Skip to main content
Iklan

Komentar

Komentar: Modernisasi angkatan udara di Asia Tenggara - penangkal atau pemicu konflik?

Peneliti di Lowy Institute mengatakan, pembelian jet tempur oleh negara-negara Asia Tenggara mencerminkan upaya mencapai kemandirian militer di tengah meningkatnya rivalitas negara-negara adidaya dan ancaman pada rantai pasok

 

Komentar: Modernisasi angkatan udara di Asia Tenggara - penangkal atau pemicu konflik?

Jet tempur Dassault Rafale buatan Prancis. (dassault-aviation.com)

SYDNEY: Gelombang modernisasi angkatan udara yang tengah melanda Asia Tenggara menjadi sinyal transformasi besar-besaran pada postur pertahanan di kawasan. Negara-negara seperti Indonesia, Malaysia, Filipina hingga Thailand, menggelontorkan anggaran besar untuk membeli armada jet tempur baru.

Modernisasi ini didorong oleh fakta bahwa selama puluhan tahun angkatan udara di Asia Tenggara minim pendanaan dan bergantung pada alutsista yang sudah uzur. Banyak yang masih mengoperasikan alutsista tua, misalnya Vietnam dengan Su-22 (kiriman Uni Soviet pada 1980-an), Indonesia dengan F-16 (beberapa diperoleh pada akhir 1980-an), dan Malaysia dengan Hawk (dibeli dari Inggris pada 1990).

Jet-jet tempur tua ini semakin tidak relevan dalam menghadapi operasi militer berkecepatan tinggi dan kompleks yang mengandalkan teknologi informasi serta komunikasi terintegrasi yang mempercepat pengambilan keputusan serta efektivitas pertempuran. Itulah sebabnya, pemerintah Asia Tenggara sekarang ramai-ramai mengincar jet tempur modern untuk menggantikan armada lawas mereka.

Indonesia adalah negara yang paling gencar melakukan peremajaan armada tempurnya, di antaranya berencana mengoperasikan 64 jet tempur Rafale dari Prancis dan membeli puluhan jet tempur lainnya dari Korea Selatan, Turkiye dan Amerika Serikat. Malaysia juga berencana meremajakan armadanya dengan membeli dari Korea Selatan dan jet tempur bekas buatan AS dari Kuwait. Sementara Singapura ingin membeli lebih banyak lagi F-35s, termasuk varian yang mampu mendarat atau lepas landas secara vertikal.

Jet tempur FA-50 buatan Korea Selatan yang dioperasikan Angkatan Udara Filipina. (Dok. Philippine Air Force)

TIDAK BERGANTUNG LAGI PADA AS

Membeli jet tempur selain dari Rusia dan Amerika Serikat sepertinya sedang menjadi tren di Asia Tenggara.

Korea Selatan jadi favorit bagi negara-negara Asia Tenggara yang ingin meningkatkan kemampuan angkatan udara mereka. Filipina, negara yang bersengketa dengan China di Laut China Selatan, telah membeli 12 jet tempur FA-50s buatan Korsel untuk menggandakan kekuatan udara mereka.

Para produsen dari Eropa juga kecipratan untung. Thailand menambah armada mereka dengan 12 jet tempur Gripen buatan Swedia, sementara Vietnam membeli 12 jet L-39NG buatan Czechia.

Berbagai pembelian ini menunjukkan upaya dari negara-negara Asia Tenggara untuk memodernisasi angkatan udara mereka sembari juga mengikis ketergantungan kepada AS.

Harga menjadi salah satu pertimbangan, mengingat alutsista buatan AS cenderung lebih mahal. 

Pasalnya, negara-negara Asia Tenggara juga mesti cermat dalam menyeimbangkan belanja pertahanan dengan kebutuhan sosial dan ekonomi yang lebih mendesak. Meski pengadaan berskala besar kerap menarik perhatian publik, namun banyak dari upaya modernisasi alutsista ini terhambat pendanaan yang tidak konsisten, inefisiensi birokrasi, serta kendala logistik.

PENUH PERTIMBANGAN

Lebih jauh lagi, aspek keberlanjutan — seperti perawatan, pelatihan pilot, dan ketersediaan suku cadang — sering kali kurang mendapat perhatian. Malaysia adalah salah satu contohnya. Dalam laporan 2018 disebutkan, dari 28 jet tempur Malaysia yang dibeli dari Rusia, hanya empat yang masih laik terbang.

Muncul juga kekhawatiran soal keamanan rantai pasok. Banyak dari akuisisi alutsista baru yang menunjukkan adanya pergeseran strategis untuk mengurangi ketergantungan pada satu kekuatan asing saja. 

Dalam konteks ini, diversifikasi kemitraan militer menjadi sebuah kebutuhan strategis, bukan lagi kemewahan. Pemasok alutsista dari Eropa seperti Prancis dan Swedia, serta Korea Selatan, telah menjadi mitra yang menarik karena menawarkan skema pembiayaan fleksibel dan beban politik yang lebih ringan jika dibandingkan membeli dari Amerika Serikat atau China.

Indonesia menjadi contoh utama. Sejak Amerika Serikat memberlakukan embargo senjata pada akhir 1990-an hingga 2005 akibat dugaan pelanggaran HAM di Timor Leste, pemerintah Jakarta berupaya memperluas sumber pengadaan persenjataannya meski harus mengorbankan aspek interoperabilitas.

Jet tempur KAAN milik Turki. (dok. Turkish Aerospace Industries)

Singapura adalah sebuah pengecualian. Angkatan Udara Republik Singapura telah mengandalkan jet tempur buatan AS sejak awal 1990-an setelah memensiunkan pesawat Hawker Hunter buatan Inggris. Sejak saat itu, Singapura sepenuhnya mengoperasikan alutsista buatan AS, termasuk pesawat tempur A-4 Skyhawk, F-5E Tiger, F-16, dan F-15. Singapura melanjutkan tradisi ini dengan memesan F-35A dan F-35B buatan AS sebagai bagian dari program modernisasi angkatan udara mereka.

Modernisasi angkatan udara di Asia Tenggara pada akhirnya bukan sekadar akuisisi jet tempur atau rudal canggih, tetapi juga cerminan dari keinginan mendalam untuk mencapai kemandirian nasional dan meningkatkan daya gentar strategis. 

Seiring berkembangnya ancaman, dari taktik terselubung hingga pertempuran berteknologi tinggi, kemampuan pertahanan kawasan pun harus ikut berkembang.

Tantangan ke depan adalah memastikan bahwa proses modernisasi ini menjadi pencipta stabilitas, bukan pemicu konflik.

Dr Abdul Rahman Yaacob adalah peneliti di Program Asia Tenggara, Lowy Institute. Komentar ini pertama kali diterbitkan di blog Lowy Institute, Interpreter.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: CNA/da

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan