, es krim dan durian.
MERAWAT ANJING SAKIT DAN LANSIA
Di balik momen-momen bahagia dan kisah perubahan yang mengharukan, anjing sakit dan lansia seringkali membutuhkan perawatan medis yang lebih banyak.
Pada Juni 2025, kucing Lee, Dobbie, rupanya memiliki gumpalan 6cm pada hati dan paru-parunya, dan didiagnosis mengidap limfoma atau kanker yang menyerang sistem pernafasan, di mana umum terjadi pada kucing pengidap virus FeLV. Lee dan suaminya membawa kucingnya untuk menjalani kemoterapi dengan biaya medis yang mencapai S$10.000 (Rp136 juta).
Beberapa sesi pertama rasanya sangat berat, ungkap Lee. Dobbie menderita efek samping seperti lesu, mual dan kehilangan nafsu makan, serta beratnya turun 100g setiap minggu. Namun perlahan-lahan, dia terbiasa dengan pengobatannya dan setelah menjalani 11 sesi, Dobbie sekarang berada dalam masa remisi.
Setelah melewati lima tahun bahagia bersama, kucing lansia Asmawati, An An, didiagnosis menderita gagal ginjal tahun ini. Setiap hari, dia memberikan injeksi cairan padanya untuk mencegah dehidrasi.
Terlepas dari penyakitnya, An An masih mampu menjadi kucing terapi dengan memberikan rasa nyaman pada staf dan orang lansia di rumah sakit dan panti.
Menurut pengamatan Lee, orang-orang sering terkejut melihat betapa kuat dan mudah beradaptasi anjing serta kucing yang sakit dan lansia ini.
"Bahkan ketika mereka sedang sakit atau menderita kanker, mereka masih bisa lari ke mana-mana, main mainan, bahkan jalan santai. Mereka masih mau menghabiskan waktu bersama dan ikutan bekerja dengan kita.
"Mereka benar-benar menunjukkan bahwa sekalipun kita jatuh, kita masih dapat bangkit dan menjalani hidup yang baik," imbuhnya.
Sejak saat itu, Lee mengadopsi anjing chihuahua bekas indukan bernama Chizu dan berumur delapan tahun. Anjing ini pernah menderita demam kutu, tumor besar pada beberapa kelenjar susu, tumor besar pada dinding rahim, kebutaan dan ulserasi pada mata kanan, rahang tidak sejajar, dan gigi membusuk. Akan tetapi, anjing tersebut dapat beradaptasi dengan baik di kediaman Lee dan menghadirkan sukacita di tengah keluarganya.
"Meski kerap luput dari perhatian di tempat penampungan, anjing-anjing itu tidak kalah mampu untuk memberikan kasih sayang, dan biasanya lebih berterima kasih ketika mendapat tempat tinggal daripada anak-anak anjing," kata Lee.
Ong juga mengadopsi Miss Nala yang merupakan ras Kesayangan Singapura (Singapore Special), dari kelompok peduli hewan Causes for Animals Singapore pada 2024, usai anjing pertamanya, Hannibal, mati pada tahun itu. Nala diserahkan pemilik sebelumnya ke penampungan karena ia mengigit anak di keluarga itu, yang kemudian dirawat di rumah sakit hingga seminggu.
Setelah mengadopsi Nala, Ong bekerja sama dengan pelatih anjing untuk menangani masalah kecemasan dan perilakunya seperti menggigit. Anjing itu kini dapat menyesuaikan diri dan disukai tetangga.
Selain kedua anjing adopsi tersebut, Ong juga mengasuh enam anjing yang mengidap penyakit kritis stadium akhir seperti kanker dan demensia, serta merawat mereka hingga akhir hayatnya. Namun, dia tidak merasa terbebani dengan perpisahan itu.
"Tentu, saya merindukan anjing-anjing itu. Namun, jika ada pelajaran yang bisa diambil selama menjadi pengasuh hewan, terutama anjing-anjing tua yang datang dengan kantong plastik penuh dengan obat-obatan, itu adalah bahwa segala sesuatu ada waktunya," jelasnya.
"Ketika anjing tua datang ke saya dengan berbagai masalah kesehatannya, yang saya tidak sabar adalah masa-masa awal yang sangat menyenangkan di mana kesehatan mereka menunjukkan kemajuan besar dan melampui setiap ekspetasi orang. Saya merasa puas melihat mereka menikmati hidup dengan cara yang tidak pernah saya bayangkan.
"Tapi biasanya, tandanya adalah begitu mereka sampai di titik di mana mereka dalam keadaan terbaik mereka, dan mereka nyaman, di saat itulah mereka siap untuk pergi.
"Ketika saya merasa salah satu anjing yang saya asuh mendekati ajalnya, saya tidak gelisah," imbuhnya.
"Menurut saya, yang terpenting adalah bagaimana kita memperlakukan mereka selagi mereka hidup dan seberapa bahagia mereka menikmati sisa-sisa hari mereka, alih-alih sibuk memikirkan mengapa kita tak diberi waktu lebih lama," terangnya.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.