Viral pramugari gadungan Batik Air: Ternyata korban penipuan loker dan menyamar demi keluarga
Kecurigaan awak pesawat muncul ketika Nisa terlihat gelagapan saat ditanya soal pendidikan dan diklat pramugari.
Penampilan Khairun Nisa saat mengenakan seragam mirip pramugari Batik Air yang viral di media sosial. (Instagram)
JAKARTA: Seorang perempuan bernama Khairun Nisa viral di media sosial setelah kedapatan berpura-pura menjadi pramugari Batik Air dalam penerbangan Palembang–Jakarta.
Aksi mencengangkan tersebut terbongkar saat kru pesawat mencurigai seragam yang dikenakannya tidak sesuai standar resmi maskapai.
Kasi Humas Polresta Bandara Soekarno-Hatta Ipda Septian menjelaskan, kecurigaan muncul ketika kru menilai corak rok yang dikenakan Nisa berbeda dengan seragam pramugari Batik Air yang dikeluarkan PT Lion Grup.
Informasi itu disampaikan kepada aviation security sebelum pesawat mendarat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, diberitakan CNN Indonesia, Kamis (8/1).
Setibanya di bandara, Nisa langsung dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan. Dari pemeriksaan awal, diketahui ia bukan kru maskapai, melainkan penumpang biasa yang membeli tiket dan duduk di kursi penumpang selama penerbangan dari Palembang ke Jakarta.
Nisa sempat bersikeras mengaku sebagai pramugari Batik Air. Ia bahkan sempat menunjukkan kartu identitas sebagai bukti yang ternyata sudah kedaluwarsa.
MENGAKU PRAMUGARI DEMI ORANG TUA, TERJERAT MODUS PENIPUAN
Kasat Reskrim Polresta Bandara Soetta Kompol Yandri Mono mengungkapkan latar belakang di balik aksi penyamaran tersebut. Nisa disebut nekat berpura-pura menjadi pramugari karena ingin menyenangkan hati orang tuanya.
Menurut Yandri, Nisa merupakan warga Palembang yang pada awal 2025 datang ke Jakarta dengan izin kepada ibunya untuk mendaftar sebagai pramugari. Di Jakarta, ia bertemu seseorang yang menjanjikan bisa memasukkannya menjadi pramugari dengan syarat menyerahkan sejumlah uang.
Dalam proses tersebut, Nisa diminta membayar Rp30 juta. Namun setelah uang diserahkan, orang yang menjanjikan pekerjaan itu tidak lagi bisa dihubungi.
Karena malu gagal dan tidak ingin mengecewakan orang tuanya, Nisa akhirnya mengaku sudah diterima bekerja sebagai pramugari.
Septian menjelaskan, saat berangkat dari Palembang, Nisa bahkan diantar langsung oleh orang tuanya. Karena waktu keberangkatan mepet, ia tidak sempat mengganti pakaian yang dikenakan.
Penampilannya yang menyerupai pramugari membuatnya sempat diduga dianggap sebagai extra crew oleh petugas.
Kecurigaan kru pesawat muncul ketika Nisa terlihat gelagapan saat ditanya soal pendidikan dan diklat pramugari. Ia tidak mampu menjawab dengan meyakinkan, sehingga kru memastikan identitasnya.
Ia juga tidak mampu menjawab beberapa pertanyaan standar seputar tugas dan prosedur awak kabin. Jawaban yang tidak sinkron dengan SOP pramugari inilah yang memicu kecurigaan lebih kuat.
Tidak ketinggalan, motif rok yang dipakai Nisa juga tidak sesuai dengan standar seragam pramugari Batik Air. Dari rangkaian temuan tersebut, penyamaran akhirnya terungkap.
Yandri menyampaikan, Nisa juga sempat membuat unggahan palsu di media sosial agar keluarganya percaya bahwa dirinya telah bekerja sebagai pramugari. Aksi tersebut murni dilakukan karena tekanan psikologis dan rasa malu, bukan dengan niat jahat.
Pihak kepolisian memastikan Nisa tidak ditahan karena tidak ditemukan unsur pidana. Hanya pakaian dan barang terkait yang diamankan untuk keperluan klarifikasi. Pihak Batik Air pun disebut tidak mempermasalahkan kejadian tersebut.
Di akhir keterangannya, Yandri mengimbau masyarakat agar lebih waspada terhadap modus penipuan berkedok rekrutmen pramugari. Ia menegaskan proses resmi penerimaan kru maskapai harus mengikuti aturan dan jalur yang telah ditetapkan oleh perusahaan penerbangan.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.