Skip to main content
Iklan

Lifestyle

10 tahun penguntitan Nimas oleh Adi: Mengupas perilaku stalking, apa bedanya dengan pengagum biasa

Adi telah mengganggu kehidupan Nimas selama 10 tahun dengan menguntitnya. Apa pandangan psikolog mengenai perilaku ini, dan bagaimana mencegahnya? 

 

10 tahun penguntitan Nimas oleh Adi: Mengupas perilaku stalking, apa bedanya dengan pengagum biasa

Ilustrasi stalker. (iStock)

JAKARTA: Nimas Sabella sudah muak. Sepuluh tahun sudah Adi Pradita - temannya semasa SMP - mengganggu, bahkan meneror kehidupannya. Adi seperti bayang-bayang yang ingin dienyahkan oleh Nimas.

Adi disebut membuat ratusan akun media sosial di Instagram, X hingga WhatsApp untuk menguntit Nimas dan terus menghubunginya. Pria yang mengaku mencintai Nimas ini mengirim pesan bernada godaan, pelecehan hingga ancaman. Satu kali, dia berdiri di depan rumah Nimas sedari tengah malam hingga subuh, meneror dalam diam.

Nimas yang kesal hingga ubun-ubun menumpahkan kisahnya ke sebuah utas di X, berujung pelaporan ke polisi. Adi akhirnya dicokok polisi dan terancam 6 tahun penjara.

Karena populernya kasus ini, kisah "neraka 10 tahun" yang dialami Nimas karena kuntitan Adi akan diangkat menjadi sebuah film. 

Film dengan tema sama juga ditayangkan di Netflix dengan judul 'Baby Reindeer', menceritakan seorang pria bernama Donny Dunn yang frustrasi karena terus dibayangi oleh Martha Scott. Menyaksikan film ini, penonton dapat merasakan sendiri kegelisahan dan rasa terganggu dari Donny karena selalu dikuntit dan diteror oleh Martha.

Menurut Veronica Kaihatu, dosen Program Studi Psikologi di Universitas Pembangunan Jaya kepada CNA Indonesia, penguntitan adalah hal yang berbahaya karena selain menyebabkan stres, perilaku ini berisiko berkembang menjadi pelecehan, serangan fisik atau bahkan pembunuhan.

"Penelitian menyebutkan bahwa kurang lebih 30 persen korban penguntitan pada akhirnya menjadi korban tindak kekerasan dari pelaku penguntitan. Sayangnya, risiko seperti ini sulit untuk diprediksi, apalagi bila penguntitan awalnya dilakukan di dunia maya," kata Veronica dalam perbincangan dengan CNA.

APA BEDA PENGUNTITAN DENGAN KEKAGUMAN?

Veronica menjelaskan bahwa American Psychological Association (APA) mendefinisikan penguntitan atau stalking sebagai serangkaian pola perilaku mengikuti atau mengamati seseorang dengan cara yang obsesif, mengganggu, atau melecehkan.

Sementara Departemen Kehakiman Amerika Serikat, kata Veronica, menyebut penguntitan adalah serangkaian tindakan yang ditujukan kepada seseorang, yang menimbulkan ketakutan dan kecemasan akan keselamatan dirinya dan orang lain, atau memunculkan tekanan emosional yang besar. 

Korban penguntitan awalnya mungkin mengira tindakan pelaku adalah hal yang wajar, dilandasi semata karena kekaguman. Namun lama kelamaan korban merasa kesehariannya terganggu lantaran menerima ratusan email atau telepon dalam sehari. 

Lantas bagaimana kita membedakan antara kekaguman dengan penguntitan? 

"Patokan utama ada pada ketidakseimbangan komunikasi yang terjadi, stres yang dihasilkan serta ancaman yang dimunculkan. Ketika pelaku memunculkan serangkaian perilaku yang tidak diinginkan, mengganggu dan dianggap sebagai ancaman oleh penerimanya, maka hal ini dapat dikategorikan sebagai penguntitan," kata Veronica. 

Ilustrasi penguntitan. (iStock)

MENGAPA SESEORANG JADI PENGUNTIT?

Veronica mengatakan, perilaku penguntitan muncul karena keinginan pelaku untuk mengendalikan korban, termasuk menghilangkan pesaing dan berusaha mendapatkan cinta korban. Perilaku menguntit menjadi sebuah keasyikan sendiri bagi pelaku, tanpa perlu ada penjelasan logis yang mendasarinya.

"Individu yang dikuntit biasanya adalah pasangan dari hubungan intim yang gagal atau orang lain yang menarik secara khusus bagi pelaku, misalnya artis, selebriti atau mereka yang pernah memberikan bantuan kepada pelaku," kata Veronica.

Kebaikan kecil ini yang berujung penguntitan dalam kasus Nimas maupun Donny dalam film Baby Reindeer. Dalam kasus Nimas, Adi menjadi terobsesi setelah korban memberikannya uang jajan ketika mereka sama-sama di bangku SMP. Sementara dalam film Baby Reindeer yang terinspirasi dari kisah nyata, Martha mulai menguntit setelah Donny berbaik hati membelikannya minum.

Penyebab lainnya, pelaku penguntitan mungkin mengalami gangguan pada kesehatan mentalnya. Penelitian, imbuh Veronica, menunjukkan 50 persen dari mereka memiliki gangguan kepribadian, umumnya pada penguntit selebritis, dan memiliki fantasi adanya hubungan di antara mereka berdua. 

"Berdasarkan penelitian, lebih banyak pria yang menjadi penguntit dibandingkan wanita," kata Veronica.

"Para penguntit biasanya memiliki ketakutan yang besar terhadap situasi sosial karena mereka memiliki keterampilan sosial yang rendah dan merasa kesulitan ketika harus berkomunikasi dengan orang lain."

APAKAH PELAKU PENGUNTITAN BISA DISADARKAN?

Ada kalanya ketika sedang mengejar cinta, seseorang tidak sadar kalau dia sedang menguntit, yaitu dengan terus mengikuti, menelepon, mengirim pesan atau hadiah. Terkadang, tindakan itu dilakukan terus menerus tanpa tanpa henti. Pelaku penguntitan harus menyadari bahwa tindakannya telah membuat seseorang tidak nyaman.

Veronica mengatakan, seseorang harus menyadari bahwa dia telah menguntit ketika korban mengeluh dan meminta agar perilaku itu dihentikan. Tanda berikutnya adalah ketakutan yang timbul dari korban, sehingga dia terpaksa mengubah kegiatan keseharian untuk menghindari interaksi dengan pelaku.

"Tanda ketiga muncul dari pelaku itu sendiri, dalam bentuk keyakinan bahwa korban adalah satu-satunya orang yang dapat ia cintai, padahal cinta tersebut tidak berbalas," ujar Veronica.

Pelaku harus menyadari tindakannya telah merugikan orang lain dan berpotensi menyeretnya ke penjara. Setelah menyadarinya, pelaku penguntitan harus bisa meredam diri dengan cara memahami akar penyebab dari perilakunya tersebut. Menurut Veronica, hal ini sulit untuk dilakukan sendiri sehingga disarankan meminta bantuan profesional seperti psikolog atau psikiater.

"Mereka (psikolog/psikiater) dapat membantu mengkategorikan penyebab pelaku menjadi penguntit. Misalnya karena merasa ditolak dan ingin membalas dendam ... Setelah penyebabnya ditemukan, maka akar masalah tersebut yang diselesaikan sehingga tidak lagi menjadi alasan munculnya perilaku menguntit," kata Veronica.

BAGAIMANA BILA KITA MENJADI KORBAN PENGUNTITAN?

Veronica mengatakan bahwa sikap tegas harus dilakukan oleh korban sejak awal dia merasa penguntitan telah terjadi. Terkadang, korban menganggap tindakan tersebut hal yang wajar sehingga masih ditolerir.

"Mereka tidak mau dianggap sombong atau terlalu percaya diri dan sering kali berharap perilaku pelaku berubah dengan berjalannya waktu. Hal pertama yang dapat dilakukan korban, bila memungkinkan, adalah membangun komunikasi dengan batasan yang jelas dengan pelaku," kata Veronica.

Korban juga harus mengkomunikasikan ketidaknyamannya kepada pelaku. Namun jika pelaku tidak juga berubah, disarankan untuk meminta bantuan pihak ketiga, melaporkan bahwa ada batasan-batasan yang telah dilanggar oleh pelaku dengan menyertakan bukti-bukti yang telah dikumpulkan. 

"Bila kita adalah keluarga atau teman dari korban, maka bantuan paling mendasar adalah untuk meyakinkan korban bahwa perilaku pelaku memang secara objektif sudah masuk kategori mengganggu," kata Veronica. 

"Jangan sampai ia terlambat menyadarinya, karena secara rata-rata korban baru akan melaporkan masalah ini bila sudah menerima 120 kali perilaku penguntitan." 

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel CNA.id dengan klik tautan ini. 

Source: CNA/da

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan