Skip to main content
Iklan

Indonesia

Stroke intai generasi muda Indonesia: Kenali penyebab dan cara mencegahnya

Selain faktor medis klasik, tingkat stres tinggi juga dapat memicu stroke.

Stroke intai generasi muda Indonesia: Kenali penyebab dan cara mencegahnya
Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RS PON) (Dok RS PON)

JAKARTA: Tren kasus stroke di usia muda menunjukkan lonjakan signifikan dalam beberapa tahun terakhir di Indonesia

Data dari Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RS PON) mengungkapkan bahwa proporsi pasien stroke berusia di bawah 45 tahun kini kian mendekati angka kasus pada kelompok usia lanjut.

Yang mengejutkan, RS PON bahkan mencatat kasus stroke pada anak berusia 3 tahun akibat kelainan genetik, menandai pergeseran demografis yang semakin mengkhawatirkan dalam epidemiologi penyakit ini.

“Pergeseran kasus stroke ke usia muda terjadi secara global. Faktor-faktor seperti gula darah tinggi, obesitas, diabetes, hipertensi, kegemukan masih menjadi pemicu klasik utama di usia muda,” jelas dr Reza Aditya Arpandy, SpS, Direktur Medik dan Keperawatan RS PON, kepada detikHealth, Sabtu (24/5).

STRES DAN GAYA HIDUP BURUK JADI ANCAMAN NYATA

Selain faktor medis klasik, kalangan ahli mengingatkan bahwa tingkat stres tinggi, pola makan buruk, dan gaya hidup tidak aktif menjadi pemicu yang semakin lazim ditemukan di kalangan anak muda.

dr Roslan Yusni Hasan, SpBS, Spesialis Bedah Saraf dari Mayapada Hospital, menyoroti pentingnya manajemen stres sebagai langkah preventif.

Ia mendorong generasi muda untuk menemukan aktivitas yang menyenangkan dan menenangkan.

“Jangan abaikan stres. Tekanan emosional bisa berdampak nyata pada fisik, termasuk risiko stroke,” katanya.

Sementara itu, perwakilan Perhimpunan Dokter Spesialis Neurologi Indonesia (Perdosni), dr Henry Riyanto, SpN, SubspNN(K), FNOnk, menegaskan bahwa kebiasaan mengonsumsi junk food, kurangnya aktivitas fisik, serta penggunaan rokok elektronik menjadi faktor risiko baru yang perlu diwaspadai.

“Olahraga teratur, makan dengan porsi seimbang, serta antioksidan sangat diperlukan untuk pencegahan stroke,” ujarnya.

KELAINAN GENETIK MOYA-MOYA: RISIKO TERSEMBUNYI DI USIA MUDA

Meski gaya hidup berperan besar, faktor genetik juga tak bisa dikesampingkan. Direktur Utama RS PON, dr Adin Nulkhasanah, SpS, MARS, menjelaskan bahwa sebagian kasus stroke usia muda bukan disebabkan oleh faktor klasik.

Salah satu kondisi genetik yang kini mulai mendapat perhatian adalah moya-moya, kelainan pembuluh darah otak yang bisa menyerang individu di usia 20-an, bahkan anak-anak.

“Kita pernah menangani pasien tanpa hipertensi, tanpa diabetes, rajin olahraga, tapi tetap terkena stroke karena kelainan genetik moya-moya,” jelas dr Adin.

Moya-moya merupakan kelainan pada arteri karotis interna yang menyempit hingga menyumbat aliran darah ke otak. Akibatnya, tubuh membentuk pembuluh darah kecil baru yang tampak seperti “kepulan asap” dalam hasil angiogram—yang menjadi asal-usul nama penyakit ini dari bahasa Jepang.

Orang dengan riwayat keluarga pengidap moya-moya berisiko 10–15% lebih tinggi terkena kondisi serupa. Untuk itu, RS PON menyarankan pemeriksaan dini seperti brain check-up, MRI, MRA, atau CT angio, terutama bagi mereka yang memiliki faktor genetik. Bagi pasien yang memiliki indikasi medis, pemeriksaan dapat ditanggung oleh BPJS Kesehatan.

RS PON mencatat menangani sekitar 70 kasus moya-moya setiap tahun. Namun, para ahli meyakini angka ini hanya sebagian kecil dari jumlah sebenarnya. Di Jepang, angka kejadian tercatat mencapai 0,5 kasus per 100.000 penduduk.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ew

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan