Skip to main content
Iklan

Indonesia

Pemerintah putuskan WFH ASN setiap Jumat, dikhawatirkan jadi long weekend

Airlangga menyebut Jumat dipilih karena relatif lebih lengang dan sebagian kementerian sudah menerapkan pola serupa pasca pandemi.

Pemerintah putuskan WFH ASN setiap Jumat, dikhawatirkan jadi long weekend

Aparatur Sipil Negara (ASN) di Jakarta berswafoto sebagai bukti telah menggunakan transportasi umum pada tanggal 7 Mei 2025. (Foto: CNA/Ridhwan Siregar)

SEOUL: Kebijakan work from home (WFH) setiap Jumat bagi aparatur sipil negara (ASN) menuai perhatian. Di satu sisi ditujukan untuk efisiensi energi, namun di sisi lain dikhawatirkan memicu efek long weekend.

Pemerintah resmi menerapkan WFH satu hari dalam sepekan bagi ASN di pusat dan daerah, yang dijadwalkan setiap hari Jumat.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan kebijakan tersebut merupakan bagian dari langkah efisiensi energi di tengah situasi global, termasuk dampak konflik Timur Tengah.

"Penerapan WFH bagi ASN di pusat dan daerah, satu hari kerja dalam seminggu yaitu setiap Jumat yang diatur dalam Surat Edaran Menpan RB dan SE Mendagri," kata Airlangga dalam konferensi pers di Seoul, Korea Selatan, disiarkan TVRI, Selasa (31/3).

Selain WFH, pemerintah juga membatasi mobilitas, termasuk penggunaan mobil dinas hingga 50 persen, kecuali untuk operasional dan kendaraan listrik, serta mendorong penggunaan transportasi publik.

"Efisiensi mobilitas termasuk pembatasan penggunaan mobil dinas 50 persen kecuali untuk operasional dan mobil listrik dan mendorong penggunaan transportasi publik," ujar Airlangga.

Pemerintah juga membatasi perjalanan dinas, yakni perjalanan dalam negeri hingga 50 persen dan luar negeri hingga 70 persen.

Airlangga menjelaskan pemilihan hari Jumat karena sebagian kementerian sebelumnya telah menerapkan pola kerja serupa pasca pandemi COVID-19.

“Mengapa dipilih Jumat? Karena memang sebagian sudah beberapa kementerian melaksanakan itu, kerja empat hari dalam satu pekan dengan aplikasi. Ini pasca-COVID-19 lalu,” sambungnya.

Ia juga menilai hari Jumat relatif tidak sepadat hari kerja lainnya.

“Kami pilih hari Jumat karena memang hari Jumat kan setengah, artinya tidak sepenuh hari Senin sampai Kamis,” imbuhnya.

Airlangga melanjutkan sektor pekerjaan yang tak menerapkan WFH adalah sektor layanan publik dan sektor strategis.

"Terdapat sektor-sektor yang dikecualikan dari WFH dan tetap bekerja dari kantor atau lapangan yaitu sektor layanan publik seperti kesehatan, keamanan, kebersihan, serta sektor strategis seperti industri atau produksi, energi, air, bahan pokok: makanan-minuman, perdagangan, transportasi, logistik, dan keuangan," katanya.

DIKHAWATIRKAN PICU LONG WEEKEND

Di sisi lain, Anggota Komisi II DPR Muhammad Khozin menilai kebijakan tersebut berpotensi menimbulkan efek long weekend jika tidak diawasi dengan ketat.

"Pilihan yang tidak ideal karena dikhawatirkan akan berubah menjadi long weekend," ujarnya kepada Jawa Pos.

Khozin meminta agar kebijakan WFH tersebut dievaluasi secara berkala untuk memastikan efektivitasnya, terutama dalam menekan konsumsi energi.

"Kami meminta penerapan WFH yang dilakukan setiap hari Jumat ini agar dilakukan evaluasi secara berkala dan pengawasan secara konsisten oleh kementerian dan lembaga serta pemda," kata Khozin.

Ia menekankan bahwa kebijakan ini harus tetap menjaga produktivitas ASN, terutama dalam pelayanan publik.

"Pastikan, penerapan WFH pada hari Jumat mesti memenuhi target penurunan konsumsi BBM. Di samping itu, produktivitas ASN mesti tetap terjaga dalam memberi pelayanan publik," tekannya.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ew(da)

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan