Sastra akan masuk Kurikulum Merdeka mulai tahun ajaran baru
Kemendikbudristek merekomendasikan 177 judul buku sastra termasuk novel, cerita pendek, puisi, dan non-fiksi untuk mendukung implementasi penerapan sastra di Kurikulum Merdeka.
JAKARTA: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) merencanakan memasukan sastra ke dalam kurikulum sekolah.
Langkah ini diambil dengan tujuan memberikan ruang bagi karya sastra untuk memperkaya pengalaman siswa dalam meningkatkan empati dan kreativitas.
Rencananya, program ini akan mulai diterapkan pada bulan Juli atau Agustus mendatang, khususnya di sekolah yang telah menerapkan Kurikulum Merdeka.
Sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 12 Tahun 2024, Kurikulum Merdeka bertujuan untuk memperkuat kompetensi dan budaya literasi membaca di kalangan siswa.
Anindito Aditomo, Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP), menekankan pentingnya keterampilan membaca yang mendalam bagi siswa.
Anindito mendorong agar siswa tidak sekadar membaca, tetapi juga memahami secara menyeluruh apa yang mereka baca.
"Bagaimana bisa belajar jika kita tidak bisa mengerti apa yang telah kita baca? Jadi kemampuan, kesenangan untuk mencerna, melayati, memproses, mensintesis informasi yang kita baca merupakan dasar dari proses pembelajaran yang lebih lanjut," ucap Anindito dilansir detikNews di Kompleks Kemendikbudristek, Senin (20 Mei).
Rencananya sastra akan diajarkan melalui bentuk co-kurikuler di sekolah.
Sastra akan dimasukkan ke dalam jadwal pelajaran, bukan sebagai kegiatan ekstrakurikuler.
Mata pelajaran seperti bahasa Indonesia menjadi salah satu mata pelajaran yang dapat mengimplementasikannya. Tidak ketinggalan adalah Project Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5).
Berbeda dengan jenis buku lainnya, sastra memiliki potensi untuk menyajikan isu-isu kompleks melalui cerita. Karakter-karakter dalam karya sastra dapat membuka sudut pandang baru bagi pelajar.
Dalam pelaksanaannya, Kemendikbud akan menyediakan panduan penggunaan buku sastra yang direkomendasikan.
Ada 177 judul buku sastra termasuk novel, cerita pendek, puisi, dan non-fiksi yang telah dipersiapkan Kemendikbudristek untuk mendukung pembelajaran di sekolah.
Terdapat 43 judul untuk SD, 29 judul untuk SMP, dan 105 judul untuk SMA, yang semuanya melalui proses kurasi selama satu tahun.
Dilansir Antara, Anindito menjelaskan bahwa semua mata pelajaran harus memasukkan karya sastra sebagai sumber informasi bagi siswa.
Sebagai contoh, seorang guru sejarah dapat memilih karya sastra yang relevan saat mengajar mengenai hubungan internasional, untuk memancing minat siswa terhadap topik tersebut.
"Misal, dalam periode perang kemerdekaan Indonesia, siswa dapat mengeksplorasi melalui karya sastra untuk lebih mendalam memahami era kolonial tersebut. Hal ini jauh lebih menarik daripada sekadar menghafal nama-nama tokoh," jelasnya.
Minat baca di Indonesia sendiri masih tergolong rendah. Studi dari Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) menunjukkan bahwa kemampuan literasi siswa Indonesia masih di bawah rata-rata dibandingkan dengan negara-negara anggota OECD lainnya.
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel CNA.id dengan klik tautan ini.