Skip to main content
Iklan

Indonesia

Suhu turun ke 23 derajat disertai kabut, sampai kapan cuaca dingin Jakarta?

BMKG sebut fenomena ini sebagai bediding, dipicu angin monsun Australia dan badai tropis

Suhu turun ke 23 derajat disertai kabut, sampai kapan cuaca dingin Jakarta?
Fenomena cuaca dingin dan berkabut di Jakarta sejak akhir Juni 2025. (X/@azr_314)

JAKARTA: Suhu udara di Jakarta dan wilayah sekitarnya seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi belakangan ini terasa lebih dingin dari biasanya.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat suhu berada di kisaran 23 hingga 27 derajat Celsius pada pagi dan malam hari.

Menurut BMKG, kondisi udara dingin ini diprediksi akan berlangsung hingga akhir Juli 2025, seiring dengan puncak musim kemarau di wilayah Indonesia bagian barat.

“BMKG memprakirakan bahwa suhu dingin ini akan terus terjadi hingga menjelang akhir Juli, dengan suhu di Jakarta dan sekitarnya mencapai 25–27 derajat Celsius pada pagi hingga siang hari, dan turun menjadi sekitar 25 derajat pada malam hari,” jelas Deputi Meteorologi BMKG, Guswanto, kepada CNN Indonesia, Senin (30/6).

FENOMENA BEDIDING

Fenomena penurunan suhu ini disebabkan oleh angin monsun Australia yang membawa udara kering dan dingin dari Benua Australia ke wilayah Indonesia. Angin ini bersifat dingin dan minim uap air, sehingga menurunkan suhu secara signifikan, terutama pada malam hari.

BMKG juga menyebut keberadaan badai tropis di utara Indonesia dan sekitar Filipina turut memperkuat dorongan massa udara dingin dari selatan menuju utara, memperparah efek suhu rendah di sejumlah daerah.

Fenomena cuaca ini dikenal sebagai bediding, istilah lokal untuk menyebut udara dingin yang umum terjadi selama musim kemarau di wilayah tropis, termasuk Indonesia.

“Fenomena udara dingin ini di daerah Jawa dikenal sebagai bediding. Dalam konteks klimatologi, ini merupakan hal normal karena berkaitan dengan kondisi atmosfer saat musim kemarau,” tulis BMKG di laman resminya.

Bediding biasanya terjadi akibat berkurangnya tutupan awan dan rendahnya curah hujan, membuat panas yang diserap permukaan bumi di siang hari cepat terlepas ke atmosfer saat malam hari, sehingga suhu turun drastis.

Meski tergolong normal, BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap dampak suhu dingin, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia. Penurunan suhu dapat memengaruhi daya tahan tubuh dan meningkatkan risiko penyakit musiman.

BMKG juga mengingatkan adanya potensi munculnya kabut pada pagi dan malam hari yang dapat mengganggu jarak pandang saat berkendara.

“Kabut mungkin akan muncul pada malam hari karena kelembaban yang tinggi dan suhu yang lebih rendah,” ungkap Guswanto.

Fenomena kabut sudah dilaporkan muncul di wilayah Bekasi dan Depok, seiring dengan pengaruh bediding yang meningkat sejak akhir Juni.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ew

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan