Skip to main content
Iklan

Indonesia

Delapan WNI diduga ditipu untuk jadi tentara Rusia, ini identitas mereka yang diungkap intel Ukraina

Pemerintah Indonesia tengah memverifikasi dugaan perekrutan delapan WNI menjadi tentara Rusia dan mendalami kemungkinan adanya unsur penipuan atau eksploitasi.

 Delapan WNI diduga ditipu untuk jadi tentara Rusia, ini identitas mereka yang diungkap intel Ukraina

Tentara Rusia berbaris dalam upacara peresmian monumen untuk mengenang prajurit Rusia yang tewas dalam konflik Rusia-Ukraina, di Yevpatoria, Krimea, pada 22 Februari 2024. (FOTO: Alexey Pavlishak/Reuters)

JAKARTA: Badan intelijen Ukraina mengungkapkan adanya delapan warga negara Indonesia (WNI) yang direkrut menjadi tentara Rusia.

Mereka diduga ditipu dengan iming-iming pekerjaan bergaji tinggi, tetapi kemudian ditempatkan di medan perang.

"Rusia terus secara sistematis melibatkan warga asing dalam perang melawan Ukraina ... Indonesia menjadi contoh terbaru dari pola ini," ujar Foreign Intelligence Service of Ukraine (FISU), atau Badan Intelijen Luar Negeri Ukraina melalui situs mereka pada 27 Agustus.

"Badan Intelijen Luar Negeri Ukraina memperoleh dokumen mengenai sedikitnya delapan warga negara Indonesia yang direkrut ke dalam jajaran tentara pendudukan Rusia," lanjut pernyataan FISU.

FISU tidak menyebutkan secara spesifik apakah WNI tersebut terlibat dalam perang Ukraina. Namun mereka memublikasikan dokumen visa dan migrasi Rusia yang disebut milik kedelapan WNI tersebut.

Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad mengatakan informasi tersebut juga telah dibagikan kepada intelijen Indonesia. Menurut dia, para WNI itu awalnya tidak tahu bahwa mereka akan direkrut menjadi tentara.

“Kami mendapatkan informasi dari otoritas intelijen kita bahwa rekrutan tentara itu kemudian dilakukan oleh negara pihak ketiga, yang kemudian membuat seolah-olah itu adalah lowongan satuan pengamanan ataupun tenaga administrasi yang diiming-imingi oleh gaji yang besar,” kata Dasco pada Selasa (1/9) dikutip dari situs resmi DPR.

Dasco menegaskan pemerintah telah melakukan langkah antisipasi setelah memperoleh informasi mengenai dugaan perekrutan tersebut. Otoritas intelijen bersama Kementerian Luar Negeri (Kemlu) disebut telah berkoordinasi untuk menangani persoalan tersebut.

“Nah begitu informasi yang kami dapat dan pada saat ini otoritas intelijen dan Kementerian Luar Negeri sudah melakukan antisipasi, berkoordinasi, dan kemudian mengirimkan utusan kepada negara-negara tersebut,” tutur Dasco.

Juru bicara Kemlu Yvonne Mewengkang mengatakan pemerintah tengah melakukan verifikasi atas informasi tersebut melalui Perwakilan RI serta berkoordinasi dengan kementerian atau lembaga terkait.  
 
"Informasi mengenai identitas, status kewarganegaraan, proses perekrutan, serta bentuk keterlibatan individu yang disebutkan masih perlu dipastikan lebih lanjut," kata Yvonne seperti dikutip dari Antara.

Brigade Artileri Terpisah ke-44 Ukraina menembakkan howitzer gerak sendiri 2S22 Bohdana ke arah Rusia di wilayah Zaporizhzhia, Ukraina, 20 Agustus 2025. (REUTERS/Maksym Kishka TPX)

Yvonne menegaskan Indonesia memiliki aturan yang jelas mengenai keterlibatan WNI dalam militer negara asing dan konsekuensinya terhadap status kewarganegaraan. Namun, aturan itu baru dapat diterapkan setelah informasi dan data terkait terverifikasi sesuai prosedur hukum.

"Apabila keterlibatan WNI dalam angkatan bersenjata negara asing dimaksud terverifikasi, hal tersebut merupakan tindakan individual dan tidak merepresentasikan kebijakan maupun posisi Pemerintah Indonesia." kata dia.

Pemerintah, kata dia, akan mendalami kemungkinan para WNI direkrut melalui penipuan, eksploitasi, atau tawaran pekerjaan yang tidak sesuai dengan tujuan sebenarnya.

"Apabila terdapat WNI yang menjadi korban dalam proses tersebut, Pemerintah Indonesia akan mengambil langkah pelindungan yang diperlukan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku," kata dia.  

Delapan WNI yang diidentifikasi oleh FISU adalah:

  1. Yuda Putra Pratama, 29 tahun
  2. Haryanto Dwi Kencana, 43 tahun
  3. Erwanda, 38 tahun
  4. Ngangun Hudri Fadli, 47 tahun
  5. Muhammad Syaripudin, 32 tahun
  6. M Hadi Maulana, 39 tahun
  7. Wahyu Oktavian Iskandar, 40 tahun
  8. Helmi Nuraha Hakim, 43 tahun

Menurut FISU, pemerintah Kremlin menjanjikan bayaran tinggi, pekerjaan non-tempur, percepatan memperoleh kewarganegaraan Rusia, dan jaminan sosial yang menarik kepada warga dari puluhan negara.

"Mereka bahkan sering kali tidak mengetahui ke mana sebenarnya mereka akan dikirim. Sebagian besar dari mereka berakhir di garis depan tanpa pelatihan, dan sebagian tewas hanya dalam beberapa pekan pertama," ujar pernyataan FISU.

FISU mengatakan bahwa pola yang sama sebelumnya diterapkan terhadap warga Nepal, Kuba, Kenya, dan India.

Militer Rusia telah mencatat 450.000 kematian dari total 1,4 juta korban sejak melancarkan invasi skala penuh ke Ukraina pada Februari 2022, menurut lembaga kajian Center for Strategic and International Studies (CSIS) di Washington pada Juli.

Meski Korea Utara telah mengirim ribuan tentara untuk bertempur bagi Rusia, warga dari banyak negara lain dilaporkan dibujuk dengan tawaran pekerjaan sipil yang menyesatkan.

Belum diketahui secara pasti berapa banyak orang yang direkrut dengan cara tersebut dan berapa banyak yang mendaftar sebagai tentara bayaran.

"Indonesia, negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa, kini masuk dalam daftar negara yang menjadi pasar baru bagi Kremlin untuk mendapatkan tenaga manusia murah bagi perang."

Selain menutupi kekurangan personel di garis depan, FISU mengatakan warga asing yang direkrut juga menjadi bahan propaganda untuk menunjukkan adanya dukungan global terhadap Rusia dalam memerangi Ukraina.

"Alasan lain perekrutan warga asing adalah meningkatnya ketidakpuasan di dalam negeri terhadap kondisi sosial-ekonomi, perang, dan rencana gelombang mobilisasi baru (tingkat ketidakpuasan mencapai 69 persen)," ujar pernyataan FISU.

Selain menutupi kekurangan personel di garis depan, FISU mengatakan warga asing yang direkrut juga dijadikan bahan propaganda untuk menunjukkan adanya dukungan global terhadap Rusia dalam perang melawan Ukraina.

Menurut CSIS, sekitar 125.000 hingga 150.000 tentara Ukraina tewas dalam perang, sementara total korban mencapai 525.000 hingga 625.000 orang.

xx Rekrutan muda dari Brigade Mekanik Terpisah Ksatria Kampanye Musim Dingin ke-28 Angkatan Bersenjata Ukraina menghadiri latihan medis taktis. Kementerian Pertahanan Ukraina meluncurkan program rekrutmen bagi kaum muda, berusia 18 hingga 24 tahun, untuk bertugas di militer selama setahun. (REUTERS/Gleb Garanich)

BUKAN YANG PERTAMA

Kasus WNI yang diduga direkrut menjadi tentara Rusia bukan kali pertama mencuat di Indonesia. Sebelumnya, dua warga Indonesia, Satria Arta Kumbara dan Muhammad Rio, juga dilaporkan bergabung dengan militer Rusia.

Satria merupakan mantan prajurit Marinir TNI AL yang dipecat setelah melakukan desersi pada 2022. Keberadaannya di Rusia mencuat pada Mei 2025 setelah foto dan video dirinya mengenakan seragam militer Rusia beredar di TikTok, yang kemudian dikonfirmasi TNI AL.

Satria mengatakan keputusannya pergi ke Rusia dilatarbelakangi keinginan untuk mencari nafkah. Pada Juli 2025, ia kembali menjadi sorotan setelah muncul dalam video yang meminta bantuan Presiden Prabowo Subianto dan pemerintah agar dapat kembali ke Indonesia.

Sebulan kemudian, beredar video yang memperlihatkan Satria dalam kondisi terluka. Ia disebut terkena serangan drone dan mortir di Ukraina dan tengah dievakuasi. Itu adalah komunikasi terakhir Satria yang diketahui dan tidak ada lagi postingan darinya di TikTok.

Kasus serupa mencuat pada awal 2026 dengan Muhammad Rio, mantan personel Satuan Brimob Polda Aceh.

Menurut Polda Aceh, Rio meninggalkan tugas tanpa izin sejak 8 Desember 2025. Pada 7 Januari 2026, ia mengirimkan foto dan video kepada personel Satbrimob Polda Aceh yang menunjukkan keberadaannya bersama pasukan Rusia serta mengklaim telah bergabung dengan kelompok tentara bayaran Wagner.

Rio mengaku menerima bonus awal sebesar 2 juta rubel atau sekitar Rp420 juta dan gaji 210.000 rubel atau sekitar Rp42 juta per bulan. Polda Aceh saat itu membenarkan adanya komunikasi dan informasi mengenai pembayaran tersebut.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: AGENCIES/da(cc)

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan