Tawuran maut terus terjadi di Indonesia, seruan atasi akar masalah menggema
Dari meningkatkan patroli dekat sekolah-sekolah sampai menyalurkan energi para remaja dengan olahraga, pemerintah Indonesia melakukan berbagai cara untuk mencegah tawuran yang telah merenggut nyawa.
Tangkapan layar tawuran remaja yang diunggah di media sosial, termasuk yang melibatkan anak-anak SD di Depok (tengah). (Instagram/hisnu_tangsel, Instagram/Seputar_Purwakasi, Instagram/fron17jakarta))
DEPOK: Sebuah video yang viral bulan lalu memperlihatkan sekitar 20 bocah usia Sekolah Dasar, beberapa membawa penggaris besi, saling berkejaran di jalanan Depok.
Belakangan diketahui mereka berasal dari dua SD berbeda yang terletak berdekatan.
Menurut Masrokan, guru olahraga dari salah satu SD tersebut, siswanya sedang memancing di kali dekat sekolah mereka ketika rombongan siswa dari sekolah lain melontarkan ejekan.
Akhirnya, kedua pihak memutuskan menuntaskan perseteruan sepulang sekolah pada 10 Mei lalu.
"Mereka saling kejar, dan warga sekitar menyaksikannya," kata Masrokan.
"Jadi warga mengejar para siswa dan meminta mereka berhenti tawuran."
Insiden ini mengejutkan karena usia mereka yang masih kecil - antara 10 hingga 12 tahun.
Konflik bocah SD ini juga terjadi di tengah berita-berita tawuran yang telah merenggut nyawa dalam beberapa bulan terakhir.
Sebelumnya pada 9 Mei, seorang siswa berusia 17 tahun di Pati, Jawa Tengah, tewas dalam tawuran antara dua SMA.
Maret lalu di Maluku Tenggara, dua orang tewas dan belasan lainnya terluka dalam tawuran dua kelompok pemuda yang bersenjatakan parang, senapan angin dan panah.
Meski bukan fenomena baru di Indonesia, namun berbagai kasus akhir-akhir ini membuat pemerintah setempat berjanji akan menindak para pelaku tawuran dan mencarikan sarana penyaluran energi bagi para pemuda.
CNA mencari tahu apa akar penyebab tawuran di Indonesia dan bagaimana cara mencegahnya.
MASYARAKAT MARJINAL = RAWAN TAWURAN
Para pakar mengatakan, tawuran remaja dan hooliganisme bukanlah hal unik di Indonesia, ini adalah masalah pelik yang telah berlangsung selama beberapa generasi.
Ichsan Malik, dosen resolusi konflik dan perdamaian di Universitas Pertahanan Republik Indonesia mengatakan bahwa tawuran pertama yang diberitakan koran nasional terjadi di Jakarta pada 1968, melibatkan siswa-siswa SMA.
Di Indonesia, kata dia, tawuran dimaknai sebagai perkelahian yang menggunakan senjata. Jika tidak menggunakan senjata, maka hanya dilabeli sebagai perkelahian.
Tawuran kebanyakan terjadi di kalangan siswa sekolah menengah atas, karena menurut Ichsan kebanyakan mereka adalah remaja yang tengah membentuk identitasnya. Di fase ini para remaja tersebut "mudah frustrasi dan agresif", kata Ichsan.
Doni Koesoema, pakar pendidikan dari Universitas Multimedia Nusantara mengatakan bahwa tawuran juga terjadi ketika dia masih SMP di Surabaya pada 1986.
Namun, kata Doni, tawuran saat itu tidak sebrutal sekarang.
Di masa lalu, tawuran biasanya terjadi siswa antar sekolah. Tapi saat ini, tawuran juga melibatkan orang-orang di usia dewasa muda dari permukiman yang berbeda, kata sosiolog Bagong Suyanto dari Universitas Airlangga.
Bagong sependapat dengan Ichsan yang mengatakan bahwa tawuran cenderung terjadi di lingkungan yang marjinal atau miskin, bersifat homogen, dengan tingkat pengangguran tinggi dan peluang kerja yang minim.
Wilayah Manggarai, misalnya, telah sejak puluhan tahun terkenal sebagai lokasi tawuran antar dua kelompok masyarakat.
Menurut Muhammad Lutfi, 24, warga yang bekerja sebagai juru parkir di Manggarai, tawuran semakin sering terjadi sejak daerah itu menjadi ramai karena ditingkatkannya fasilitas stasiun Manggarai.
Tawuran biasanya dipicu perebutan pengelolaan lapak perdagangan atau penguasaan wilayah tertentu, kata Lutfi.
Selain itu, lanjut dia, maraknya jual-beli online juga memudahkan pembelian senjata seperti parang atau pisau.
Awal bulan lalu, Lutfi sendiri menjadi korban tawuran.
Pada malam hari tanggal 4 Mei, dia sedang tertidur ketika puluhan orang menyerangnya dan menyabet kepalanya dengan clurit.
"Sepertinya tawuran di sini terjadi karena mereka mau jadi juru parkir atau mencari uang," kata Lutfi, yang ketika itu berhasil diselamatkan dari tempat parkir oleh warga dan langsung dilarikan ke rumah sakit.
Serangan tersebut meninggalkan bekas luka di kepalanya.
PATROLI POLISI DAN LANGKAH PENCEGAHAN LAINNYA
Ichsan mengatakan, tawuran di kalangan pemuda atau pelajar kebanyakan terjadi karena penegakan hukum yang lemah.
Selama bertahun-tahun, tidak ada solusi yang nyata untuk mengakhiri kekerasan, namun aparat telah berjanji akan mengatasi masalah ini.
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Fauzi mengatakan bahwa anak-anak SD yang tawuran di Depok adalah korban dari sistem yang belum cukup hadir melindungi mereka. Dia berjanji pihaknya akan melakukan edukasi terhadap anak-anak tersebut.
"Seluruh anak Indonesia adalah anak kita yang seharusnya berada dalam lingkungan aman dan mendukung tumbuh kembangnya. Kita semua tentu sepakat bahwa tawuran yang melibatkan anak usia SD merupakan pelanggaran terhadap prinsip-prinsip dasar perlindungan anak," kata Arifah pada 12 Mei lalu.
Menyusul insiden tersebut, para siswa yang terlibat tawuran, orang tua mereka, guru serta polisi bertemu di sekolah pada 15 Mei.
Para siswa kemudian menandatangani pernyataan bahwa mereka tidak akan lagi tawuran.
Polisi juga akan melakukan patroli rutin di area sekitar sekolah, terutama seusai jam belajar.
"Patroli tidak dilakukan hanya di dua sekolah ini, tapi juga juga di semua wilayah Cimanggis, Depok," kata Kapolsek Cimanggis, Kompol Jupriono, kepada CNA.
Di tingkat provinsi, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengirim para siswa yang terlibat tawuran ke barak militer.
Sementara Gubernur Jakarta Pramono Anung mengatasinya dengan pendekatan keagamaan dan budaya melalui program Manggarai Bershalawat.
"Orang yang bertikai, berselisih, pasti ada penyebabnya, apa yang menjadi penyebab utamanya? Maka penyebab utama inilah yang harus dicari," kata Pramono pada 23 Mei lalu dalam peluncuran program tersebut di Manggarai.
"Salah satunya, energi anak-anak di sini tidak tersalurkan secara baik, tempat olahraganya tidak ada," lanjut Pramono yang ketika itu menyerahkan peralatan badminton dan futsal.
TIDAK ADA SOLUSI TUNGGAL
Para pakar mengatakan banyak yang perlu dilakukan untuk mengatasi masalah tawuran yang kompleks ini. Donie dari Universitas Multimedia Nusantara mengatakan para siswa perlu diikutkan dalam program pembangunan karakter.
Sekolah juga harus bersikap tegas terhadap siswa pelaku kekerasan.
Citra Septiya, guru bimbingan dan konseling di salah satu SMA di Jakarta, mengatakan bahwa siswanya tidak pernah terlibat tawuran lagi sejak 2019 setelah sekolah menerapkan kebijakan tegas: Pelaku akan dikeluarkan.
"Tawuran bisa menyebabkan luka fisik sampai kematian, menciptakan trauma bagi korban dan orang-orang di sekitar yang terdampak, serta merusak citra sekolah," kata Citra.
Sekolah, imbuh Citra, juga harus ketat dalam memantau para siswa mereka.
Para pakar mengatakan, di bawah peraturan di Indonesia, para pelaku tawuran terutama yang menggunakan senjata, harus mendapat hukuman.
Namun menurut Ichsan dari Universitas Pertahanan Republik Indonesia, hukum tidak ditegakkan untuk para pelaku tawuran sehingga tidak menciptakan efek jera.
Semua pihak harus berkomitmen untuk menerapkan dan mengawasi program-program pencegahan tawuran, kata dia.
“Harus ada kemauan politik yang kuat yang melibatkan semua pemangku kepentingan: Pemerintah, kepolisian, para siswa, orang dewasa muda, keluarga yang terlibat, bahkan media.
“Ini memang masalah yang kompleks, tapi kita tidak boleh pesimistis. Saya yakin ini bisa diselesaikan,” kata Ichsan.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.