Tarif Transjakarta segera naik, rute jauh bisa bayar lebih mahal
Tarif tunggal Rp3.500 berpeluang berubah karena DKI mengkaji tarif berdasarkan karakteristik dan jarak perjalanan.
Halte TransJakarta Swadarma ParagonCorp. (dok. TransJakarta)
JAKARTA: Skema tarif seragam Rp3.500 untuk seluruh layanan Transjakarta dan Transjabodetabek kemungkinan akan berakhir seiring rencana Pemprov DKI Jakarta menerapkan tarif berdasarkan karakteristik dan panjang rute.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan, pemerintah daerah sedang memfinalisasi skema baru tarif Transjabodetabek yang selama ini menggunakan tarif tunggal tanpa membedakan jarak perjalanan.
Dengan sistem yang berlaku saat ini, penumpang membayar tarif yang sama baik untuk perjalanan pendek maupun rute jarak jauh yang dapat menempuh lebih dari 100 kilometer
“Untuk Transjabodetabek terus terang segera kami putuskan. Tapi, saya ingin meluruskan, enggak mungkin enggak disubsidi, pasti tetap akan disubsidi,” kata Pramono, dikutip Bisnis, Rabu (10/6).
Menurut dia, perubahan tarif tetap akan mempertimbangkan kemampuan masyarakat dan tujuan utama transportasi publik, yakni mengurangi penggunaan kendaraan pribadi.
Pramono menilai, langkah tersebut penting untuk menjaga minat masyarakat menggunakan transportasi umum.
“Prinsipnya, pasti saya mempertimbangkan dengan sungguh-sungguh, tidak membuat orang kemudian beralih kepada kendaraan pribadi kembali,” ujarnya.
Pramono belum menjelaskan apakah penyesuaian tarif akan dilakukan secara bertahap atau langsung diterapkan pada seluruh rute.
Salah satu rute yang dipastikan masuk dalam pembahasan adalah layanan Transjabodetabek Blok M–Bandara Soekarno-Hatta yang memiliki jarak perjalanan cukup panjang.
Selain itu, rute Bogor–Blok M juga menjadi perhatian karena merupakan salah satu koridor terpanjang dalam jaringan Transjabodetabek.
Rute tersebut memiliki panjang sekitar 113,3 kilometer dengan waktu tempuh sekitar 90 menit dalam kondisi lalu lintas normal dan dapat mencapai 110 menit saat kondisi padat.
SUBSIDI YANG MENGGELEMBUNG
Rencana penyesuaian tarif muncul di tengah tingginya beban subsidi yang ditanggung Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Pada 2026, nilai subsidi Transjabodetabek mencapai sekitar Rp401 miliar.
Sementara itu, rata-rata subsidi yang diberikan untuk setiap pelanggan tercatat sebesar Rp12.258 per perjalanan.
Saat ini, tingkat konektivitas transportasi publik Jakarta disebut telah mencapai 93 persen.
Namun, tingkat pemanfaatannya masih berada di bawah 30 persen dari total masyarakat yang memiliki akses terhadap layanan tersebut.
Sementara itu, beberapa hari lalu, pengamat transportasi Djoko Setijowarno menilai, pembahasan tarif Transjakarta saat ini tidak lagi sekadar soal angka, melainkan menyangkut keseimbangan antara keberlanjutan layanan transportasi publik dan keadilan sosial bagi warga Jakarta.
“Wacana penyesuaian tarif Transjakarta bukanlah sebuah pilihan kebijakan yang hitam-putih,” kata Djoko seperti dilaporkan Kompas.com pada Minggu (7/6).
Selain membahas tarif, Pemprov DKI juga berencana meningkatkan kualitas layanan operasional dan menambah jumlah armada Transjabodetabek.
Berdasarkan data Dinas Perhubungan Jakarta, layanan Transjabodetabek terus menunjukkan pertumbuhan jumlah penumpang.
Sepanjang Januari 2025 hingga April 2026, rute Universitas Indonesia–Lebak Bulus menjadi koridor dengan jumlah pelanggan tertinggi, mencapai 3,88 juta penumpang atau rata-rata sekitar 8.014 penumpang per hari.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.