Skip to main content
Iklan

Indonesia

Utang Pinjol dan Paylater bikin Gen Z dan milenial susah KPR

Rekam jejak pinjol dan paylater tercatat dalam sistem perbankan Indonesia.

Utang Pinjol dan Paylater bikin Gen Z dan milenial susah KPR
Rumah Susun Masyarakat Berpengasilan Rendah (BPR Rusun) di Kota Pasuruan yang dibangun Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). (Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR))
28 Aug 2025 04:14PM (Diperbarui: 28 Aug 2025 04:15PM)

JAKARTA: Fenomena sulitnya generasi milenial dan Gen Z membeli rumah semakin nyata. Menurut Presiden Direktur PT Summarecon Agung Tbk, Adrianto P. Adhi, penggunaan pinjaman online (pinjol) dan buy now pay later (paylater) menjadi faktor besar yang memengaruhi kelayakan kredit perumahan.

Dalam Indonesia Summit 2025 di Jakarta, Rabu (27/8), Adrianto dikutip detikFinance menjelaskan bahwa utang pinjol dan paylater sudah tercatat dalam Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) atau dikenal juga dengan BI Checking. Hal ini membuat bank lebih selektif saat menilai permohonan Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

Adrianto mencontohkan kasus calon pembeli rumah yang ditolak bank karena masih memiliki cicilan konsumtif.

“Calon pembeli rumah ada yang tidak lolos KPR karena masih mencicil televisi dan kulkas. Jadi rumah tidak bisa dibeli karena cicilan barang konsumtif belum lunas,” jelasnya.

Ia menyebut kondisi ini menyulitkan generasi muda, terutama yang masih tinggal di kontrakan, karena rekam jejak pinjol dan paylater tercatat dalam sistem perbankan.

PINJOL DORONG PERILAKU KONSUMTIF

Menurut Adrianto, pinjol dan paylater membuat masyarakat semakin konsumtif. Ketika penghasilan habis untuk memenuhi cicilan kecil, kesempatan membeli rumah semakin sulit terwujud.

“Dengan adanya pinjol dan paylater, konsumtifnya makin tinggi. Akhirnya saat harus beli rumah, malah terhambat BI Checking,” tambahnya.

Selain faktor pinjol, industri properti juga menghadapi tantangan penurunan daya beli masyarakat. Situasi ini diperburuk dengan pemutusan hubungan kerja (PHK) dan kondisi ekonomi yang berat.

“Daya beli middle low turun, selain ekonomi memang berat, ancaman yang paling berbahaya sekarang adalah pinjol,” tegas Adrianto.

Meski demikian, Adrianto menekankan bahwa bukan berarti semua milenial dan Gen Z tidak bisa membeli rumah. Data Summarecon Bekasi menunjukkan sekitar 62 persen pembeli rumah adalah milenial, sementara 16–17 persen berasal dari Gen Z.

Hal ini menunjukkan bahwa sebagian generasi muda tetap memiliki kemampuan finansial, meskipun sebagian besar masih terhambat utang konsumtif dari pinjol dan paylater.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ew

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan