Skip to main content
Iklan

Indonesia

Sejarah Al Quran 400 tahun di Gowa, ditulis pakai tinta biji mangga

Al Quran ini menjadi saksi bisu dari perjalanan Islam di Sulawesi Selatan dan kepiawaian ulama pada masa itu.

Sejarah Al Quran 400 tahun di Gowa, ditulis pakai tinta biji mangga
Al Quran berusia 400 tahun peninggalan Kerajaan Gowa di Museum Balla Lompoa Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. (Antara)
11 Mar 2025 11:30AM (Diperbarui: 11 Mar 2025 11:31AM)

JAKARTA: Sebuah Al Quran berusia 400 tahun masih tersimpan rapi di Museum Balla Lompoa, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

Kitab suci umat Muslim ini memiliki keunikan tersendiri karena ditulis menggunakan tinta berbahan biji mangga dan tanah liat, sebuah teknik langka yang menunjukkan keahlian para ulama di masa lampau.

KEUNIKAN DAN PROSES PEMBUATAN

Al Quran ini ditulis pada tahun 1625 dan merupakan peninggalan Raja Gowa ke-14, I Manga’rangi Daeng Manrabia, atau yang lebih dikenal sebagai Sultan Alauddin.

Ahli sejarah budaya dan keagamaan Istana Balla Lompoa, Andi Jufri Tenri Bali, dilansir dari iNews, menjelaskan bahwa tinta yang digunakan dalam penulisan Al Quran ini berasal dari biji mangga yang ditumbuk hingga halus, kemudian dicampur dengan tanah liat dan air.

Setelah melalui proses penyaringan, campuran ini menghasilkan tinta yang digunakan untuk menulis ayat-ayat suci.

Penulisan Al Quran tersebut menggunakan kertas khusus

Meskipun telah berusia empat abad, kondisi Al Quran ini masih terawat dengan baik, meskipun beberapa bagian kertasnya mulai menunjukkan tanda-tanda kerusakan akibat perjalanan waktu.

JEJAK SEJARAH ISLAM DI GOWA

Masuknya Islam ke Gowa terjadi pada 1603, ketika Sultan Alauddin memeluk agama Islam.

Pada masa itu, belum tersedia Al Quran sebagai pegangan utama, sehingga diperlukan upaya untuk menulis ulang kitab suci ini secara manual hingga mencapai 30 juz.

Penulisan Al Quran tersebut dipelopori oleh Syekh Abdullah Asufi, seorang ulama yang berperan penting dalam penyebaran Islam di Sulawesi Selatan.

Seiring dengan berkembangnya Islam, Kerajaan Gowa dan Tallo juga mulai membangun berbagai sarana keagamaan, termasuk masjid, untuk mendukung syiar Islam di wilayah tersebut.

"Setelah Kerajaan Gowa dan Tallo menerima Islam sebagai agama kerajaan, mereka mulai melakukan berbagai kegiatan dakwah. Pembuatan Al Quran ini menjadi bagian dari upaya tersebut, selain pembangunan masjid dan penyebaran risalah Islam," ujar Andi Jufri Tenri Bali.

Al Quran bersejarah ini bukan hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga saksi bisu dan simbol penting dari perjalanan Islam di Sulawesi Selatan.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ew

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan