Sering laku puluhan miliar, ini makna 5 mahakarya Raden Saleh yang sarat kritik di tiap guratan
Dengan gaya romantisisme, pelopor seni modern Indonesia ini selalu menyisipkan kritik sosial dan politik.
Lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro (1857) karya Raden Saleh. (Foto: Dok. Istana Negara Jakarta)
Raden Saleh adalah salah satu pelukis legendaris Indonesia yang meninggalkan jejak mendalam dalam dunia seni, baik nasional maupun internasional.
Sebagai pelopor seni modern Indonesia, karya-karya Raden Saleh tidak hanya memukau secara visual, tetapi juga sarat dengan simbolisme, sejarah, dan kritik sosial.
Artikel ini mengulas berbagai lukisan Raden Saleh yang terkenal, fenomenal, dan memiliki nilai seni serta sejarah yang tinggi.
KEHIDUPAN RADEN SALEH
Raden Saleh Sjarif Boestaman, seorang keturunan Jawa-Arab yang lahir pada masa Hindia-Belanda, merupakan sosok pelukis pertama dari Indonesia yang mendalami seni modern Barat.
Ia belajar di bawah bimbingan A.A.J. Payen di Hindia-Belanda sebelum melanjutkan pendidikan seni di Belanda dan Eropa.
Gaya seni Raden Saleh banyak dipengaruhi oleh romantisisme Eropa, tetapi ia mengadaptasinya ke dalam konteks lokal dengan menonjolkan elemen-elemen khas Indonesia.
Ketertarikannya pada dunia hewan, alam, dan sejarah tercermin dalam sebagian besar karyanya.
1. Penangkapan Pangeran Diponegoro (1857)
Lukisan ini menjadi salah satu karya paling terkenal dan fenomenal Raden Saleh.
Ia menggambarkan momen saat Pangeran Diponegoro ditangkap oleh pasukan Belanda pada tahun 1830.
Dalam lukisan ini, Diponegoro digambarkan berdiri tegap, dengan tangan mengepal dan dada membusung, menunjukkan keberanian dan perlawanan terhadap penjajah.
Karya ini sering dibandingkan dengan versi Nicolaas Pieneman yang lebih menonjolkan peran Jenderal De Kock.
Meskipun kedua lukisan menggambarkan penangkapan Pangeran Diponegoro, jika dicermati karya Raden Saleh dengan Nicholas Pieneman berbeda.
Dalam lukisan Raden Saleh, Pangeran Diponegoro digambarkan mengadah ke atas, ditangisi pengikutnya, dan di sampingnya berdiri de Kock yang tampak arogan.
Tidak ada bendera Belanda pada lukisan Raden Saleh, yang kemudian diberi judul "Penangkapan Diponegoro", bukan "Penyerahan Diponegoro."
Selain itu, karya Raden Saleh tidak menggambarkan proporsionalitas postur tubuh orang Belanda.
Lukisan ini menggambarkan postur tubuh orang Belanda sejajar dengan tinggi orang pribumi.
Dengan gaya romantisisme, Raden Saleh menyisipkan simbolisme nasionalisme dan kritik terhadap kolonialisme.
2. Potret H.W. Daendels (1840)
Lukisan potret ini menampilkan Herman Willem Daendels dengan gaya naturalisme romantis.
Raden Saleh melukis Potret H.W. Daendels dalam berukuran 98x119 cm menggunakan cat minyak di atas kanvas.
Lukisan ini mengusung gaya naturalisme romantis dan menampilkan Daendels berdiri di samping meja.
Dalam potret tersebut, Daendels memegang teropong di tangan kanan sambil menunjuk peta dengan tangan kirinya.
Makna lukisan Raden Saleh ini juga menyiratkan kritik antikolonial.
Raden Saleh menggambarkan pemandangan pegunungan Indonesia dengan perpaduan warna biru dan hijau cerah, menciptakan kontras dengan figur utama.
Selain menonjolkan sosok Daendels, karya ini juga menyelipkan kritik sosial melalui latar pegunungan Indonesia yang mengingatkan pada penderitaan rakyat akibat kerja paksa pembangunan jalan raya Anyer-Panarukan.
3. Kebakaran Hutan (1849)
Dikenal dengan nama Forest Fire, lukisan ini menjadi salah satu karya terbesar Raden Saleh.
Ia menggambarkan kekacauan dramatis di tengah kebakaran hutan dengan hewan-hewan yang berlarian menyelamatkan diri.
Karya ini dipersembahkan kepada Raja Willem III pada tahun 1850, yang kemudian memberikan gelar Pelukis Sang Raja kepada Raden Saleh.
Saat ini, karya ini menjadi koleksi Galeri Nasional Singapura.
4. Perburuan Banteng II (1851)
Lukisan ini menggambarkan suasana perburuan hewan yang dilakukan dengan tombak dan kelewang.
Dengan teknik detail yang luar biasa, Raden Saleh menghidupkan adegan perburuan tersebut dalam kanvas.
Salah satu karya seri ini pernah terjual dalam lelang di Vannes, Prancis, seharga 8,8 miliar dolar AS pada tahun 2018.
5. Lanskap Jawa: Pemandangan Merbabu dan Merapi (1862)
Dalam lukisan ini, Raden Saleh menggambarkan keindahan lanskap Gunung Merbabu dan Merapi.
Dengan cat minyak pada kanvas berukuran 77 x 120 cm, karya ini terjual seharga 24,4 miliar rupiah dalam lelang Sotheby’s pada awal tahun 2025.
Sebagai pelopor seni modern Indonesia, Raden Saleh membawa seni lukis Indonesia ke tingkat yang lebih tinggi.
Gaya realis dan romantisisme yang diperkenalkannya menjadi inspirasi bagi generasi seniman berikutnya.
Karya-karyanya tidak hanya menjadi koleksi seni, tetapi juga dokumen sejarah dan simbol nasionalisme.
Hingga kini, lukisan-lukisan Raden Saleh terus diapresiasi di berbagai belahan dunia, menunjukkan betapa besar pengaruhnya dalam dunia seni internasional.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.