Skip to main content
Iklan

Indonesia

Sebut banjir Sumatra hanya mencekam di medsos, Kepala BNPB Suharyanto minta maaf

Ucapan itu memantik kritik keras karena dinilai meremehkan kondisi korban yang terdampak banjir di Aceh, Sumut, dan Sumbar.

Sebut banjir Sumatra hanya mencekam di medsos, Kepala BNPB Suharyanto minta maaf
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen Suharyanto (Dok BNPB)

MEDAN: Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen Suharyanto akhirnya menyampaikan permintaan maaf setelah pernyataannya yang menyebut banjir bandang di Sumatra "tak mencekam" ramai dikritik publik di media sosial. 

Respons itu muncul setelah ia meninjau langsung kondisi lapangan di Tapanuli Selatan dan memantau dampak bencana dari helikopter.

Permintaan maaf itu disampaikan kepada Bupati Tapanuli Selatan, Gus Irawan Pasaribu, saat melihat kondisi bencana di desa Egaruga, Batang Toru.

“Saya surprise, saya tidak mengira sebesar ini. Saya mohon maaf Pak Bupati. Bukan berarti kami tak peduli,” ucap Suharyanto dilansir dari CNN Indonesia, Selasa (2/12).

Sebelumnya, Suharyanto menuai kecaman setelah menyebut bahwa situasi bencana terlihat mencekam “hanya di media sosial.” Ucapan itu memantik reaksi keras karena dinilai meremehkan kondisi korban yang terdampak banjir dan longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

ALASAN BUKAN BENCANA NASIONAL

Kontroversi ini muncul ketika dia ditanya mengapa pemerintah belum menetapkan status bencana nasional untuk tragedi banjir Sumatra. Banyak pihak mempertanyakan mengapa keputusan itu belum diambil meski jumlah korban dan kerusakan sangat besar.

Menanggapi desakan itu, Suharyanto menjelaskan bahwa penetapan bencana nasional memiliki standar yang sangat ketat. Dalam sejarah Indonesia, hanya Tsunami Aceh 2004 dan pandemi COVID-19 yang dikategorikan sebagai bencana nasional.

Ia menyebut keputusan ini mempertimbangkan perbandingan skala korban dan tingkat kesulitan akses. 

“Mungkin dari skala korban ya, kemudian juga kesulitan akses, rekan-rekan media bisa bandingkan saja dengan kejadian sekarang ini,” ujarnya.

Suharyanto juga mengungkap bahwa gambaran situasi di media sosial terkadang terlihat lebih dramatis dibanding kondisi saat ia meninjau langsung. 

“Memang kemarin kelihatannya mencekam ya, kan berseliweran di media sosial, gak bisa bertemu segala macam. Tapi begitu sampai ke sini sekarang rekan media hadir di lokasi dan tidak hujan,” urainya.

“Coba di Sumatra Utara yang kemarin kelihatannya mencekam, kan sekarang yang menjadi hal yang sangat serius tinggal Tapanuli Tengah,” imbuhnya.

Meski menuai kritik, BNPB memastikan seluruh upaya penanganan darurat tetap berjalan. Pemerintah memprioritaskan pembukaan akses, distribusi bantuan, pencarian korban, serta pemulihan infrastruktur dasar di tiga provinsi terdampak.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ew

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan