Sering lawatan ke luar negeri, Prabowo jelaskan alasannya
Selama 17 bulan menjabat, Prabowo tercatat telah mengunjungi 28 negara.
Kepala Negara anggota Asia Pacific Economic Cooperation (APEC) berfoto bersama di KTT APEC 2025 di Gyeongju, Korea Selatan. (Reuters)
JAKARTA: Sorotan publik soal tingginya frekuensi kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto akhirnya dijawab langsung olehnya.
Ia menegaskan, rangkaian lawatan tersebut bukan agenda seremonial, melainkan strategi diplomasi ekonomi yang berdampak langsung pada lapangan kerja dan keberlangsungan industri nasional.
Penjelasan itu disampaikan melalui tayangan di kanal YouTube resminya bertajuk "Prabowo Menjawab 2" yang dirilis Minggu (22/3).
Dalam kesempatan tersebut, Presiden memaparkan bahwa setiap kunjungan ke luar negeri memiliki tujuan spesifik, terutama dalam membuka akses pasar dan memperkuat posisi tawar Indonesia.
Selama 17 bulan menjabat, Prabowo tercatat telah mengunjungi 28 negara. Beberapa negara bahkan dikunjungi berulang kali, seperti Malaysia sebanyak lima kali, Uni Emirat Arab empat kali, serta Mesir, Amerika Serikat, dan Inggris masing-masing tiga kali.
Menurutnya, intensitas kunjungan tersebut mencerminkan perubahan lanskap global yang kini semakin menitikberatkan kekuatan ekonomi. Dalam kondisi ini, setiap negara dituntut aktif membangun hubungan internasional, termasuk melalui diplomasi langsung di tingkat kepala negara.
Kepala Negara menyadari adanya anggapan bahwa kunjungan tersebut sekadar “jalan-jalan”. Ia menolak pandangan itu dan menegaskan bahwa setiap perjalanan membawa misi konkret yang berkaitan dengan nasib jutaan pekerja Indonesia.
"Mungkin ada yang menyangka saya suka jalan-jalan ke situ. Padahal, saya jalan-jalan untuk menjaga rakyat saya, menjaga lapangan kerja mereka," katanya.
Ia juga menambahkan bahwa kehadiran dalam undangan internasional merupakan bagian dari etika hubungan antarnegara.
“Kalau diundang, kita tidak datang, kan enggak bagus. Nah, makanya setiap presiden Indonesia, ya, capek,” belanya.
DIPLOMASI LANGSUNG JADI PENENTU
Prabowo menggarisbawahi bahwa dalam banyak kasus, kehadiran langsung kepala negara menjadi faktor penentu dalam negosiasi ekonomi, terutama yang berkaitan dengan perdagangan dan investasi.
“Di ujungnya saya harus datang,” tekannya.
Ia menjelaskan, proses perundingan kerap menemui kebuntuan di tingkat teknis. Dalam situasi tersebut, keputusan strategis hanya bisa diambil melalui komunikasi langsung antar pemimpin negara.
"Kadang-kadang kalau kita berunding, mereka selalu bilang harus lapor ke nomor satu mereka. Ada hal-hal penting yang memang harus dibicarakan langsung antar-pemimpin negara," sebutnya.
Prabowo mencontohkan keberhasilan diplomasi Indonesia dalam menembus pasar Uni Eropa dan Kanada melalui skema kerja sama ekonomi. Hasilnya, sejumlah komoditas unggulan seperti tekstil dan sepatu kini mendapatkan tarif nol persen, setelah sebelumnya menghadapi berbagai hambatan perdagangan.
Ia menilai, tanpa intervensi langsung di tingkat kepala negara, sektor manufaktur dalam negeri berisiko mengalami tekanan serius.
"Sepatu kita, tekstil kita yang tadinya terancam, sekarang kita punya pengalihan. Kalau saya tidak datang langsung ke Raja Belgia, Raja Belanda, atau pimpinan Uni Eropa, mungkin kita tidak akan tembus," urainya.
Lebih jauh, Prabowo menegaskan bahwa diplomasi saat ini telah bergeser menjadi instrumen geoekonomi. Kekuatan ekonomi, menurutnya, menjadi kunci utama dalam menentukan posisi suatu negara di kancah global.
“Kalau ekonomi kita kuat, kita tidak bisa dibentak-bentak,” tegasnya.
Ia juga menyoroti posisi strategis Indonesia sebagai negara dengan sumber daya alam melimpah yang menjadi perhatian berbagai kekuatan besar dunia. Oleh karena itu, hubungan dengan organisasi internasional seperti ASEAN, G20, dan OKI perlu terus diperkuat guna menjaga stabilitas dan kepentingan nasional.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.