Warga mandi keringat, BMKG pastikan Indonesia tidak dilanda gelombang panas
Jawa Barat mencatat suhu hingga 37,2°C.
Ilustrasi gelombang panas (iStock)
JAKARTA: Sejumlah wilayah di Indonesia mencatat suhu udara tinggi dalam beberapa hari terakhir, bahkan mencapai di atas 35 derajat Celsius. BMKG memastikan kondisi ini bukan gelombang panas, melainkan peningkatan suhu yang dipengaruhi faktor cuaca musiman.
BMKG mencatat suhu panas terjadi di sejumlah wilayah pada periode 12–15 Maret 2026.
Di Jawa Barat suhu mencapai 37,2 derajat Celsius, disusul Kalimantan 36,4 derajat Celsius, Banten 36,2 derajat Celsius, dan Jawa Timur sekitar 35 derajat Celsius.
Pelaksana Tugas Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani mengatakan fenomena yang terjadi saat ini masih dalam kategori normal bagi wilayah tropis seperti Indonesia.
"Fenomena yang terjadi saat ini bukan gelombang panas atau heatwave, melainkan peningkatan suhu udara," kata Andri, Selasa (17/3), Kompas.com melaporkan.
Ia menjelaskan gelombang panas umumnya terjadi di wilayah subtropis dengan suhu sangat tinggi yang berlangsung selama beberapa hari berturut-turut.
Sementara itu, di Indonesia variasi suhu cenderung lebih kecil dan pembentukan awan serta hujan masih cukup sering terjadi.
Cuaca gerah saat ini, lanjutnya terjadi seiring pergeseran distribusi hujan ke wilayah Indonesia bagian timur, sehingga beberapa daerah lain mengalami tutupan awan yang lebih sedikit.
Akibatnya, radiasi matahari yang diterima permukaan menjadi lebih optimal dan suhu terasa lebih panas.
Sebelumnya, Pusat Meteorologi Khusus ASEAN (ASEAN Specialised Meteorological Centre/ASMC) memproyeksikan peluang sebesar 80–100 persen bahwa Indonesia akan dilanda gelombang panas dengan suhu di atas rata-rata dalam tiga bulan ke depan.
BMKG juga mengakui bahwa periode Maret hingga Mei memang cenderung terasa lebih panas.
Hal ini dipengaruhi posisi matahari yang berada di sekitar ekuator, berkurangnya tutupan awan pada siang hari, serta angin yang relatif lemah.
Di wilayah perkotaan, suhu panas juga terasa lebih intens akibat fenomena urban heat island, di mana kawasan terbangun menyimpan panas lebih lama.
"Di wilayah perkotaan, suhu panas juga terasa lebih intens akibat fenomena urban heat island, yang menyebabkan kawasan terbangun menyimpan panas lebih lama dan membuat udara terasa lebih gerah," jelas Andri.
BMKG memperkirakan kondisi cuaca panas pada siang hari masih akan berlangsung dalam beberapa waktu ke depan, terutama saat tutupan awan berkurang.
Meski demikian, potensi hujan lokal tetap ada, khususnya pada siang hingga sore hari.
Masyarakat diimbau untuk menjaga kondisi tubuh dengan memperbanyak konsumsi air, mengurangi aktivitas di bawah sinar matahari, serta terus memantau informasi cuaca resmi
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.