Komentar: Pembangunan Ibu Kota Nusantara jangan tergesa-gesa
Tidak perlu terburu-buru membangun kota metropolis di Nusantara. Mengikuti pengalaman negara lain, pembangunan pusat pemerintahan baru akan dihadang pelbagai rintangan, kata Daniel Moss dari Bloomberg Opinion.
Pekerja membangun jalur pejalan kaki di dekat Istana Negara di IKN pada 9 Agustus 2024. (Foto: ReutersAntara Foto/M Risyal Hidayat)
SINGAPURA: Pembangunan ibu kota baru tidak terjadi begitu saja. Sebuah kota berkembang perlahan selama beberapa dekade, mungkin berabad-abad, sebelum menyerupai impian penciptanya - itu pun kalau tidak duluan kandas. Indonesia sekarang telah mendapati betapa upaya besar seperti itu merupakan kerja keras yang rentan dilanda penundaan. Ekonomi punya kebiasaan mengganggu yang menyebalkan.
Sebagian gelora akan Ibu Kota Nusantara (IKN) telah mereda, setelah pusat administrasi senilai 466 triliun rupiah ini digadang-gadang sebagai salah satu proyek andalan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Membangun kota dari awal di hutan khatulistiwa Kalimantan sudah pasti sulit.
Minggu lalu, pemerintah membuat dua konsesi penting: perumahan mungkin belum siap untuk gelombang pertama aparatur sipil negara, dan daftar tamu untuk perayaan HUT RI harus dikurangi karena kurangnya layanan katering dan penginapan.
Saat saya kunjungan ke lokasi sekitar 18 bulan lalu, saya menyadari bahwa jadwal yang ditetapkan oleh Jokowi akan memerlukan beberapa revisi. Ada banyak jalan tanah dan truk, tetapi konstruksi belum benar-benar berlangsung. Jalan menuju daerah tersebut dari kota terdekat Balikpapan sempit.
Pembangun telah berjalan sejak saat itu, tetapi tidak sebanyak yang diharapkan. Proyek ini terancam berakhirnya masa jabatan kedua Jokowi pada bulan Oktober. Penggantinya, Prabowo Subianto, mengatakan bahwa ia adalah penggemar konsep Nusantara. Tantangannya adalah pembangunan ibu kota itu tidak murah dan Prabowo memiliki banyak rencana besarnya sendiri. Pilihan sulit menanti.
AMBISI PRABOWO
Jokowi telah memberinya anggaran negara yang mencukupi. Defisit untuk tahun 2025 diproyeksikan sebesar 2,5 persen dari produk domestik bruto, berjarak aman dalam batas hukum 3 persen, seperti diumumkan pada hari Jumat (16/8).
Kepala Negara sekarang dianggap telah menjalankan kebijakan fiskal yang baik selama satu dekade menjabat. Jokowi telah dibantu dalam tugas ini oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang sangat dihormati oleh investor asing.
Satu langkah yang benar-benar berisiko, selama puncak pandemi COVID-19, adalah pembelian langsung obligasi pemerintah oleh bank sentral - sebuah bentuk monetisasi utang. Itu adalah praktik yang telah lama dijauhi di kalangan ekonomi yang beradab. Dalam masa normal, langkah seperti itu mungkin tidak begitu mudah dimaafkan.
Prabowo, seorang mantan jenderal, telah terusik oleh pembatasan pengeluaran dan telah menjanjikan dorongan besar bagi pertumbuhan ekonomi. Dia menginginkan peningkatan PDB tahunan sebesar 8 persen, padahal angkanya lebih mengarah ke 5 persen selama dasawarsa terakhir.
Sulit untuk mengetahui apakah ia benar-benar percaya hal itu mungkin dicapai atau hanya sekadar ungkapan ambisinya. Setiap kali Prabowo mengungkapkan rasa frustrasinya terhadap jalan sempit Indonesia, para anak buahnya membereskan kegegeran dengan menyatakan kesetiaan pada aturan dan meredam kecemasan pasar. Pilihan penjabat menteri keuangan akan menjadi hal yang penting.
Presiden terpilih telah berjanji untuk menyelesaikan Nusantara, yang tahap pertamanya dijadwalkan selesai tahun ini. Jokowi membayangkan hampir 2 juta orang tinggal dan bekerja di sana pada tahun 2045. Seberapa dalam komitmen ini?
"Saya menyampaikan apa itu, pembangunan IKN itu bisa 10-15 atau 20 tahun," kata Jokowi kepada wartawan minggu lalu. "Beliau (Prabowo) menyampaikan, 'Wah kalau saya kurang cepat itu - 4,5,6 tahun.' Ya nanti terserah beliau."
Jika dilihat sekilas, hal ini memberi tekanan pada agenda Prabowo sendiri, termasuk janji senilai 460 triliun rupiah untuk menyediakan makanan gratis bagi anak-anak sekolah.
REALITAS YANG SEMAKIN KENTARA
Ide untuk memindahkan ibu kota dari Jakarta yang macet dan tenggelam itu sudah bagus. Namun, ke tempat yang sama sekali baru, beberapa jam penerbangan jauhnya, dan di pulau yang sangat berbeda?
Ini tidak seperti naik kereta Acela antara New York dan Washington atau perjalanan tiga jam dari Sydney ke Canberra. Saya dibesarkan di Canberra dan sempat tinggal di Washington. Kota-kota ini butuh waktu lama untuk berkembang, dan prosesnya tidak akan pernah bebas dari kepentingan perorangan.
Kabar baiknya, sejumlah realitas akan Nusantara mulai kentara. Tidak perlu terburu-buru untuk menyelesaikannya.
Canberra dipilih sebagai lokasi ibu kota Australia pada tahun 1913, tetapi pembangunannya terhambat oleh dua perang dunia dan depresi. Washington dibakar oleh Inggris selama perang tahun 1812.
Pembangunan ibu kota dari nol sarat tantangan. Jauh lebih baik mengambil pendekatan yang terukur daripada terburu-buru seperti yang dilakukan Brasil pada akhir tahun 1950-an dengan Brasilia. Kota itu adalah salah satu proyek besar yang dijunjung oleh Presiden Juscelino Kubitschek. Ini meninggalkan warisan inflasi dan utang yang tinggi; krisis ekonomi yang terjadi kemudian berbuntut bertahun-tahun pemerintahan militer.
Tentunya bukan itu yang diinginkan Prabowo, mantan menantu otokrat Suharto yang dilengserkan, untuk dicatat dalam sejarah. Namanya juga pemerintahan, bukan lomba lari cepat.
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel CNA.id dengan klik tautan ini.