Rosan: Indonesia di jalur tepat kejar target investasi; Danantara minat gandeng Temasek dan Khazanah
Pada CNA Summit yang digelar di Jakarta pada Kamis (5/2), Menteri Rosan menyerukan peningkatan kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan investor asing.
Menteri Investasi dan Industri Hulu Indonesia, Rosan Perkasa Roeslani, berbicara di CNA Summit 2026 di Jakarta, Indonesia pada 5 Februari 2026. (Foto: CNA)
JAKARTA: Indonesia berada di "jalur yang tepat" untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi dan menarik lebih banyak investasi, kata Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Perkasa Roeslani. Negara, imbuh Rosan, juga siap bekerja sama dengan Temasek (Singapura) dan Khazanah (Malaysia) untuk bersama-sama berinvestasi di Asia Tenggara.
“Menyongsong pertumbuhan ekonomi 8 persen, kami yakin berada di jalur yang tepat namun perlu mempercepat pelaksanaannya,” ujarnya pada Kamis (5/2), menyoroti capaian investasi US$120 miliar tahun lalu yang melampaui target nasional, sembari mendorong kolaborasi lebih erat antara pemerintah, swasta, dan investor asing.
Pernyataan itu disampaikan Rosan, yang juga menjabat Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dan CEO Danantara, pada CNA Summit 2026 yang digelar di Ritz-Carlton, Pacific Place, Jakarta.
Ini adalah pertama kalinya forum bergengsi CNA itu digelar di luar Singapura sejak diluncurkan pada 2020. Acara ini mempertemukan para pemimpin institusi investasi besar di kawasan, termasuk Temasek, Danantara Indonesia, dan Khazanah Nasional.
Untuk mencapai target pertumbuhan 8 persen yang ditetapkan Presiden Prabowo Subianto pada akhir masa jabatan pertamanya, Indonesia membutuhkan investasi US$800 miliar hingga 2029, yang menurut Rosan meningkat sekitar 40 persen dari dekade lalu yang mencatat investasi US$500 miliar antara 2014–2024.
“Di Indonesia, kita punya banyak potensi, tetapi menurut saya yang terpenting untuk investasi berkualitas adalah menciptakan lebih banyak lapangan kerja — itu kuncinya, karena sumber daya manusia adalah kunci jika kita ingin punya pertumbuhan yang lebih berkelanjutan,” katanya.
“Setiap tahun, sekitar 2 juta bayi lahir (di Indonesia). Jadi setiap tiga tahun, (kami bisa) menghasilkan satu Singapura,” tambah Rosan, seraya menekankan bahwa Indonesia tidak hanya membutuhkan “investasi berkualitas … tetapi juga lapangan kerja berkualitas”.
“Jika berbicara soal potensi di Indonesia, saya rasa potensinya sejalan dengan kualitas investasi di seluruh dunia.”
Populasi Singapura diperkirakan mencapai 6,11 juta jiwa per Juni 2025.
Rosan juga membahas potensi Indonesia di energi terbarukan dan ekonomi digital, dengan menyatakan pemerintah siap menarik lebih banyak investasi pusat data, khususnya di Batam.
Selain penciptaan lapangan kerja, Rosan menekankan pentingnya memperbaiki iklim investasi Indonesia melalui penyederhanaan regulasi serta memastikan konsistensi dan kepastian kebijakan, yang selama ini kerap dikeluhkan investor asing.
“Apa yang mereka inginkan untuk berinvestasi di Indonesia adalah kepastian. Mereka tahu bahwa ketika berinvestasi, itu merupakan komitmen jangka panjang dan selalu ada risiko … sehingga kepastian menjadi sangat penting,” kata Rosan dalam sesi diskusi setelah menyampaikan pidato kuncinya.
Rosan juga menyinggung peran Danantara dalam mengonsolidasikan aset badan usaha milik negara (BUMN), seraya menyatakan minat untuk bermitra dengan sesama lembaga investasi negara di kawasan ASEAN seperti Temasek dan Khazanah.
Danantara diluncurkan pada Februari 2025 dan kini mengelola total aset sekitar US$900 miliar menurut IDN Financials pada Januari tahun ini.
“Saya pikir inilah saatnya kita memiliki kolaborasi yang lebih kuat di antara negara-negara ASEAN, tidak hanya dari sisi perdagangan tetapi juga investasi … Masih ada potensi yang belum tergarap yang bisa kita kerjakan bersama untuk mencapai seluruh tujuan,” ujarnya.
“Kita bisa saling melengkapi dan saling belajar, sehingga bagi Indonesia, kita benar-benar terbuka untuk berbisnis.”
CNA Summit tahun ini, yang mengusung tema “Smart Growth: Navigating Investment and Innovation in a New Era”, membahas tekanan yang dihadapi para pemimpin saat ini, termasuk pergeseran geopolitik dan arus modal, adopsi cepat teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI), serta meningkatnya ekspektasi terhadap pertumbuhan yang inklusif.
Edisi-edisi sebelumnya dari CNA summit telah mengeksplorasi beragam tema, mulai dari ekonomi digital dan kesehatan mental hingga pemulihan hijau dan kompromi kepemimpinan.
PANDANGAN BOS TEMASEK DAN KHAZANAH
Dalam sesi diskusi yang dimoderatori presenter CNA Elizabeth Neo, Chief Investment Officer Temasek Rohit Sipahimalani menyoroti pentingnya perspektif jangka panjang dalam berinvestasi, seraya mencatat bahwa tingkat ketidakpastian diperkirakan bertahan dalam beberapa tahun ke depan pada level yang belum pernah terjadi dalam 40 tahun terakhir.
Menurutnya, kondisi tersebut didorong oleh geopolitik, meningkatnya nasionalisme, proteksionisme, serta kecerdasan buatan yang bisa menjadi peluang besar namun juga bersifat disruptif bagi sejumlah perusahaan.
Rohit mengungkapkan bahwa bagi Temasek, 60 persen portofolio investasinya berada di bisnis yang dinilai tangguh.
Dia menjelaskan bahwa bisnis yang dimaksud adalah bisnis dengan “rentang hasil yang sempit”. Menurut Rohit, kategori ini mencakup perusahaan dengan akses ke pasar domestik besar, kemandirian dalam rantai pasok teknologi, likuiditas yang kuat, tingkat utang rendah, serta tingkat ketidakpastian yang relatif kecil dibandingkan bisnis berbasis kecerdasan buatan (AI).
“Lingkungannya memang sulit dinavigasi, tetapi jika Anda memiliki pendekatan yang tangguh, pendekatan untuk menghadapi hal-hal yang penuh ketidakpastian, serta fleksibilitas untuk beradaptasi, saya pikir Anda bisa melewati situasi ini,” ujarnya.
Per 31 Maret tahun lalu, nilai portofolio bersih Temasek tercatat sebesar S$434 miliar.
Dalam sesi diskusi lainnya, Chief Investment Officer Khazanah Nasional Hisham Hamdan mengatakan bahwa meskipun pertumbuhan ekonomi di negara-negara seperti Malaysia cukup kuat, imbal hasil pasar modal justru tertinggal. Ia pun menyerukan perlunya ekonomi yang lebih terdiversifikasi.
Hisham mengungkapkan kekhawatiran Malaysia berpotensi menjadi “ekonomi hotel”, di mana aktivitas ekonomi terjadi di dalam negeri tetapi sebagian besar nilai tambahnya justru dinikmati di luar negeri. Ia mencontohkan platform perjalanan global seperti Booking.com dan Trip.com.
“Kami ingin menangkap sebagian besar nilai dari transaksi yang terjadi di sini (di Malaysia),” kata Hisham.
“Di sinilah mungkin Khazanah, bersama rekan-rekan kami di Danantara dan Temasek, dapat tumbuh bersama.”
Terkait geopolitik, Hisham mengatakan pendekatan Malaysia terhadap Amerika Serikat dan China bukan bersifat "memilih salah satu", melainkan menjalin hubungan dengan keduanya.
Ia mencatat bahwa AS merupakan investor terbesar Malaysia, sementara China adalah pasar ekspor terbesar negara tersebut.
Khazanah Malaysia mengelola aset sekitar US$40 miliar, menurut laporan media lokal.
PASAR KONSUMEN YANG MENARIK DAN PERUBAHAN IKLIM AI
Dalam diskusi panel pada gelaran CNA Summit di Jakarta ini, sejumlah pemimpin bisnis menyatakan keyakinan terhadap potensi investasi jangka panjang Indonesia meski menghadapi tekanan di dalam negeri dan global serta fluktuasi pasar.
Hans Patuwo, Group CEO GoTo Group yang merupakan ekosistem digital terbesar di Indonesia, menegaskan bahwa “etos” fundamental Indonesia tetap tidak berubah, didukung oleh pasar konsumen yang secara konsisten menarik, meski sempat muncul gejolak di bursa saham dalam beberapa hari terakhir.
Pekan lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok tajam, turun lebih dari 8 persen pada Rabu dan Kamis, memicu penghentian perdagangan berulang kali dan menghapus nilai pasar yang signifikan.
Hal ini terjadi setelah indeks MSCI menyuarakan kekhawatiran terkait kelayakan investasi serta potensi penurunan status Indonesia menjadi pasar frontier.
Saat ditanya mengenai langkah untuk memulihkan harga saham GoTo ke level penawaran umum perdana (IPO) awal, Patuwo menyebut perlunya memahami dan meninjau ulang kontrak sosial perusahaan dengan publik, karena “ketika para pengemudi dan mitra kami sejahtera, maka kami juga sejahtera”.
Ia menambahkan bahwa peningkatan kepercayaan investor menjadi hal yang krusial, serta transparansi dan konsistensi merupakan kunci, mengingat investor saat ini “sangat kompleks”.
“Mereka akan menilai sendiri apakah kami layak menjadi pilihan investasi dan bagaimana dampaknya terhadap harga saham,” kata Patuwo.
Ia juga mencatat bahwa sifat bisnis telah bergeser di era kecerdasan buatan, sehingga menuntut fokus pada kecepatan yang berpadu dengan arah tujuan, bukan sekadar kecepatan. Ia juga menambahkan bahwa GoTo telah membangun “kekuatan teknologi yang memadai” dalam beberapa tahun terakhir untuk mengakali para scammer.
CEO Singtel Singapore Ng Tian Chong menggemakan pandangan tersebut mengenai kuatnya basis konsumen Indonesia. Ia menepis gejolak pasar belakangan ini sebagai sesuatu yang “sementara”, seraya menyoroti demografi Indonesia sebagai motor utama.
“Peluang jangka menengah hingga panjang masih ada. Pasar tengah mengalami perbaikan di sejumlah industri, khususnya seperti industri kami, dan itu merupakan tanda-tanda positif yang patut dipertahankan,” ujarnya, seraya menyinggung Singtel adalah pemegang saham minoritas terbesar dengan kepemilikan jangka panjang di perusahaan telekomunikasi Indonesia, Telkomsel.
Aileen Goh, country manager Mastercard untuk Indonesia dan Timor-Leste, menambahkan bahwa “tidak ada keraguan Indonesia akan menjadi kekuatan besar dalam ekonomi digital”.
“Sebagai perusahaan teknologi, kami hadir untuk jangka panjang. Pandangan Mastercard sejak awal adalah mengikuti visi pemerintah dan bergerak bersama industri untuk memperluas visi tersebut, sekaligus membangun talenta guna menopangnya,” ujarnya.
Para panelis juga berbagi pandangan mengenai upaya mempercepat kemajuan perusahaan mereka menjelang satu abad Indonesia pada 2045, dengan fokus pada kesiapan ekonomi digital, alur kerja berbasis kecerdasan buatan, serta potensi risikonya.
Sebagai contoh, Ng mengatakan Singtel telah memanfaatkan AI dan pembelajaran mesin sambil bekerja sama dengan regulator untuk memerangi penipuan melalui telepon, meski pelaku kejahatan terus “mengubah modus operandi” mereka. Ia menambahkan bahwa Singtel memblokir sekitar 10 juta panggilan dan pesan penipuan setiap bulan.
MASA PENUH AMBISI
Dalam sambutan pembuka CNA Summit, CEO Mediacorp Tham Loke Kheng menekankan pentingnya misi CNA untuk membantu dunia memahami Asia, sekaligus memperkuat kepercayaan para pemimpin, investor, dan pembuat kebijakan di Indonesia.
Upaya tersebut antara lain diwujudkan melalui peluncuran situs CNA berbahasa Indonesia pada April 2024 untuk menjangkau audiens Indonesia yang lebih luas. CNA.id kini mencatat sekitar 1,5 juta pembaca per bulan.
“Kita juga tengah berada pada masa penuh ambisi dan pembaruan strategis di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, yang gaungnya terasa kuat di seluruh kawasan,” kata Tham.
“Lingkungan yang sarat peluang namun dibentuk oleh kompleksitas inilah yang menjadi alasan kami memilih 'pertumbuhan cerdas' sebagai fokus hari ini,” tambahnya, seraya menyoroti latar belakang ketegangan geopolitik, laju teknologi kecerdasan buatan yang pesat, serta iklim permodalan yang semakin ketat.
CNA Summit di Jakarta dihadiri sekitar 350 peserta, termasuk pembuat kebijakan, pemimpin bisnis, dan akademisi dari berbagai negara di kawasan.
Anggota DPRD DKI Jakarta Wa Ode Herlina mengatakan diskusi yang berlangsung dalam CNA Summit sejalan dengan kepentingan nasional Indonesia dan membantu mengangkat kebutuhan lokal Jakarta.
“Melalui acara ini, kami berharap investasi dapat tumbuh dan berkembang, khususnya investasi lokal di Jakarta, terutama bagi investor pemula dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Masih banyak pelaku UMKM di Jakarta yang membutuhkan dukungan,” ujarnya kepada CNA.
Analis senior dari KRA Group, Muhammad Alif Alauddin, mengatakan ia menghadiri summit tersebut untuk menyimak perspektif dari Malaysia dan Singapura, “karena Danantara masih sangat, sangat baru bagi kami (baru dibentuk setahun lalu)”.
“Saya terutama ingin belajar dari pengalaman Khazanah dan Temasek — bagaimana mereka berinteraksi dengan investor global untuk mendukung pasar domestik sekaligus pasar luar negeri,” kata Alif.
Laporan tambahan oleh Neo Chai Chin dan Asyraf Kamil.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.