Komentar: Pesan China di balik parade senjata termutakhir mereka
Dari rudal nuklir terbaru hingga sistem anti-drone, China memamerkan kekuatan teknologi militernya kepada dunia, tulis analis pertahanan Mike Yeo.
China menampilkan rudal balistik kapal selam JL-3 saat parade militer di Beijing pada 3 September 2025. (Foto: Reuters/Tingshu Wang)
MELBOURNE: Parade militer selalu menjadi pertunjukan kekuatan yang dirancang dengan cermat. Pada 3 September, parade militer China untuk memperingati 80 tahun berakhirnya Perang Dunia II memberi kesempatan kepada dunia untuk menyaksikan langsung alat utama sistem senjata (alutsista) terbaru mereka.
Pesan yang disampaikan jelas: Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) adalah angkatan bersenjata berteknologi tinggi yang mampu mengendalikan dan memenangkan pertempuran modern, demi mempertahankan kepentingan China sekaligus ambisi membangun tatanan dunia baru.
Sejumlah sistem persenjataan teranyar ditampilkan untuk pertama kalinya di depan publik, termasuk rudal nuklir terbaru dalam triad nuklirnya, rudal hipersonik, laser angkatan laut, dan sistem anti-drone.
China juga memamerkan beragam sistem nirawak, termasuk drone siluman baru untuk pertempuran udara, konsep “loyal wingmen” (operasi terhubung bersama pesawat berawak), serta dua jenis kapal selam nirawak untuk berbagai misi seperti pembersihan ranjau.
Meski hanya sedikit detail yang diungkap soal performa dan kemampuan lain dari alutsista baru itu, sejumlah kesimpulan bisa ditarik dari apa pesan yang ingin disampaikan China.
MEMBUAT GENTAR DENGAN NUKLIR
Untuk pertama kalinya, China secara terbuka menampilkan dan mengonfirmasi kekuatan penuh triad nuklirnya — kekuatan tembak berbasis darat, udara, dan laut.
Triad ini menjamin persenjataan nuklir sebuah negara tetap ada dan bertahan dalam serangan pertama, sekaligus memastikan serangan balasan bisa dilancarkan. Memiliki kapabilitas serangan balik yang mumpuni akan membuat musuh gentar bahkan sebelum melancarkan serangan pertama.
China menampilkan lima jenis rudal nuklir: DF-5C, DF-31BJ, dan DF-61 Rudal Balistik Antar-Benua (ICBM) berbasis darat; JL-1 Rudal Balistik Udara (ALBM); serta JL-3 Rudal Balistik Kapal Selam (SLBM). Dari semua itu, hanya JL-3 yang pernah diperlihatkan sebelumnya dalam parade militer China, selain versi terdahulu dari DF-5 dan DF-31.
Namun, penangkal nuklir yang benar-benar tahan pukulan bukan hanya soal kemampuan membalas serangan.
Dibutuhkan pula sistem peringatan dini yang mampu memberi cukup waktu sebelum serangan musuh tiba. China terus berinvestasi di bidang ini, dengan membangun jaringan radar peringatan dini berbasis darat dan menempatkan satelit di orbit, meski jumlahnya masih relatif sedikit.
Daya tahan juga berarti memastikan selalu ada setidaknya satu kapal selam rudal balistik yang beroperasi di lautan, sehingga tidak semuanya bisa menjadi target serangan.
Menurut laporan tahunan China Military Power dari Departemen Pertahanan AS, China telah memiliki kemampuan ini sejak 2023. Beijing juga sedang membangun kelas baru kapal selam rudal balistik untuk menggantikan armada Type 094, yang dianggap belum cukup senyap menurut standar modern.
China juga memperkuat pangkalan pesawat pembom H-6N yang mampu membawa JL-1 dengan membangun hanggar besar di dalam gunung di Neixiang-Ma’ao, Provinsi Henan. Namun, China masih kekurangan pesawat tanker untuk memungkinkan pesawat pembom tetap mengudara dalam waktu lama.
DERETAN RUDAL HIPERSONIK
Hal lain yang menonjol dari parade alutsista tahun ini adalah hampir tidak adanya rudal balistik dengan hulu ledak konvensional, yang sebelumnya selalu tampil mencolok. Sebagai gantinya, China memamerkan berbagai rudal berbasis darat dan kapal yang menggunakan hulu ledak hipersonik tipe boost-glide.
Berbeda dengan rudal balistik yang tembakannya meluncur dalam lintasan sehingga bisa diprediksi, senjata boost-glide jauh lebih lincah dalam bermanuver. Rudal ini bisa berubah arah di tengah lesatan sehingga mampu mendekati target dari berbagai arah, membuatnya lebih sulit dideteksi, dilacak, maupun dicegat.
Senjata boost-glide mampu mencapai kecepatan hipersonik (sekitar lima kali kecepatan suara) seperti rudal balistik, tetapi tetap memiliki fleksibilitas layaknya rudal jelajah yang terbang dengan kecepatan subsonik tinggi (sedikit di bawah kecepatan suara).
Menurut laporan China Military Power 2024 yang dirilis Departemen Pertahanan AS, Pasukan Roket PLA kini memiliki sekitar 3.500 rudal jarak jauh — mencakup senjata boost-glide, balistik, dan jelajah — di luar ribuan rudal jarak pendek serupa yang dioperasikan Angkatan Udara dan Angkatan Laut PLA.
Rudal hipersonik akan menjadi andalan untuk menghantam target seperti pangkalan musuh, pusat logistik, dan pos pendukungnya jika terjadi konflik.
Setiap peperangan di masa depan kemungkinan akan berubah menjadi adu daya tahan antara stok rudal penyerang dan persediaan sistem pencegat. Hal ini sudah terlihat awal tahun ini, ketika Israel dan AS hampir kehabisan rudal pencegatnya saat menghadapi serangan drone dan rudal dari Iran serta Houthi di Yaman.
SISTEM ANTI-DRONE
China juga menampilkan alutsista yang kini tengah diburu banyak angkatan bersenjata: sistem anti-drone.
Para pakar sudah lama memperingatkan skenario mimpi buruk ketika drone komersial murah bisa digunakan untuk menyerang aset militer bernilai tinggi. Pada 1 Juni, Ukraina membuktikan hal ini dengan meluncurkan ratusan drone hingga ke wilayah dalam Rusia, menyerang pangkalan udara jauh dari garis depan, dan menghancurkan atau merusak sekitar 30 pesawat militer Rusia.
Sistem pertahanan udara yang ada saat ini terbukti tidak efektif untuk mendeteksi dan menembak jatuh drone jenis itu, atau tidak efisien karena harus mengerahkan rudal mahal untuk menghadapi drone murah.
Dalam parade militer China, PLA menampilkan sejumlah sistem anti-drone berbasis meriam bergerak, gabungan meriam-rudal, energi gelombang mikro, dan laser. Ancaman serangan drone massal jelas menjadi perhatian perencana militer China — sistem gabungan meriam-rudal dan energi gelombang mikro tampak dirancang khusus untuk menghadapi serangan semacam itu.
Sistem gabungan meriam-rudal akan dilengkapi dengan kanon otomatis serta dua rak tabung rudal yang dipasang pada dudukan senjata berputar. Salah satu rak pada kendaraan yang ditampilkan memuat total 48 tabung rudal kecil, yang berarti kendaraan itu berpotensi membawa hingga 96 rudal sekaligus.
Konfigurasi ini tampak serupa dengan sistem FK-3000 yang sudah dipamerkan di Zhuhai Airshow tahun 2022. Artinya, konsep ini sudah dirumuskan oleh perencana PLA atau industri pertahanan China bahkan sebelum Ukraina membuktikan efektivitasnya di medan perang.
Menghadapi tantangan ini lebih awal mungkin tidak mengherankan, mengingat China adalah salah satu produsen drone komersial kecil terbesar di dunia. Kesadaran dini atas potensi ancaman di medan tempur dan upaya menghadirkan solusi ketika pihak lain baru mulai menyusul telah menunjukkan keunggulan perencanaan China.
Parade di Beijing menegaskan sejauh mana militer China telah melakukan modernisasi alutsista, sekaligus menempatkan diri sebagai pemimpin dunia di bidang tertentu seperti senjata hipersonik. Tantangan berikutnya adalah menyatukan berbagai matra PLA agar benar-benar mampu beroperasi sebagai satu kekuatan terintegrasi. Meski banyak analis menilai hal itu belum tercapai, namun arah ke sana sudah jelas terlihat.
Mike Yeo adalah Kepala Biro Indo-Pasifik di media pertahanan Breaking Defense. Ia memiliki pengalaman lebih dari satu dekade sebagai jurnalis pertahanan, dengan spesialisasi pada isu keamanan dan pertahanan kawasan.