Cadangan gas jumbo ditemukan di Kaltim, pemerintah kejar swasembada energi
Indonesia menemukan cadangan gas besar di Kalimantan Timur dari Blok Geliga dan Gula dengan total potensi sekitar 7 Tcf gas serta ratusan juta barel kondensat, yang ditargetkan mulai berproduksi pada 2028.
Logo perusahaan energi Italia, Eni terlihat di sebuah SPBU di Roma, Italia, pada 30 September 2018. (Foto:REUTERS/Alessandro Bianchi/Foto Arsip)
JAKARTA: Indonesia mencatat temuan cadangan gas besar di Kalimantan Timur yang diyakini akan memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus menekan ketergantungan impor di masa depan. Temuan ini berasal dari dua blok migas, yakni Geliga dan Gula, yang dikelola perusahaan energi asal Italia, Eni.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebut, total potensi kedua blok tersebut mencapai sekitar 7 triliun kaki kubik (trillion cubic feet/Tcf) gas. Dari jumlah itu, Blok Geliga menyumbang sekitar 5 Tcf gas dan sekitar 300 juta barel kondensat minyak ekuivalen.
Reuters melaporkan, penemuan ini dikonfirmasi juga oleh Eni melalui pengeboran sumur eksplorasi Geliga-1 di Wilayah Kerja Ganal, lepas pantai Indonesia. Sumur tersebut dibor hingga kedalaman sekitar 5.100 meter di perairan sedalam kurang lebih 2.000 meter.
Selain Geliga, sebelumnya telah ditemukan cadangan di Blok Gula dengan potensi sekitar 2 Tcf gas dan 75 juta barel kondensat. Dengan demikian, total gabungan dari kedua blok tersebut mencapai 7 Tcf gas dan jutaan barel kondensat yang akan mulai dikembangkan untuk produksi.
Pemerintah menargetkan produksi dari temuan ini dapat dimulai pada 2028. Untuk mempercepat realisasi tersebut, Bahlil mengatakan telah membentuk tim khusus guna mengakselerasi pengembangan proyek.
“Saya mengumumkan bahwa Eni baru mendapatkan satu wilayah kerja baru gas jumbo dari Blok Geliga yang menghasilkan 5 Tcf untuk gas dan kita mendapat kondensat sekitar 300jt barel minyak equivalent,” kata Bahlil, dikutip CNN Indonesia pada Senin (20/4).
Dalam proyeksinya, produksi gas dari Eni di Indonesia diperkirakan meningkat signifikan. Dari saat ini sekitar 600–700 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD), produksi ditargetkan naik menjadi sekitar 2.000 MMSCFD pada 2028, bahkan berpotensi mencapai 3.000 MMSCFD pada 2030.
Selain gas, produksi kondensat juga akan menjadi kontribusi penting. Pemerintah menargetkan produksi awal sekitar 90 ribu barel pada 2028, yang kemudian meningkat hingga 150 ribu barel pada periode 2029–2030.
Bahlil menegaskan bahwa temuan ini menjadi bagian dari strategi besar pemerintah untuk mencapai kemandirian energi nasional, terutama di tengah ketidakpastian geopolitik global.
“Ini adalah strategi bagaimana gas kita tidak kita lakukan impor dari negara mana pun, kita harus memenuhi kebutuhan dalam negeri,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa gas tersebut akan dimanfaatkan untuk mendukung industri hilirisasi sekaligus mengurangi impor minyak mentah melalui tambahan produksi kondensat.
Di sisi lain, temuan ini dinilai strategis mengingat tingginya konsumsi energi Indonesia. Saat ini konsumsi minyak nasional mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sementara produksi domestik masih berada di kisaran 605 ribu barel per hari. Pemerintah menargetkan produksi meningkat hingga 900 ribu hingga 1 juta barel per hari pada 2030.
Dengan adanya tambahan pasokan gas dan kondensat dari Kalimantan Timur, pemerintah berharap langkah menuju swasembada energi dapat semakin realistis, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam menghadapi dinamika pasokan energi global.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.