Update banjir Sumatra: 753 meninggal, krisis kesehatan hantui pengungsi
Kondisi pengungsian yang padat dengan ventilasi buruk serta sanitasi minim, dan keterbatasan air bersih mendorong lonjakan penyakit berbasis lingkungan.
MEDAN: Jumlah korban jiwa akibat rangkaian banjir bandang dan longsor dashyat di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat terus melonjak. Pusdatin BNPB melaporkan bahwa hingga Rabu (3/12) pagi, 753 orang meninggal dunia, sementara 650 orang masih dinyatakan hilang.
Empat kabupaten di Aceh yaitu Aceh Tamiang, Bener Meriah, Aceh Tengah, Gayo Lues, masih sangat sulit dijangkau melalui jalur darat akibat kerusakan akses dan endapan longsor yang menutup jalan utama.
Di Sumatra Utara wilayah paling terdampak adalah Kota Sibolga, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Tapanuli Utara.
Adapun Kabupaten Agam dan Kota Padang Panjang sebagai daerah di Sumatra Barat yang mengalami kerusakan infrastruktur terberat, terutama di kawasan Gunung Singgalang.
PENGUNGSIAN MULAI DIBAYANGI KRISIS KESEHATAN
Di tengah peningkatan jumlah korban, gelombang besar pengungsi yang menembus 576.300 warga kini menghadapi ancaman kesehatan serius. Kondisi tempat pengungsian yang padat, ventilasi buruk, sanitasi minim, dan keterbatasan air bersih mendorong lonjakan penyakit berbasis lingkungan.
“Fokus utama di pengungsian adalah antisipasi penyakit pasca bencana, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, anak-anak, penyandang disabilitas, dan pasien cuci darah,” ujar Kepala Biro Komunikasi Pelayanan Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, diwartakan Kompas.com
Keluhan demam menjadi kasus terbanyak. Ada 277 kasus demam di Sumatra Utara dan 376 kasus di Sumatra Barat.
Myalgia — nyeri otot akibat infeksi, kelelahan ekstrem, atau paparan dingin — juga meningkat dengan 151 kasus di Sumut dan 201 kasus di Sumbar.
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) tercatat 15 kasus di Aceh, 96 kasus di Sumut, dan 116 kasus di Sumbar. Penyakit ini muncul konsisten di seluruh wilayah terdampak dan sering menyerang anak-anak serta lansia karena kondisi udara lembap dan pencemaran debu serta endapan banjir.
Gangguan pencernaan ikut meningkat di mana dispepsia dilaporkan 94 kasus di Sumut dan 118 kasus di Sumbar, sementara diare tercatat puluhan kasus di seluruh provinsi.
Penyebabnya berkaitan langsung dengan akses air bersih yang terbatas serta risiko kontaminasi makanan di pengungsian.
Di saat kebutuhan layanan kesehatan melonjak, banyak fasilitas justru tidak bisa beroperasi optimal. Data Kemenkes menunjukkan sejumlah puskesmas dan rumah sakit mengalami kerusakan fisik, terendam banjir, atau terisolasi akibat akses yang terputus.
Aceh menjadi wilayah dengan jumlah faskes terbanyak yang tak berfungsi yaitu 9 rumah sakit dan 126 puskesmas tidak dapat beroperasi.
Di Sumatra Utara, tercatat 3 rumah sakit, 37 puskesmas, dan 75 pondok bersalin desa terdampak. Kondisi serupa terjadi di Sumatra Barat, dengan 37 puskesmas dilaporkan rusak.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.