Skip to main content
Iklan

Indonesia

Terungkap, pelaku ledakan SMAN 72 kesepian dan tidak punya tempat curhat

Ibu F diketahui saat ini bekerja di luar negeri.

Terungkap, pelaku ledakan SMAN 72 kesepian dan tidak punya tempat curhat
Seorang siswa yang terluka terbaring di atas tandu di Rumah Sakit Islam Jakarta setelah terjadi ledakan saat salat Jumat di sebuah masjid yang berada di dalam kompleks SMAN 72, Kelapa Gading, Jakarta pada 7 November 2025. (Reuters/Ajeng Dinar Ulfiana)
13 Nov 2025 09:49AM (Diperbarui: 19 Nov 2025 09:20AM)

JAKARTA: Polda Metro Jaya mengungkap fakta baru terkait kasus ledakan di SMAN 72 Jakarta, Kelapa Gading. Anak berkonflik dengan hukum (ABH) berinisial MNFH alias F, yang menjadi terduga pelaku, disebut mengalami kesepian dan tidak memiliki tempat untuk berbagi perasaan.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto menjelaskan bahwa F hanya tinggal bersama ayahnya, sementara sang ibu bekerja di luar negeri.

“ABH tinggal bersama ayahnya, sementara ibu bekerja di luar negeri,” kata Budi, dikutip CNN Indonesia, Rabu (12/11).

Ayah dari F disebut bekerja di sektor sipil sebagai juru masak dan tidak memiliki catatan keterlibatan dalam kasus apa pun. Saat ini, penyidik terus mendalami kehidupan keluarga F dan interaksi sosialnya sebelum peristiwa ledakan terjadi.

Tirto melaporkan bahwa F tinggal bersama ayahnya di daerah Cilincing, Jakarta Utara. 

Kedua orang tua F disebutkan telah bercerai. Sehari-hari pelaku, menurut ketua RT setempat, jarang keluar dan berinteraksi.

Ia disebut kebanyakan menghabiskan waktu di dalam kamar bermain handphone dan laptop.

MERASA SENDIRI DAN TIDAK MEMILIKI TEMPAT BERSANDAR

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Iman Imanuddin menyebut pihaknya telah memeriksa 20 saksi, termasuk keluarga, guru, dan teman-teman sekolah F. 

Dari hasil pemeriksaan, diketahui bahwa pelaku merasa sendiri dan tidak memiliki tempat untuk mencurahkan isi hati, baik di rumah maupun di sekolah.

“Yang bersangkutan merasa sendiri, tidak punya teman, tidak punya keluarga, tidak ada tempat yang bisa memberikan ketenangan dan kesejukan terhadap persoalannya,” ujar Iman.

Selain itu, F juga disebut menyimpan rasa dendam terhadap beberapa perlakuan yang ia alami di lingkungannya. Penyidik menduga faktor emosi dan keterasingan sosial menjadi pemicu utama aksi peledakan di sekolah tersebut.

Dari hasil penyelidikan, F diketahui telah menelusuri situs dan komunitas daring yang memuat paham kekerasan sejak awal 2025. Ia mengakses berbagai konten yang menampilkan kematian, kecelakaan, hingga peristiwa brutal lainnya, yang kemudian membentuk kekaguman terhadap aksi-aksi kekerasan.

Untuk mendalami lebih jauh motif F dan sumber bahan peledak yang digunakan, penyidik akan meminta keterangan langsung dari F setelah kondisinya pulih.

“Saat ini F masih menjalani perawatan di RS Polri Kramatjati,” sebut Iman.

Kombes Budi menambahkan bahwa penyidik juga tengah memeriksa apakah ayah pelaku sempat menyadari perubahan perilaku anaknya sebelum ledakan terjadi. Polisi juga akan meminta keterangan dari ibu pelaku yang saat ini bekerja di luar negeri.

Selain faktor keluarga, polisi juga masih mendalami dugaan perundungan (bullying) yang dialami F di sekolah. 

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ew/da

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan