Skip to main content
Iklan

Indonesia

'Saya enggak tega': Mengapa pelaku usaha tak naikkan harga meski biaya melambung

Dari pangkas rambut Rp5.000 sampai nasi padang Rp12.000, beberapa pelaku usaha menolak menaikkan tarif di tengah kenaikan harga saat ini. Sementara, sebagian lainnya mengambil pilihan sulit dengan terpaksa menaikkan harga.  

'Saya enggak tega': Mengapa pelaku usaha tak naikkan harga meski biaya melambung

Sebuah tempat pangkas rambut yang mematok tarif Rp5.000 sekali potong, warung makan yang menjua sepiring nasi padang Rp12.000, dan toko yang menjual susu Rp12.000 per liter adalah sebagian pelaku usaha di Indonesia yang memilih tidak membebankan kenaikan biaya kepada konsumen. (Foto: CNA/Wisnu Agung Prasetyo)

BOGOR, Indonesia: Sekilas, Pangkas Rambut Pemuda terlihat seperti tempat pangkas yang akan dihindari banyak orang.

Terletak di pinggir jalanan yang sibuk di Bogor, pangkas rambut itu menempati sebuah gubuk reyot beratapkan seng yang seperti mau roboh.

Di dalamnya juga tidak ada pendingin udara.

Pelanggan dipangkas rambutnya di dua kursi cukur tua dengan sandaran yang rusak. Penerangannya hanya berasal dari jendela atap seadanya yang bocor kalau hujan turun dan beberapa lampu neon yang digantung di batang bambu.

Dindingnya dipenuhi hiasan wayang, poster model rambut yang telah memudar, dan stiker-stiker usang, beberapa sudah ada sejak tempat itu dibuka pada akhir 1980-an.

Meski begitu, sejak buka pukul 10 pagi, sekitar 30 hingga 50 pelanggan datang silih berganti.

Sebagian besar pelanggan datang karena keterampilan tangan sang tukang cukur dan tarifnya yang hanya Rp5.000 sekali potong, sepertiga dari tarif yang umumnya dipatok tempat cukur kelas pekerja dan sekitar sepersepuluh dari harga salon kelas menengah di Indonesia.

"Saya enggak tega menaikkan harga. Kalau bukan di sini, mereka mau potong rambut di mana?" kata pemilik sekaligus tukang cukur utama, Supriyanto, kepada CNA.

Ia tidak pernah menaikkan tarifnya selama puluhan tahun, terakhir kali pada 2008.

Supriyanto, 56, memangkas rambut seorang pelanggan di Pemuda Barbershop, Bogor, Jawa Barat, Indonesia. (Foto: CNA/Wisnu Agung Prasetyo)

Pangkas Rambut Pemuda adalah salah satu dari segelintir usaha di Indonesia yang memilih tidak membebankan kenaikan biaya kepada pelanggan. Padahal pelemahan nilai tukar rupiah dan melonjaknya harga-harga menekan keuntungan mereka yang sudah tipis dan memaksa pelaku usaha lain menaikkan harga.

Tempat-tempat usaha tersebut menjadi penopang kecil namun berarti di tengah perlambatan ekonomi, terutama bagi sekitar 23 juta warga yang hidup di bawah garis kemiskinan. Di Indonesia, penduduk miskin didefinisikan sebagai mereka yang berpenghasilan kurang dari Rp600.000 per bulan.

Di berbagai wilayah Indonesia, pelemahan nilai tukar rupiah telah mendongkrak harga barang impor. Sementara itu, konflik di Timur Tengah ikut memicu kenaikan harga energi yang kemudian berdampak pada biaya transportasi, pangan, dan berbagai kebutuhan lainnya.

Di tengah kondisi tersebut, sebagian pelaku usaha seperti Supriyanto tetap memilih mempertahankan harga. Namun, sejumlah pedagang makanan yang diwawancarai CNA mengaku terpaksa menaikkan harga dalam beberapa bulan terakhir karena harga bahan baku dan bahan bakar terus merangkak naik.

Kenaikan biaya energi dan bahan baku juga membebani sektor manufaktur. Akibatnya, puluhan pabrik tutup dan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) pun terjadi.

Data Kementerian Ketenagakerjaan menunjukkan lebih dari 43.000 orang kehilangan pekerjaan sepanjang Januari hingga Juni tahun ini, meningkat 34 persen dibandingkan periode yang sama pada 2024.

Meski demikian, para ekonom mengingatkan angka tersebut belum menggambarkan kondisi sebenarnya. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), hampir 60 persen tenaga kerja di Indonesia bekerja di sektor informal, yang tidak tercakup dalam pemantauan Kementerian Ketenagakerjaan.

"Artinya, jumlah sebenarnya kemungkinan jauh lebih besar karena tidak semua kehilangan pekerjaan tercatat," kata ekonom Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Jakarta Achmad Nur Hidayat kepada CNA.

Inflasi tahunan Indonesia pada Juni meningkat menjadi 3,34 persen. Meski begitu, ada sedikit kabar baik.

Harga pangan turun selama libur sekolah tahun ini karena pasokan yang semula dialokasikan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) membanjiri pasar.

Program yang menjadi salah satu andalan Presiden Prabowo Subianto itu menargetkan penyediaan satu kali makan gratis setiap hari bagi jutaan siswa di seluruh Indonesia, dengan anggaran sekitar Rp1 triliun per hari.

Pemerintah juga menggelontorkan paket stimulus senilai Rp26,3 triliun untuk paruh kedua 2026 yang mencakup bantuan pangan, insentif transportasi, dan program padat karya sementara. Namun, para ekonom mempertanyakan apakah stimulus tersebut cukup untuk melindungi daya beli masyarakat dari dampak ekonomi konflik di Timur Tengah.

Bagi Supriyanto, kesulitan yang dihadapi para pelanggannya menjadi alasan yang cukup untuk mempertahankan tarif yang sudah berlaku hampir dua dekade.

"Rp5.000 mungkin terdengar kecil, tapi bagi pekerja informal dan mereka yang penghasilannya di bawah upah minimum, itu uang yang besar," ujarnya. 

"Apalagi dalam kondisi ekonomi sekarang, ketika harga-harga terus naik, sementara penghasilan orang tetap."

HARGA MELAMBUNG

Dibandingkan banyak usaha kecil lainnya, Supriyanto mengaku masih beruntung karena dua pengeluaran terbesarnya—biaya sewa tempat sebesar Rp2 juta per bulan dan sekitar Rp1 juta untuk membayar tukang cukur lepas—nyaris tidak berubah.

Meski begitu, ia tetap harus lebih berhemat.

"Kami harus lebih berhemat di masa seperti ini. Kurangi makan ayam, lebih banyak makan telur," ujar Supriyanto sambil tersenyum pahit.

Namun, banyak pelaku usaha lain di Indonesia tidak seberuntung itu.

Di Indonesia, tekanan global seperti konflik di Timur Tengah diperparah oleh pelemahan nilai tukar rupiah, yang telah kehilangan hingga 7,8 persen nilainya terhadap dolar AS dalam setahun terakhir. 

Pada 8 Juni, kurs rupiah sempat menyentuh rekor terendah di level Rp18.190 per dolar AS, jauh lebih lemah dibanding asumsi nilai tukar dalam APBN 2026 sebesar Rp16.500 per dolar.

Berdasarkan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Bank Indonesia, harga minyak goreng naik dari sekitar Rp19.000 per kilogram sebelum konflik AS-Iran memanas pada akhir Februari menjadi sekitar Rp20.500 per kilogram saat ini.

Dalam periode yang sama, harga cabai merah naik dari Rp46.500 menjadi Rp51.000 per kilogram, sedangkan harga kedelai melonjak dari sekitar Rp9.000 menjadi Rp13.000 per kilogram.

Seorang pelanggan memeriksa kualitas beras di pasar grosir di Jakarta, Indonesia, 22 September 2025. (Foto: Reuters/Willy Kurniawan)

Bagi Susilowati, pemilik usaha katering di Jakarta, lonjakan harga bahan baku membuatnya nyaris tak punya pilihan selain menaikkan harga hingga 10 persen.

"Itu keputusan yang berat. Awalnya kami berusaha mempertahankan harga, tetapi lama-kelamaan kami sadar pilihannya hanya dua: menaikkan harga atau memakai bahan yang lebih murah, yang tentu akan memengaruhi kualitas makanan. Kami akhirnya memilih menaikkan harga," kata perempuan berusia 60 tahun itu kepada CNA.

Hal serupa dilakukan pedagang sate Mulyadi. Kini ia mengenakan tambahan Rp1.000 untuk setiap menu yang dijualnya. Harga sate ayam kini Rp25.000 per porsi, sedangkan sate kambing Rp29.000.

"Enggak ada pilihan lain. Sekarang semua serba mahal," kata pria berusia 46 tahun itu sambil menjaga bara arang di depan warung tendanya di Jakarta Pusat. 

"Tentu banyak pelanggan lama yang mengeluh. Tapi kalau harga nggak naik, kami malah rugi."

Namun, tidak semua pelaku usaha memilih membebankan kenaikan biaya kepada pelanggan.

Feby Aulia, yang berjualan makanan di bagian belakang mobil van yang diparkir di pinggir jalan di Bogor, memilih mendapat keuntungan yang lebih tipis demi mempertahankan harga sepiring nasi beserta lauk di Rp12.000, tidak berubah sejak 2022.

Pekerja di warung makan Duo Putri di Bogor, Jawa Barat, menyiapkan seporsi makanan yang dijual seharga Rp12.000, harga yang tidak berubah sejak 2022. (Foto: CNA/Wisnu Agung Prasetyo)

Warung Duo Putri milik Feby menjual nasi Padang, hidangan khas Sumatra Barat yang dikenal dengan pilihan lauk daging, ikan, atau sayuran berbumbu kaya rempah, serta aneka gulai, sambal, dan kuah pendamping nasi.

Dengan harga tersebut, porsi yang disajikan Feby tentu lebih kecil dibandingkan rumah makan Padang pada umumnya. Irisan daging rendahnya lebih tipis, sedangkan gulai ayam menggunakan potongan yang lebih kecil seperti paha bawah dan sayap, bukan dada.

Pelanggan juga tetap bisa membeli tambahan seperti kerupuk atau lauk ekstra dengan harga yang sama seperti pada 2022.

"Banyak orang mengandalkan kami untuk makan dengan harga terjangkau karena hampir semua tempat di sekitar sini sudah menaikkan harga atau mengurangi porsi," ujarnya. 

"Kami memutuskan tidak melakukan keduanya. Orang yang makan di sini tetap mendapat porsi yang sama, lengkap dengan kuah santan seperti nasi Padang pada umumnya."

Feby Aulia, pemilik warung makan Duo Putri, tetap mempertahankan harga terjangkau meski biaya usaha terus meningkat. (Foto: CNA/Wisnu Agung Prasetyo)

Keputusan itu membuat warungnya menjadi salah satu tujuan makan siang paling ramai di kawasan tersebut. Setiap hari kerja, pegawai sebuah pusat perbelanjaan di dekat lokasi dan karyawan dari gedung-gedung perkantoran sekitar sudah mengantre bahkan sebelum warung buka pada pukul 11.00 WIB.

Menjelang pukul 13.00 WIB, seluruh menu biasanya sudah habis terjual.

"Syukurlah, keputusan kami tidak menaikkan harga justru membuat pelanggan bertambah. Itu sangat membantu kami tetap memperoleh keuntungan," katanya, seraya menambahkan bahwa peningkatan jumlah pelanggan telah mendongkrak laba usahanya.

Pelanggan mengantre membeli makanan di warung Duo Putri di Bogor, Jawa Barat. (Foto: CNA/Wisnu Agung Prasetyo)

ENTAH SAMPAI KAPAN

Namun, masih belum jelas sampai kapan usaha seperti Pemuda Barbershop dan Warung Duo Putri mampu mempertahankan harga mereka.

Bulan lalu, AS dan Iran menandatangani kesepakatan sementara berisi 14 poin yang bertujuan menghentikan konflik di Timur Tengah dan membuka kembali Selat Hormuz, jalur perairan sempit yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Kesepakatan itu membuka jalan bagi perundingan menuju perdamaian permanen sekaligus membantu menstabilkan harga. Namun, gencatan senjata tersebut masih rapuh, dengan bentrokan sporadis yang terus terjadi.

Sementara itu, nilai tukar rupiah masih belum menunjukkan tanda-tanda menguat terhadap dolar AS, sehingga biaya produksi tetap tinggi bagi pelaku usaha di Indonesia yang bergantung pada bahan baku impor.

"Harga pakan ternak, suplemen, dan vitamin melonjak tajam sehingga para peternak terpaksa menaikkan harga jual susu kepada pedagang seperti kami," kata Koharuddin, 67, yang menjual susu segar dari rumah satu lantainya di pinggiran Jakarta, kepada CNA.

Dengan harga Rp12.000 per kantong plastik ukuran 1 liter, susu yang dijualnya hanya sekitar setengah dari harga merek-merek ternama. 

Ia sebenarnya masih bisa bersaing jika menaikkan harga. Namun, banyak pelanggannya bergantung pada susu tersebut sebagai sumber kalsium yang terjangkau.

Koharuddin tetap mempertahankan harga susu segarnya Rp12.000 per liter selama lima tahun terakhir. (Foto: CNA/Wisnu Agung Prasetyo)

Alasan lain ia tetap mempertahankan harga selama lima tahun terakhir adalah karena susu segar masih dianggap sebagai kebutuhan yang tidak wajib oleh banyak keluarga di Indonesia. Kenaikan harga dikhawatirkan akan semakin menekan permintaan, terutama ketika daya beli masyarakat melemah.

"Saya lebih memilih menjual susu dengan harga murah dan mendapat untung sedikit daripada tidak laku dan akhirnya terbuang," kata Koharuddin kepada CNA.

Pemerintah berupaya menstabilkan nilai tukar rupiah melalui kenaikan suku bunga serta meredam dampak kenaikan harga lewat paket stimulus. Namun, para ekonom menilai masih diperlukan langkah lebih jauh untuk memulihkan kepercayaan investor.

"Pemerintah perlu memberikan kepastian kebijakan dan memperbaiki kemudahan berusaha agar lebih banyak investasi yang menciptakan lapangan kerja masuk ke Indonesia," kata Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira kepada CNA.

MASA DEPAN YANG PENUH KETIDAKPASTIAN

Meski kenaikan harga belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti, Feby pemilik Warung Duo Putri mengatakan akan terus mempertahankan harga selama masih memungkinkan.

"Selama kami masih mendapat keuntungan dan tidak merugi, harga akan tetap kami pertahankan," ujarnya.

Berjualan menggunakan mobil membantu menekan biaya operasional. Ia hanya membayar iuran kebersihan dan sewa sederhana untuk lahan parkir yang ditempatinya, jauh lebih murah dibandingkan menyewa ruko atau tempat usaha permanen.

Namun, pola usaha itu juga memiliki risiko. Perubahan aturan daerah atau tata ruang bisa memaksanya pindah lokasi dan berpotensi membuatnya kehilangan pelanggan setia yang selama ini menopang usahanya.

Sementara itu, Supriyanto menghadapi ketidakpastian yang berbeda.

Pemilik lahan seluas 100 meter persegi tempat Pangkas Rambut Pemuda berdiri telah memasangnya untuk dijual, seiring kawasan yang dulunya biasa saja kini semakin bernilai.

Jika lahan itu berpindah tangan, Supriyanto kemungkinan harus meninggalkan gubuk yang telah menjadi tempat usahanya selama puluhan tahun.

Pelanggan mengantre untuk memangkas rambut di Pemuda Barbershop, Bogor, Jawa Barat. (Foto: CNA/Wisnu Agung Prasetyo)

Apa pun yang terjadi, Supriyanto mengatakan tidak berniat meninggalkan para pelanggan yang telah membesarkan usahanya.

Saat merantau dari Jawa Tengah ke Bogor untuk membuka usaha pangkas rambut pertamanya pada 1988, ia bercita-cita melayani pelanggan kalangan menengah.

Saat itu, tempat cukurnya dilengkapi pendingin ruangan, minuman gratis, pijat kepala, dan berbagai fasilitas lain. Tarif potong rambutnya Rp2.500, harga yang wajar untuk barbershop kelas menengah pada masa itu.

"Namun kemudian saya sadar, biaya satu kali potong rambut di tempat saya sama dengan uang yang dipakai sebagian keluarga untuk makan seharian," ujarnya. "Sejak saat itu saya memutuskan ingin melayani masyarakat pekerja biasa."

Hampir empat dekade kemudian, prinsip itu tetap tidak berubah.

"Kalau saya masih bisa mencari nafkah dengan jujur sambil membantu orang menghemat sedikit uang, itu sudah cukup bagi saya," kata Supriyanto sambil tersenyum.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan