Skip to main content
Iklan

Indonesia

Super flu sudah ada di Indonesia, perlukah vaksin influenza ulang?

Super flu alias varian Influenza A (H3N2) subclade K tidak menunjukkan tingkat keparahan yang lebih tinggi dibandingkan klade atau subclade influenza lainnya.

Super flu sudah ada di Indonesia, perlukah vaksin influenza ulang?
Seorang tenaga kesehatan memberikan dosis vaksin flu tahunan di klinik gratis tanpa pendaftaran yang diselenggarakan oleh L.A. Care dan Blue Shield of California Promise Health di Community Resource Center, Pacoima, California, Amerika Serikat, 5 Oktober 2023. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) merekomendasikan vaksin flu tahunan bagi sebagian besar orang dan menyarankan September hingga Oktober sebagai waktu terbaik untuk menerimanya. (EPA/CAROLINE BREHMAN)

JAKARTA: Varian Influenza A (H3N2) subclade K, yang populer dijuluki super flu, telah terdeteksi di Indonesia. 

Penyebutan super flu muncul karena tingkat penularannya yang sangat cepat, terutama di wilayah bersuhu dingin, meski penularannya tetap terjadi melalui mekanisme umum influenza, seperti droplet batuk atau bersin serta kontak langsung dengan cairan pernapasan orang yang terinfeksi.

Hingga akhir Desember 2025, tercatat 62 kasus influenza A(H3N2) subclade K yang tersebar di delapan provinsi. Tiga provinsi dengan jumlah kasus terbanyak adalah Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat.

Jawa Timur mencatat 23 kasus, disusul Kalimantan Selatan sebanyak 18 kasus, serta Jawa Barat dengan 10 kasus. Sementara Sumatera Selatan melaporkan lima kasus, dan masing-masing satu kasus tercatat di Jawa Tengah, Sulawesi Utara, dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Seiring meluasnya penyebaran virus tersebut, muncul pertanyaan di masyarakat mengenai perlunya vaksin ulang untuk mencegah super flu.

APAKAH PERLU VAKSIN ULANG UNTUK SUPER FLU?

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menyatakan vaksin influenza tahunan yang tersedia saat ini masih efektif untuk menurunkan risiko sakit berat, rawat inap, hingga kematian akibat super flu.

Juru Bicara Kemenkes Widyawati menyampaikan berdasarkan penilaian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) serta data epidemiologi terbaru, subclade K tidak menunjukkan tingkat keparahan yang lebih tinggi dibandingkan klade atau subclade influenza lainnya.

“Menurut penilaian WHO dan data epidemiologi terbaru, subklade K tidak menunjukkan tingkat keparahan lebih tinggi dibandingkan klade atau subklade lainnya,” ujar Widyawati, dikutip Antara, Kamis (1/1).

Gejala yang umum dialami penderita super flu meliputi kelelahan berat, badan pegal, demam, batuk, pilek, sakit kepala, dan nyeri tenggorokan. Gejala tersebut serupa dengan flu musiman. Namun, masyarakat disarankan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila gejala memburuk.

Widyawati menjelaskan peningkatan kasus influenza juga berkaitan dengan faktor musim.

“Peningkatan kasus influenza ini seiring dengan musim dingin yang mana juga serupa dengan tahun atau musim sebelumnya. Jumlah kasus yang dilaporkan di Amerika Serikat sebanyak 1.127 kasus,” jelasnya.

Ia menambahkan pemerintah terus melakukan pemantauan dan pelaporan kasus secara rutin, sekaligus menyiapkan langkah pencegahan sesuai perkembangan situasi.

Kelompok yang berisiko mengalami gejala berat akibat super flu meliputi balita, lansia, ibu hamil, pasien dengan penyakit kronis, penderita kanker, individu dengan gangguan sistem imun, anak dengan penyakit jantung bawaan, serta orang dewasa dengan penyakit kardiovaskular.

Kemenkes mengimbau masyarakat menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat untuk mencegah penularan super flu, antara lain dengan mencuci tangan secara rutin, menggunakan masker saat sakit, beristirahat cukup, serta mengonsumsi makanan bergizi.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ew

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan