Komentar: Untuk jadi bagian dari komunitas ASEAN, Timor Leste perlu terkoneksi dengan Indonesia
Indonesia bisa membuat keanggotaan ASEAN benar-benar berarti bagi Timor Leste dengan membuka jalur feri dan penerbangan dari Kupang, ujar seorang mantan penasihat kebijakan.
Bendera Timor Leste berkibar di Pantai Areia Branca, di pinggiran Kota Dili. (Foto: iStock)
SYDNEY: Melangkah di dalam gedung pelabuhan luas berubin putih di Kupang, Nusa Tenggara Timur, sekilas terasa seperti berada di gerbang maritim menuju wilayah besar yang sibuk. Namun begitu berlama-lama di sana, tampak jelas bangunan berkilau itu lebih seperti monumen bagi harapan masa depan.
Sebagian besar ruangannya kosong; gerbang tiket elektronik belum berfungsi dan digantikan petugas pemeriksa yang dengan santai mengisap rokok kretek. Area terbuka yang bisa menjadi pujasera kini diisi perempuan penjual buah dan nasi bungkus di atas tikar. Beberapa kapal nelayan lokal tampak keluar masuk, sementara hanya segelintir feri penumpang yang berlayar tiap hari ke pulau-pulau sekitar, atau sesekali lebih jauh ke Bali dan Surabaya.
Satu rute yang justru belum bisa ditempuh dengan feri dari Kupang adalah menuju negara tetangga, Timor Leste, padahal jaraknya hanya sekitar dua jam perjalanan dengan kapal cepat menyusuri pesisir.
Timor Barat (bagian dari Indonesia) dan Timor Timur (negara merdeka yang kini dikenal sebagai Timor Leste) menempati dua sisi dari satu pulau yang ukurannya lebih kecil dari Taiwan. Dua kota terbesarnya, Kupang dan Dili, berjarak kurang dari 300 kilometer.
Namun, untuk menempuh perjalanan antarkeduanya dibutuhkan perjalanan darat seharian penuh atau penerbangan dengan rute memutar melalui Darwin atau Bali, jalur yang jauh dan mahal. Bahkan, penerbangan dari ibu kota Dili ke Jakarta pun masih memerlukan transit.
BUAH MANIS BERGABUNG DENGAN ASEAN BELUM SIAP DIPETIK
Pekan lalu menandai momen yang telah lama ditunggu: Timor Leste bergabung ke dalam Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN), blok beranggotakan 11 negara yang menjadi fondasi kerja sama kawasan.
Menjadi bagian dari ASEAN telah lama menjadi ambisi utama politik luar negeri Timor Leste—sebuah cita-cita yang didukung negara-negara tetangganya, termasuk Indonesia dan Australia. Namun di tengah euforia tersebut, Myanmar kini menyerahkan “tongkat estafet” yang kurang menyenangkan: status sebagai negara termiskin di ASEAN.
Meski bukan lembaga yang sempurna, ASEAN telah terbukti menjadi pilar kokoh dalam arsitektur keamanan kawasan. Yang lebih penting, blok ini mewakili pasar senilai sekitar US$4 triliun dengan 700 juta konsumen dari 10 ekonomi yang sebagian besar tengah tumbuh pesat, sebuah akses istimewa yang kini terbuka bagi Timor Leste.
Buah dari keanggotaan ASEAN tampak menggiurkan pada pandangan pertama, namun dari dekat mungkin belum sepenuhnya matang dan bagi Timor Leste butuh waktu untuk benar-benar terasa manisnya. Timor Leste tengah berupaya keras mendiversifikasi dan memperkuat ekonominya yang kecil, sementara arus perdagangannya menunjukkan masih banyak ruang untuk tumbuh di dalam kawasan ASEAN.
Hanya Singapura dan Indonesia yang masuk dalam 10 besar pasar ekspor Timor Leste, dan lebih dari 95 persen ekspor ke Singapura (serta ke pelanggan utama lainnya seperti China dan Jepang) terdiri dari produk minyak bumi saja. Ekspor ke Indonesia memang kecil—sekitar 5 persen dari total—namun lebih beragam, menjadikannya contoh yang bisa ditiru dan dikembangkan Timor Leste bersama anggota ASEAN lain, termasuk melalui ekspor komoditas pertanian bernilai tinggi seperti kopi, vanili, dan cengkih.
Potensi keuntungan dagang bagi Timor Leste bisa sangat besar, jika benar-benar terwujud, meski tentu tidak ada jaminan. Meski memiliki ambisi besar, ASEAN masih jauh dari bentuk blok perdagangan seperti Uni Eropa, dan pada kenyataannya tetap merupakan 11 pasar yang terpisah.
Secara realistis, Timor Leste berpeluang memperoleh manfaat paling besar dalam jangka pendek melalui integrasi perdagangan yang lebih kuat dengan Indonesia, terutama dengan meningkatkan ekspor yang masih kecil, karena Indonesia merupakan pintu masuk paling logis dari segi geografis dan ekonomi menuju pasar kawasan.
MENINGKATKAN KONEKTIVITAS TIMOR LESTE DAN INDONESIA
Kedekatan geografis tetapi lemahnya keterhubungan antara Indonesia dan Timor Leste mencerminkan sejarah panjang kolonialisme dan masa pendudukan yang kompleks. Namun, salah satu solusi sebenarnya cukup sederhana dan menawarkan potensi besar: memperbaiki konektivitas fisik antara kedua negara.
Selain perdagangan barang yang sebagian besar masih berjalan satu arah, ada pula arus tenaga kerja, pelajar, dan wisatawan yang bisa bergerak lebih efisien di antara kedua negara.
Langkah-langkah penting yang bisa dikembangkan antara lain membuka penerbangan langsung dari Dili ke Kupang dan Jakarta (dengan subsidi pemerintah pada tahap awal bila diperlukan); menambahkan Dili sebagai salah satu rute persinggahan kapal barang dan penumpang dari kawasan timur Indonesia; serta membangun pos imigrasi di pelabuhan timur Indonesia untuk mempermudah perjalanan lintas batas sekaligus membuka jalan bagi peningkatan arus perdagangan.
Sebagian besar upaya ini sebenarnya bisa dilakukan Indonesia secara sepihak tanpa kesulitan berarti. Investasinya relatif kecil, tetapi manfaatnya besar: memperkuat kedekatan Timor Leste dengan lingkungannya dan menegaskan peran Indonesia sebagai pemimpin di ASEAN.
Timor Leste masih menghadapi perjalanan panjang untuk benar-benar terintegrasi dalam ASEAN dan memaksimalkan manfaat keanggotaannya—termasuk tantangan praktis untuk mengikuti, atau setidaknya memprioritaskan, jadwal pertemuan ASEAN yang terkenal padat. Ini memang momen besar, meski mungkin belum menjadi tiket emas ekonomi seperti yang diharapkan sebagian kalangan di Timor Leste.
Langkah Indonesia untuk membantu membimbing tetangganya yang lebih kecil, sambil mulai menyiapkan dasar bagi hubungan ekonomi yang lebih kuat lewat peningkatan konektivitas fisik, akan membuat “buah” keanggotaan ASEAN bagi Timor Leste terasa lebih manis. Pelabuhan Kupang yang kini belum termanfaatkan secara optimal memang bukan satu-satunya kunci untuk membawa Timor Leste lebih dekat ke ASEAN, tapi jelas merupakan tempat yang baik untuk memulai.
Iona Main pernah bekerja sebagai penasihat kebijakan luar negeri di Departemen Perdana Menteri dan Kabinet Australia, penasihat politik di Konsulat Jenderal Australia di New York, dan terakhir sebagai konsultan manajemen di Bain & Company. Tulisan ini pertama kali terbit di blog Lowy Institute, The Interpreter.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.