Skip to main content
Iklan

Indonesia

Siswi SD berusia 10 tahun di Sumbar tewas dibakar temannya di sekolah

Aldelia Rahma berkali-kali berpindah-pindah rumah sakit dan sempat dipulangkan ke rumah walau lukanya belum kering total.

Siswi SD berusia 10 tahun di Sumbar tewas dibakar temannya di sekolah
Ilustrasi Kebakaran (iStock)
27 May 2024 03:30PM (Diperbarui: 27 May 2024 04:10PM)

PADANG: Aldelia Rahma (10), siswi SDN 10 Durian Jantung, Padang Pariaman, Sumatera Barat (Sumbar), tewas setelah dibakar oleh temannya sendiri di sekolah tempat dia belajar.

Anak perempuan malang ini meninggal dunia pekan lalu (21 Mei) dengan luka bakar 80 persen di tubuhnya di RSUP M Djamil Padang, setelah dirawat pihak keluarga selama hampir 3 bulan.

”Kondisi Aldelia saat meninggal sangat buruk. Darah keluar dari hidung, mulut, dan mata. Badan membiru. Tubuhnya kurus, tinggal tulang berbalut kulit,” kata Media Madona, sepupu Aldelia bercerita kepada Kompas.id, Jumat (24 Mei).

KRONOLOGI PEMBAKARAN ALDELIA

Sebelum kejadian mengejutkan itu terjadi pada 28 Februari lalu, Aldelia diminta oleh gurunya untuk membakar sampah dengan seorang temannya.

Adapun wali kelas dan guru olahraga meminta semua siswa kelas 4 bergotong royong dan membakar sampah karena akan ada kegiatan kelompok kerja guru (KKG) esok harinya.

Api yang membakar sampah di belakang sekolah itu awalnya tidak begitu menyala.

Teman Aldelia kemudian mengambil bahan bakar minyak (BBM) dalam botol air mineral.

Tiba-tiba, seorang siswa laki-laki berinisial R merebut botol minyak itu dan menyiramkannya ke Aldelia.

Api dengan cepat menyambar anak periang itu dan membakarnya dari dada hingga kaki.

Spontan, teman-temannya yang ketakutan melarikan diri.

Aldelia berlari ke toilet tak jauh dari lokasi kejadian. Sialnya, pintu toilet rupanya terkunci.

Dalam kondisi sedang terbakar, dia kemudian berlari ke ruang kelasnya.

Salah seorang guru memintanya berguling-guling di tanah untuk memadamkan si jago merah. 

Guru olahraga yang datang berhasil memadamkan api dengan bajunya.

Aldelia kemudian dilarikan ke puskesmas terdekat, dan dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Lubuk Basung, Kabupaten Agam, Sumbar.

Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) M Djamil Padang (Antara/Laila Syafarud)

KEMELUT PENGOBATAN ALDELIA

RSUD Lubuk Pasung yang tidak sanggup merawat kemudian merujuk korban ke RSUP Dr M Djamil di kota Padang yang merupakan RS tipe A.

Berbeda dengan RSUD Lubuk Pasung yang menyebut luka bakar sebanyak 85 persen. RSUP Dr M Djamil mengatakan luka bakar Adelia hanya 31 persen.

Aldelia menjalani perawatan di RSUP Dr M Djamil selama 35 hari.

Walau menurut keluarga, luka Aldelia belum kering, dia dipulangkan untuk rawat jalan.

”Saya terkejut saat ambulans tiba di rumah. Lukanya masih basah, seperti kambing baru dikuliti, disuruh pulang,” ujar Madona, yang pernah jadi tenaga kesehatan di puskesmas, dengan kekecewaan mendalam.

Menurut Madona, pemulangan ke rumah anak keempat dari lima bersaudara ini memperburuk kondisinya karena peralatan dan kemampuan perawatan di rumah sangat terbatas.

Luka bakar korban tak kunjung membaik dan gejala gizi buruk pun mulai terlihat.

Selang 10 hari kemudian, pada 15 April, Aldelia kembali dirawat di RSUP Dr M Djamil.

Kali ini dia dirawat selama 10 hari dan kemudian kembali dipulangkan.

Surat ringkasan pasien pulang dari RSUP menyatakan, Aldelia menderita luka bakar 31 persen. Dia juga menderita sejumlah penyakit tambahan, yaitu gizi buruk, anemia, dan hipokalemia.

Belum satu minggu, kondisi Aldelia kembali menurun.

Viralnya kondisi gizi buruk yang dialami Aldelia bahkan mendapat perhatian Bupati Padang Pariaman Suhatri Bur.

Sang bupati mengunjungi rumah Aldelia pada 5 Mei dan membawanya ke RSUD Padang Pariaman.

Sepekan di RSUD Padang Pariaman, pada 14 Mei,  Aldelia kembali dirujuk ke RSUP Dr M Djamil untuk operasi bedah plastik.

Namun, kondisinya tak kunjung membaik. Sehari sebelum meninggal, dokter bedah berkonsultasi dengan dokter anak untuk memindahkan Aldelia ke ruang rawat anak.

”Dokter anak bersangkutan menolak. Katanya, ’Pasien seperti ini diberikan ke saya. Tolak-tolak. Tidak bisa saya merawat.’ Itu diucapkan di depan keluarga,” kecam Madona.

Aldelia meninggal satu minggu kemudian pada 21 Mei pukul 15.30.

BERPINDAH KE KEPOLISIAN

Kasat Reskrim Polres Pariaman, Iptu Rinto Alwi, dikutip detikNews mengatakan telah menerima laporan keluarga yang melaporkan pelaku pembakaran yang juga masih berada di bangku kelas 4 SD.

"Kita akan memanggil saksi dulu, mungkin Senin depan akan kita panggil teman-teman korban yang mengetahui kejadian. Dan selain itu, kita akan memanggil pihak sekolah berserta 2 guru yang mengetahui kejadian itu," ucap Rinto.

Rinto menambahkan tidak menutup kemungkinan pemeriksaan terhadap pihak sekolah juga akan dilakukan dalam waktu dekat.

"Untuk 2 guru ini yaitu wali kelas dan guru olahraga, seharusnya mereka yang mengawasi muridnya saat kejadian terjadi. “

Kepolisian juga belum bisa memastikan jenis minyak yang digunakan pelaku untuk membakar korban.

Dugaan awal merupakan minyak tanah.

"Sementara keterangan awal yang kita peroleh ada yang menyebut bensin, Pertalite dan Pertamax. Jadi perlu kita pastikan dulu. Sementara dugaan awal minyak tanah," pungkasnya.

Madona menambahkan, saat rawat jalan di rumah, Aldelia pernah bercerita bahwa pelaku yang menyiramkan BBM, sering merundungnya di sekolah.

Korban kerap ditonjok mukanya, ditendang, dan ditempeleng oleh R.

Aldelia kemudian mengadukan R ke guru.

Namun, alih-alih menegur R, kata Madona, guru justru menyalahkan Aldelia.

Guru bersangkutab berkata, ”Kamu kan perempuan, kenapa main sama laki-laki?”

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel CNA.id dengan klik tautan ini.

Source: Others/ew

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan